"Be?"
"Hai, Ge. Aku turut berduka, ya. Maaf ... aku nggak bisa datang. Tadi ada wawancara kerja soalnya. Kalau pun aku datang, nanti malah—"
"Aku ngerti, Be. Makasih, ya ... udah mau telepon." Diam-diam Geva tersenyum tipis. "Kamu wawancara kerja di mana?"
"Penerbitan. Ge, maaf. Udah dulu, ya. Pacarku datang. Salam untuk Giana."
.
.
.
Berlian meneteskan air matanya setelah menghubungi Geva. Dia Kembali berbohong akan status pasangannya yang selama ini selalu disebut-sebut.
"Be? Kenapa nangis? Jadi mau pulang sekarang?" Louis memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Mereka mendatangi salah satu perusahaan penerbitan untuk menemui kerabat Louis yang ternyata sedang tidak berada di tempat.
Buru-buru, Berlian menyeka air matanya dan menyinggingkan senyum tipis. Meraih tas dan berdiri. "Yuk!"
"Kamu nangis kenapa?" Louis penasaran. Tapi, Berlian tidak menjawab. Wanita itu diam saja sampai berdiri di samping mobil, menunggu Louis membuka kunci pintu.
Mendadak, Berlian merasa mual yang sungguh tidak tertahankan. Dia berjalan cepat ke saluran air untuk memuntahkan isi perutnya.
Sebelum berangkat, dia dan Louis mampir untuk makan siang masakan padang. Sejak awal, Berlian sudah merasa ada yang aneh dari rasa kuah asam padeh yang dia makan. Rasa asam dari masakannya terasa cukup kuat sehingga membuat perutnya bereaksi diluar dugaan. Tapi, Berlian tidak mengira kalau dia akan muntah seperti ini.
Louis memijat tengkuk Berlian dan membersihkan bibir wanita itu menggunakan sapu tangannya. Buru-buru Berlian memalingkan wajahnya dan mendorong Louis ke samping. Dia takut Louis jijik padanya. "Jangan dekat-dekat, Lou."
"Kenapa?"
"Jijik!"
Louis mendecak. "Masih banyak yang lebih menjijikan dari sekedar muntahan asam padeh sisa makan siang tadi," guraunya hingga Berlian akhirnya tertawa.
Berlian mengeluarkan air mineral dari dalam tas, dia menggunakannya untuk berkumur yang berselang satu menit kemudian dia kembali muntah hingga tubuhnya terasa lemas. Rasanya seperti seluruh cairan di tubuhnya sudah terbuang ke saluran air.
"Kamu rebahan aja," tuntun Louis dengan hati-hati, dia juga memakaikan sabuk pengaman untuk Berlian. Setelahnya dia menutup pintu dan masuk dari pintu lainnya. "Kamu butuh apa? Mau mampir ke apotik untuk beli obat? Jangan-jangan kamu keracunan, Be. Ada alergi nggak?"
Berlian terkekeh mendengar rentetan pertanyaan Louis yang seperti sedang mewawancarainya.
"Kamu kayak dokter, deh. Aku baik-baik aja, kok. Tadi udah ngerasa aneh sama rasa kuah asam padeh. Tapi, berhubung pagi nggak sarapan, jadi ya aku abisin aja," kekehnya dan Louis memutar mata.
"Mungkin ada salah satu bahan makanan yang nggak cocok sama kamu, jadi alergi atau semacamnya. Soalnya, aku nggak ngerasa ada yang aneh, sih, sama rasa kuah asam padeh tadi." Louis memutar kunci kontak, mendorong perseneling dan menginjak gas—meninggalkan area parkir untuk kembali ke rumah Berlian.
Di dalam perjalanan, Berlian tertidur. Dia benar-benar merasa lemas dan tidak enak badan. Kepalanya pun mendadak pusing sewaktu membuka mata dan menemukan dirinya sudah berada di atas ranjang. Dia bahkan tidak sadar sama sekali pada saat Louis menggendongnya keluar dari mobil.
"Aku nggak ngerti gimana cara membuat teh yang kayak tadi pagi. Jadi aku pakai teh celup biasa," ujar Louis sembari memberikan secangkir teh hangat.
Berlian mengerang ketika duduk dan bersandar pada headboard, karena kepalanya menjadi benar-benar sangat pusing—seluruh benda di sekelilingnya seolah berputar.
"Nggak apa-apa, ini juga enak. Makasih, ya." Berlian tersenyum setelah menyesap teh buatan Louis yang rasanya sangat pahit. "Kamu nggak pakai gula ya?"
"Pakai madu sedikit. Kenapa? Pahit ya?"
"Sedikit. Tapi enak, kok."
"Aku sengaja sih, nggak pakai banyak madu ... takutnya kamu di sengat lebah kalau udah terlalu manis begini ditambah minum manis."
Gelak tawa Berlian pecah mengisi ruangan. Dia benar-benar terbahak-bahak mendengar gombalan murahan Louis. Seorang pria asing yang menggombal seperti itu benar-benar sangat lucu di mata Berlian.
Pertama dari aksennya yang masih cukup kental sekalipun dia menggunakan Bahasa Indonesia. Kedua ekspresinya yang datar membuat Berlian tidak kuasa menahan tawanya.
"Kamu belajar di mana, sih, gombal kayak begitu?" Selintas ingatan mengembalikannya pada Geva. Pria yang biasa melontarkan gombalan murahan padanya.
"Dari seseorang yang sangat kamu kenal." Louis berjalan ke kamar mandi. Dia membiarkan pintunya tetap terbuka sehingga masih dapat mengobrol dengan Berlian. "Kamu tadi nangis karena Geva, iya kan?" Suara Louis menggema dari dalam kamar mandi.
"Sok tau!" kilah Berlian. Dia menarik bibirnya kebawah dan meraih sebuah bantal untuk di peluk dalam posisi setengah berbaring. "Ayahnya Geva meninggal dunia."
Louis keluar dari kamar mandi sembari menarik ristleting celananya dan memakai ikat pinggangnya kembali. "Kapan?"
"Tadi pagi sih, Geva ngabarinnya. Tapi aku baru baca pesannya pas kita sampai di penerbitan."
"Ya, ampun ... jadi kamu nangis karena itu?"
Bukan. Bukan karena itu. Tapi karena wanita itu membohongi Geva juga dirinya sendiri. Entah kenapa kebohongan itu semakin terasa menyakitkan akhir-akhir ini.
"Kamu nggak menghadiri pemakamannya?" tanya Louis. Dia mengambil tempat untuk duduk di tepi ranjang. Tangan kanannya memijat salah satu kaki Berlian.
"Enggak. Ibunya nggak suka sama aku."
"Sama kayak ibumu nggak suka sama Geva?" Berlian mengangguk. "Kok, bisa gitu?"
"Ibunya Geva dan ibuku dulunya sahabat dekat, tapi bisnis membuat mereka jadi orang asing hingga saling membenci satu sama lain." Louis mengerucutkan bibirnya.
Tangannya yang memijat naik ke bagian lutut dan terus naik hingga paha, yang mana detik itu juga Berlian terkesiap akan sentuhannya. Melihat itu, Louis terkekeh.
"Jangan mulai, ya, Lou." Berlian memperingatkan, tapi Louis dengan sengaja memijat lembut paha Berlian hingga ke pangkal dan jarinya menyelinap di antara celah celana dalam berenda milik wanita itu.
Mata Berlian membulat sempurna di saat Louis berhasil menyusupkan jari ke dalam lembah kelembapannya. Tangan kiri meremas sprei, tangan kanannya meremas tangan Louis yang sedang memilin puncak dadanya.
Senyuman mesum di wajah pria itu membuat Berlian menggelengkan kepala tapi tidak dapat mengahalangi atau bahkan menolaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
