Kesalahan Gevariel

37 2 0
                                        

"Aku beli sate ayam, untuk makan malammu nanti," ucap Giana sewaktu Geva baru saja kembali ke unitnya.

Pria itu sempat berhenti sejenak setelah mengunci pintu di belakangnya. Memandang lurus ke arah Giana yang sedang menyibukkan diri di dapur, membuka bungkus sate dan menuang acar ke dalam sebuah mangkuk kecil.

"Biar kusiapkan air hangat untuk mandi," kata Geva sambil berjalan ke kamar mandi begitu saja.

Giana menghela napas kecewa. Sikap dingin Geva membuatnya sangat sedih, terlebih setelah melihat apa yang terjadi di Starbun beberapa menit yang lalu.

Giana sangat sadar bahwa membuat Geva jatuh dan mencintainya dengan tulus bukanlah perkara mudah.

Giana juga tidak bodoh dalam menebak adanya cinta yang begitu besar yang dimiliki oleh Geva terhadap Berlian.

Sorot mata yang terpancar dari Geva sewaktu memandang Berlian tadi, adalah bukti nyata bahwa pria itu benar-benar mencintai wanita yang selama ini Giana pikir adalah benar-benar sepupunya.

Walau sudah berulang kali Geva mengatakan bahwa hubungannya dengan Berlian hanyalah sebatas sahabat, namun caranya memandang dan memberi perhatian pada Berlian sungguhlah berbeda.

"Airnya udah siap." Geva melangkah keluar dari kamar mandi dan Giana terperanjat. Dia segera membalik tubuhnya menghadap wastafel. Menyeka air dari sudut matanya cepat-cepat sebelum pria itu melihatnya.

Hening dan dingin, ketika tidak ada satu pun yang berbicara selama beberapa menit. Keduanya hanya saling diam, berdiri di tempatnya masing-masing, dan tenggelam dalam pikiran akan keresahannya satu sama lain.

Ucapan Berlian perihal persiapan pernikahan, terus berputar dalam ingatan Geva layaknya sebuah kaset yang kusut. Tanpa sadar, pria itu tengah mencengkram sebuah gelas kuat-kuat, menumpahkan emosinya pada benda itu hingga pecah dan melukai tangannya.

Giana tersentak dan segera berlari mengambil kotak P3K di saat Geva masih diam saja, termenung dan mengabaikan darah yang terus mengucur dari telapak tangannya. Dia tidak merasakan sakit di tangannya. Dia hanya merasakan sakit yang teramat sakit di dadanya.

Menuntun Geva ke wastafel, mengucurkan air dari kran ke atas telapak tangannya untuk membersihkan darah. Giana tidak habis pikir dan merasa sangat asing dengan prianya yang seolah tidak dapat merasakan sakit.

Perlahan dan sangat hati-hati, Giana mulai mengobati luka di telapak tangan Geva. Masih dalam keheningan yang pekat.

"Gi ...." Suara Geva begitu dalam pada saat memanggil.

Giana mengangkat wajahnya setelah melilitkan perban untuk menutupi luka goresan di telapak tangan Geva.

"Ya?"

"Maaf."

"Untuk apa?"

"Untuk apa yang kamu liat tadi di Starbun." Geva membawa tangannya yang tidak terluka ke wajah Giana.
Membelai lembut pipi halus wanita itu dan menatapnya nanar.

"Aku nggak liat sesuatu yang salah." Giana sudah selesai.

Dia menutup kotak P3K, lalu beralih ke wastafel untuk mencuci tangannya. Suara air yang mengalir dari dalam kamar mandi, membuat Giana segera melangkah cepat untuk memeriksanya.

Bathub yang diisi air hangat oleh Geva sudah penuh. Terlalu penuh hingga terbuang cukup banyak dan nyaris membuat kamar mandinya kebanjiran.

"Aku menyayangimu, Giana." Lagi. Giana terperanjat kaget sewaktu tangan Geva melingkari tubuhnya, memeluk dirinya dari belakang dan menenggelamkan wajahnya pada ceruh leher Giana.

"Tapi kamu nggak mencintaiku, Ge. Kamu mencintai Berlian," lirih Giana dalam hatinya. Sedangkan tangannya bergerak untuk mengusap punggung tangan pria itu.

Giana memejamkan matanya sewaktu Geva menyusupkan jemari ke balik dress yang dikenakan olehnya. Pergerakannya yang pelan, menyusuri tiap inci kulit pahanya ... membuat Giana menegang di tempatnya.

Perlahan jari panjang itu menyelinap dari celah celana dalam Giana dan memasuki lembah kenikmatannya yang sudah lembap. Kedua tangannya terulur ke belakang, memeluk leher Geva. Jari kakinya mengkerut mencengkram lantai kamar mandi yang dingin.

Tangan Geva yang bebas, mulai menanggalkan dress milik Giana dengan gerakan cepat yang sedikit menuntut. Wanita itu terengah-engah sesaat Geva mendesaknya ke dinding, mencium bibirnya penuh napsu.

Setelah melepaskan dress milik Giana, kini giliran Geva menurunkan celana kargo serta celana boxer yang dia kenakan hingga batas lutut.

Mendesak, menekan, dan memaksakan diri untuk memasuki Giana dalam posisi menghimpitnya di dinding kamar mandi. Terhalang perut yang sudah mulai membesar, Geva menjadi sedikit kesulitan namun tetap memaksa.

Giana meringis dan berusaha mendorong tubuh Geva, namun pria itu tetap melancarkan aksinya hingga berhasil memenuhi Giana seutuhnya. Menyatukan kedua tangan mereka, Geva membawa kedua tangan Giana ke atas kepalanya selagi dia menggoyangkan pinggulnya, menekan lebih dalam miliknya dan membuat Giana menggeram halus terbungkus birahi.

Ini salah. Sangat salah. Karena Geva melakukannya kali ini atas dasar kekecewaan. Dia menumpahkan segala bentuk rasa kecewa dan kerinduannya akan mencumbu Berlian pada Giana yang terengah-engah di hadapannya. Dia adalah sosok pria paling bajingan yang menyetubuhi Giana sambil membayangkan Berlian.

Bagaimana bisa Geva mencintai Giana, jika di dalam hati dan pikirannya hanya di isi oleh Berlian? Berlian sahabatnya yang sebentar lagi akan menikahi pria lain, bukan dirinya.

"Ge, pelan-pel—ah!" erangan Giana adalah bukti bahwa Geva berhasil mengantarkan kenikmatan pada wanitanya itu.

Bibir liar Geva meninggalkan jejak lembap pada setiap inci kulit Giana. Dia sama sekali tidak peduli dengan ringisan maupun usaha Giana yang mencoba untuk menghentikan aksinya.

Giana memang menginginkannya sejak lama, tapi bukan dengan cara seperti ini. Cara yang mana membuatnya merasa tidak nyaman dan sedikit kesakitan.

"Oh, astaga! Geva!" jerit Giana dengan tubuhnya yang mulai gemetar hebat, menandakan bahwa sebentar lagi dia akan meledak. Desahan yang tidak lagi terkontrol, bergema di dalam ruangan kecil yang terasa panas karena uap air hangat dan penyatuan mereka.

"I love you, Gi." Giana mengerjap. Sudut bibirnya berkedut ketika mendengar kalimat yang selama ini dia nantikan.

Mungkinkah Geva sudah mencintainya? Atau kalimat itu terucap di luar kesadarannya? Entahlah. Giana tidak dapat mempertanyakannya sekarang, tapi mungkin nanti setelah mereka selesai.

Geva dan Giana sama-sama mendesah ketika keduanya telah sampai pada pelepasan. Masih dengan napas yang terengah-engah dan saling berkejaran, Geva mencium bibir Giana. Membelit lidahnya dan kembali memercikan api untuk membangkitkan gairah yang sudah mulai redup karena kelelahan.

Seolah belum puas, Geva membawa Giana ke dalam bathub. Keduanya duduk dengan posisi Giana yang memunggunginya. Posisi di mana sangat Geva sukai setiap kali bercinta dengan Berlian. Benar. Wanita itu yang terus mengusik pikirannya.

Kedua kaki Giana diangkat dan di tempatkan pada kedua sisi bathup dalam posisi terbuka yang mana memudahkan Geva untuk kembali memasukinya. Tidak merasa sedikit pun lelah atau lemah setelah pelepasan pertamanya tadi, Geva tengah berhasil memauski Giana lagi.

Giana kembali terbakar api yang disulutkan oleh Geva. Sentuhan pria itu mampu membangkitkan kembali gairahnya dan mengembalikan keduanya dalam penyatuan hangat yang Giana inginkan selama beberapa bulan terakhir.

"I'm so close, Be," desah Geva ketika dia merasakan getaran di antara kedua pahanya.

Kecewa. Tentu saja Giana kecewa mendengar pria itu salah menyebutkan nama pada saat sedang mencumbunya.

Giana bangkit dari posisinya dan membuat Geva melotot tidak percaya dengan apa yang dilakuka wanita itu. "What the hell are you doing, Giana?"

"Pergi dari unitku!"

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang