Kekalutan

42 1 0
                                        

"Aku nggak mencintaimu, Geva!"

Suara Berlian bagaikan nyanyian yang selalu terdengar di telinganya setiap saat. Kalimat sederhana yang cukup membuatnya kecewa itu, selalu berputar dalam ingatannya.

"Berlian pasti cinta sama aku," yakin Geva dalam hatinya. Dia selalu mencari jawaban dan pembenaran untuk dirinya.

"Ge, udah! Kalau lo mati di sini, gue nggak mau dijadiin saksi!" tegur Arkan sambil berteriak mengalahkan suara musik.

Geva tidak peduli. Dia tetap menenggak habis alkohol yang berada di dalam gelasnya. Walaupun pandangannya sudah berputar dan mulai kehilangan sedikit kesadaran, tapi dia masih bisa melihat bayangan Berlian yang begitu solid di lantai dansa.

"Eh, Ge! Mau ngapain?" Arkan mau mencegah Geva yang berjalan seperti zombie ke lantai dansa, tapi pria itu sudah melesat—menyelip di antara kerumunan orang.

Berlian melambaikan tangan dan tersenyum begitu menggoda padanya. Semakin dekat Geva padanya, mereka berdua pun menggerakkan tubuh bersama mengikuti irama musik.

Tangan Berlian melingkar di leher Geva. Tangan Geva pun memeluk pinggang Berlian. Jarak mereka begitu dekat, kening saling bersentuhan dan sedetik kemudian bibir mereka saling menyapa hingga bertukar saliva.

Kilauan lampu yang berubah-ubah warna di atas kepalanya membuat sosok Berlian ikut berubah. Wanita itu bukan Berlian. Bukan wanita yang dia cintai.

Geva menarik diri dan membuat wanita itu mendesah kecewa. "Maaf," katanya buru-buru kemudian berjalan cepat meninggalkan lantai dansa untuk kembali pada Arkan yang sedang duduk bersama Jessie.

"Nah, ini dia!" Arkan menyambut Geva yang baru saja duduk di sebelahnya. "Balik, yuk! Giana nanyain lo, nih." Pria itu memperlihatkan ponselnya yang membuka pesan dari Giana.

Geva mengibaskan tangan. Dia kembali meminum alkoholnya, kali ini langsung dari botolnya. Yang mana membuat Jessie menggelengkan kepala dan Arkan langsung merebut botol itu cepat-cepat.

"Kalau ada masalah, cerita, Ge! Jangan begini!" omel Arkan yang sejak tadi bicara tapi diabaikan.

"Apa gunanya gue cerita sama lo, Ar?" Arkan dan Jessie saling tatap. "Nggak ada yang bisa lo lakuin untuk masalah gue!"

"Seenggaknya gue tau apa yang mesti gue lakuin supaya lo nggak mati di sini!"

Geva mendecih. Dia kembali merebut botol minumannya dari Arkan dan langsung menyesapnya. Tenggorokkan dan perut Geva sudah terasa panas, tapi semua itu tidak sebanding dengan panas hatinya sewaktu Berlian mengatakan sudah memiliki kekasih.

"Giana hamil dan Berlian nggak cinta sama gue! Itu masalahnya!" pekik Geva di depan wajah Arkan.

Bukannya merasa iba, Arkan justru tertawa terbahak-bahak. Dia menertawai masalah yang tengah dihadapi oleh temannya.

"Lo cinta sama Berlian? Lo cinta sama wanita murahan itu?!" sungut Arkan.

Jessie meremas tangannya dan mendesis. "Apa-apaan, sih, kamu!"

"Emang benar dia murahan, Jess! Beberapa kali aku liat Berlian sama pria lain yang berbeda."

"Jangan nambah masalah, Ar!"

"Aku nggak nambah masalah. Justru aku mau Geva tau kelakuan wanita itu!"

"Jangan sembarangan bicara tentang Berlian!" ancam Geva dengan tekanan pada setiap kata yang diucapkan di antara giginya yang terkatup rapat.

"Dia tau kalau lo pacaran sama Giana, tapi dia masih aja mau tidur sama lo dan pria lain. Apa namanya kalau bukan murahan?"

Dalam keadaan kalut seperti sekarang, kesabaran Geva benar-benar tipis. Perkataan Arkan barusan membuatnya naik darah, terlebih menyangkut Berlian.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang