Pesona Dokter Ezra

63 2 0
                                        

"Kalau aku maunya nikah sama kamu, gimana, Be?"

Sebelumnya Berlian selalu tertawa setiap kali Geva melemparkan pertanyaan serupa. Tapi kali ini, dia hanya diam saja dan kesulitan menjawab. Pikiran dan hatinya bertentangan.

"Kamu menginap kan, malam ini?"

Geva mengangguk. "Aku di sini sampai kamu merasa lebih baik."

"Makasih, ya, Ge. Aku beruntung banget bisa punya kamu di hidupku. Jangan tinggalin aku, ya, Ge. Nanti nggak ada lagi yang usap perut dan punggungku kalau datang bulan," racau Berlian dengan mata terpejam. Nampaknya wanita itu mulai mengantuk setelah rasa sakitnya sedikit reda.

Sejak semalam hingga pagi ini, gerimis mengguyur kota Jakarta. Udara sejuk membuat Geva juga diserang rasa kantuk yang mana akhirnya dia ikut tertidur bersama Berlian.

Pukul satu siang, Geva terbangun lebih dulu karena suara ringisan Berlian di sampingnya. Wanita itu sedang menekan perutnya dan menangis dengan suara tertahan.
"Maaf, kamu jadi bangun," lirih Berlian.

"Sakit lagi, ya?" Geva mengubah posisinya menjadi setengah berbaring. Menyandarkan kepalanya pada headboard—Geva merengkuh tubuh Berlian.

"Sakit banget, Geva," ringis Berlian sembari meremas perutnya lalu memukulinya. "Nggak kuat, Ge. Ini sakit banget!" tangis Berlian pecah.

"Ya, ampun! Be, jangan begitu," larang Geva dan meraih kedua tangan Berlian—menahannya kuat-kuat sewaktu wanita itu berontak dan berusaha menarik kembali tangannya agar dapat menyakiti dirinya sendiri.

Rasa sakit yang tengah dirasakan oleh Berlian, juga membuat kepalanya sakit dan ingin pecah. Berlian sudah biasa mengalami sakit datang bulan, tapi tidak pernah separah ini.

"Be, kamu tembus." Geva memberitahu ketika melihat darah di atas sprei. Berlian menoleh dengan berat. Dia menghela napas lemah.

"Maaf, ya, Ge." Perlahan Berlian beranjak dari ranjang. Dia berjalan seperti zombie ke dalam kamar mandi. "Tunggu di luar dulu, ya, Ge. Biar nanti kuganti spreinya." teriak Berlian dari dalam kamar mandi.

Tidak ada jawaban dari Geva. Berlian mulai membersihkan dirinya dari darah menstruasi yang berlebiha. Sejak semalam sampai siang ini, Berlian sudah sepuluh kali mengganti pembalutnya karena darah yang keluar sangat banyak.

Kakinya terasa lemas dan bergetar. Berlian berpegangan kuat pada dinding sewaktu dia berjalan kembali ke kamar.
Langkah Berlian terhenti ketika melihat Geva sedang mengganti sprei. "Ge, kamu ngapain? Bukannya tunggu di luar aja," sembur Berlian.

"Nggak apa-apa. Dalam kondisi kayak begini, masa, sih, aku tega biarin kamu ganti sprei sendiri? Kan ada aku di sini yang fungsinya selain memuaskanmu, membanti kamu dalam masa sulit kayak sekarang. Dalam masa kamu butuh bantuan."

Penuturan Geva membuat Berlian tenggelam dalam pikirannya. Pria itu memang memiliki hati malaikat. Rasanya di zaman seperti sekarang, sulit sekali menemukan pria seperti Geva.

"Giana beruntung banget kalau sampai bisa menikah sama Geva," lirih Berlian dalam hatinya.

"Selesai." Geva membusungkan dadanya dengan bangga. "Silakan kembali berbaring, Miss Chandra."

"Jangan panggil aku dengan nama itu, Ge," omel Berlian sembari merangkak ke atas ranjang.

"By the way, thank you."

"Hm, kalau begitu Mrs.Gerald aja, gimana?" Geva mengerlingkan matanya dan Berlian menahan tawa sampai perutnya kembali terasa nyeri.

"Ge, aku lapar," keluh Berlian dengan ekspresi menggemaskan.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang