Cahaya pagi menyapu ruangan, melalui celah gorden ... saat matahari terbit dari kejauhan. Mata Berlian bergerak dari pintu kamar yang terbuka, ke perutnya yang mana terdapat sebuah lengan bertato yang memeluknya.
Pagi tadi, Louis datang mengunjunginya. Pria itu nampaknya sangat kelelahan sehingga, terlelap dengan cepat setelah sampai di rumah Berlian.
Pelan-pelan Berlian mengangkat lengan Louis dari atas perutnya dan menggeliat keluar karena berat badannya. Louis mengerang dalam tidurnya, tapi untungnya dia tidak bangun dan langsung memeluk guling.
Berlian pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh wajahnya hingga terasa segar. Kemudian dia pergi ke dapur untuk membuat teh hangat dan sarapan pagi.
Berdiri cukup lama di depan kulkas yang sudah dibuka pintunya. Dia mengamati satu persatu bahan masakan yang ada di dalam sana.
Tidak tahu harus memulai dari mana, Berlian kembali menutup pintu kulkas dan membuat teh hangat di sebuah teko tanah liat kuno milik mendiang sang nenek.
Entah kenapa, Berlian selalu merasa ... jika menyeduh teh di dalam teko itu dan diminum menggunakan gelas kecil yang juga terbuat dari tanah liat, rasanya akan berbeda dibandingkan menyeduhnya di cangkir biasa.
Menambahkan sedikit madu dan susu pada tehnya, Berlian tersenyum sambil menghirup uap panas yang keluar pada saat dia menuangkan tehnya dari teko ke dalam gelas.
Bahagianya cukup sederhana. Dengan mengingat mendiang sang nenek, hatinya seketika menghangat.
Suara dering ponsel membuat Berlian mengangkat wajahnya dan beralih pada benda pipih di atas meja ruang tengah. Ponsel milik Louis berdering. Dia melongok ke dalam kamar, pria itu masih terlelap dalam mimpi.
Diambilnya ponsel milik Louis yang masih berdering dan memunculkan nama 'Joy' di layar. Berlian ragu untuk membangunkan sang pemilik ponsel. Akhirnya dia kembali meletakkan benda pipih itu ke atas meja dan kembali ke dapur untuk mengambil tehnya.
"Selamat pagi, Berlian." Suara serak khas bangun tidur membuat Berlian menoleh ke arah pintu kamar.
Louis sedang berdiri di ambang pintu sembari mengusap matanya. Kemudian berjalan ke ruang tengah untuk mengambil ponselnya. Dia mendesah sebentar sebelum menerima panggilan dan pergi ke teras depan.
Berlian meletakkan teko dan satu gelas kosong di atas meja makan selagi menunggu Louis selesai menerima panggilan. Dia menyesap teh hangatnya pelan-pelan. Tubuhnya menghangat dan menjadi rileks.
"Maaf, ya. Tadi aku langsung tidur, nggak sempat ngobrol sama kamu," ucap Louis yang melangkah masuk dan menutup pintu depan. Dia berjalan ke dapur untuk membasuh wajah dan berkumur dengan cairan pencuci mulut, kemudian bergabung bersama Berlian di ruang makan. "Apa ini?" Dia menunjuk teko tanah liat kuno.
"Teko." Mendengar jawaban Berlian, pria itu memutar matanya dan membuat Berlian terkikik. "Teh. Aku kasih sedikit madu dan susu sebagai campurannya." Berlian menuangkan teh ke dalam gelas kosong yang diberikannya pada Louis.
Menghirup aromanya sebentar, sebelum menyesapnya peralahan. "Enak," ucap Louis sambil meletakkan gelasnya ke atas meja. "Pakai teh apa? Rasanya beda dari teh biasanya yang sering kuminum."
"Teh sangrai. Gimana rasa tehnya?"
"Rasanya lebih pekat. Walau ada campuran susu dan madu, tetap nggak menghilangkan rasa asli dari tehnya."
"Tentu. Ini teh kesukaanku. Mendiang nenekku yang membuat teh ini."
"Waw. Gimana cara membuatnya? Aku baru dengar. Apa Namanya? Teh Shanghai?"
Berlian terkekeh. "Sangrai bukan Shanghai." Louis ikut terkekeh bersamanya. "Proses pembuatannya cukup panjang. Aku nggak bisa kasih tau kamu, karena ini rahasia dapur nenekku. Kalau kamu mau, harus beli resepnya sama aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
