"Harus aku bilang berapa kali, kalau aku nggak suka diatur dan diberi perintah, Geva?" Berlian bangkit dari kursinya dan mendelik sebal pada Geva yang cukup terkejut.
Pria itu tidak mengira respon Berlian akan semarah sekarang ini. "Kamu bahkan bukan suami, maupun pacarku. Bagian mana yang kamu nggak ngerti dari 'aku nggak sudka diatur dan diberi perintah'? Huh?"
"Aku berangkat kerja sekarang." Geva berlalu meninggalkan ruang makan. Meraih tas laptopnya yang sudah dia siapkan di atas sofa, kemudian berhenti pada saat hendak membuka pintu. "Akan kukembalikan mobilmu ke Niko," ujarnya tanpa menoleh lagi.
"Geva!" Pria itu sudah menutup pintu unitnya dengan kasar. Berlian Kembali duduk di kursi makan, menghabiskan sisa susu di gelasnya dan dia memijit pelipisnya sembari merenung. Menyesali perkataannya barusan.
Wanita itu memang seringkali menyesali apa yang dia katakan dalam kondisi kesal. Kebiasaan buruknya adalah, dia selalu mengeluarkan kata-kata yang terlintas pada saat marah tanpa menyaringnya ataupun memikirkannya lagi sebelum mengucapkannya.
Setelah puas merenung dan menyesali perkataannya tadi, Berlian mencuci gelas serta piring kotornya tadi. Lalu dia melakukan pekerjaan rumah lainnya, seperti menyapu, mengepel dan mencuci. Benar, mencuci. Pakaian Geva sudah menumpuk di dalam mesin cucinya.
Sembari menunggu pakaian-pakaian Geva kering, Berlian menonton televisi. Tayangan berita kali ini menayangkan artis Ibukota yang tengah terlibat skandal dengan artis lainnya.
Berlian mendesah, malas dan bosan melihat serta mendengar berita yang itu-itu saja. Kebanyakan artis sengaja membuat sensasi untuk menaikkan Namanya, agar lebih dikenal.
Mengganti chanel pada berita kriminal yang terjadi di Indonesia. Kasus kejahatan yang sedang heboh saat ini adalah penjualan organ dalam manusia. "Gila," desis Berlian sewaktu melihat tayangan seorang wanita diculik dan dibunuh untuk diambil organ dalam tubuhnya. Lalu tayangan itu berganti menjadi kasus pembunuhan lainnya serta orang hilang.
Berlian kembali pada mesin cucinya yang sudah berhenti berputar. Mengeluarkan pakaian-pakaian itu dan memasukkannya ke dalam keranjang sebelum dijemur.
Langkahnya terhenti saat menuju pintu balkon. Dia mendengar suara gaduh dari unit sebelah, yang mana Berlian ketahui adalah milik Arkan.
Pelan-pelan dia berjalan di balkon untuk mengintip ke balkon unit Arkan. Nampak seorang pria bersama seorang wanita dan anak kecil tengah menonton televisi bersama.
Berlian pun menjadi bingung, dalam hatinya bertanya-tanya. "Arkan udah pindah? Karena kasus Jessie?"
Membuang segala pertanyaan yang mengganggu. Dia melanjutkan kegiatannya untuk menjemur pakaian. Dulu, sebelum dirinya hamil dan melakukan operasi caesar ... melakukan kegiatan rumah seperti ini memanglah melelahkan namun tidak seperti sekarang.
Dirinya kini benar-benar sangat kelelahan bahkan merasa dehidrasi.
Menuju dapur, Berlian mengisi gelas minumnya dengan air mineral dari dispenser. Dia meneguk sampai dua gelas saking hausnya. Selain cepat merasa lelah, dia juga menjadi seringkali merasa kehausan setiap saat.
"Ayo, sedikit lagi," ucapnya untuk menyemangati dirinya sendiri sambal berjalan kembali ke balkon.
Terik matahari mulai menyorotnya, menandakan hari sudah mulai siang. Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepatnya.
Selesai sudah urusannya dengan pakaian. Berlian istriahat sebentar sebelum melakukan ritual mandinya. Dia sudah berkeringat cukup banyak karena aktivitasnya sejak pagi tadi. Tubuhnya sudah terasa lengket dan membuatnya jengah sendiri.
Botol shampoo yang dia ambil dari atas rak yang berada di dekat shower, nyaris kosong. Bahkan pasta gigi pun sudah habis dan harus menggunakan sediki tenaga serta dorongan untuk dapat mengeluarkannya dari dalam tube.
Berlian menghela napas ketika teringat, selama berbulan-bulan Geva tinggal bersama Giana dan wajar saja jika unitnya tidak terurus seperti sekarang. Dia pikir, pria itu jadi menyewakan unitnya pada orang lain. Ternyata tidak.
Melihat tubuhnya dari pantulan cermin pada saat sedang menggosok gigi, Berlian merasa ngeri. Tubuhnya kini tidak lagi seperti dulu.
Perutnya masih buncit karena selama mengandung, rahim membesar yang mana menbuat ukuran perut juga membesar dikarenakan asupan makan sang ibu hamil yang lebih banyak dari biasanya ... sehingga otomatis lemak pun lebih banyak yang menumpuk, antara lain di area perut, selain sebagian lari ke si bayi.
Menurut yang Berlian baca dari sebuah artikel kesehatan, butuh sekitar enam hingga delapan pekan untuk menghilangkan perut besar bekas mengandung. Karena setelah melahirkan, tubuh perlahan akan perlahan-lahan mengeluarkan sejumlah cairan melalui keringat, urine, dan cairan melalui organ intim.
Berlian sudah tidak sabar lagi untuk memperindah tubuhnya.
Mengeluarkan pakaian dari dalam tas, dia mendesah. Geva nyaris membawa seluruh pakaian wanita itu dari dalam lemarinya. Sepertinya dia memang berniat untuk melarang Berlian kembali ke indekosnya.
Tubuh sudah bersih dan harum, unit pun sudah bersih rapi. Kini saatnya Berlian bersantai sejenak.
Sesungguhnya sejak tadi, dia merasa nyeri pada bagian jahitan bekas operasinya. Tapi, dia pikir... itu hal yang wajar.
Bosan. Berlian meraih ponselnya, dia mendapati beberapa pesan dari Niko.
Niko :
Kamu nggak pulang, Berlian? Apa kamu pindah? Geva membawa tas besar dari kamarmu. Apa itu alat peledak?
Berlian menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir kalau teman sekaligus tetangganya itu bisa berpikiran kalau dirinya memiliki bahas peledak. Pesan itu adalah pesan kemarin, dan hari ini Niko kembali mengirimi pesan.
Niko :
Be, kamu baik-baik aja? Kamu belum meninggal karena meledakkan diri, kan?
Niko :
Be, aku butuh mobilmu. Akhir pekan ini ada kencan dengan wanita Rusia yang kutemui di bar kemarin malam. Dia cantik banget, Be. Nggak mungkin kuajak naik motor bututku.
Pada saat membuka pesan terakhir dari Niko, ternyata pria itu sedang online dan langsung menelepon Berlian.
"Halo, Be?"
"Hai, Nik!"
"Syukurlah." Pria di seberang sana menghela napas lega sambal mengelus dadanya. "Kukira kamu udah bunuh diri atau dibunuh pacarmu yang posesif itu."
"Sembarangan! Aku masih hidup. Dan, Geva bukan pacarku, Niko."
"Masa? Dia bilang sama aku, kalau dia pacarmu. Dia keliatannya galak, Be. Kamu nggak di apa-apain sama dia, kan?" Berlian tergelak kemudian meringis karena perutnya lagi-lagi terasa nyeri. "Kamu kenapa, Be?"
"Enggak. Aku nggak kenapa-kenapa. Geva emang begitu orangnya, tapi dia baik kok. Jangan dengerin, dia emang suka bercanda, Nik." Berlian berdiri di depan cermin, mengangkat bagian bawah daster yang dia kenakan. "Aku udah minta dia buat balikin mobil ke kosan, kok. Palingan, nanti sepulang kerja dia ke sana tuker motornya yang dia tinggal di kosan."
Meringis sewaktu Berlian membuka sedikit bagian plester yang menutupi luka jahitan operasinya. Aroma kurang sedap menyambutnya dan membuat hidungnya secara otomatis mengkerut.
"Kamu beneran nggak kenapa-kenapa, Be?" Nada bicara Niko menyiratkan kekhawatiran. "Jadi, dia beneran bukan pacarmu?"
"Iya. Dia bukan pacarku. Aw!" Berlian memekik sewaktu Sebagian plesternya sudah berhasil dia tarik dan menampakkan luka jahitannya yang bernanah.
"Kamu kenapa, sih?"
"Astaga, Niko! Kamu ini dari tadi nanya aku kenapa aku kenapa terus. Udah dulu, ya. Tunggu aja nanti Geva ke sana. Dah."
Berlian melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Dia kembali memfokuskan perhatiannya pada luka yang kini nampak mengerikan.
"Duh, kenapa begini? Aku harus gimana?" tanyanya pada diri sendiri yang kebingungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
