Teramat Mencinta

32 2 0
                                        

"Tahan sedikit ya, Ibu Berlian," pinta seorang perawat wanita dengan senyum ramah sebelum mulai membersihkan luka jahitan operasi Berlian.

Akhirnya, hari ini Berlian dapat bertemu dengan Dokter Ezra untuk konsultasi terakhir. "Udah bagus jahitannya. Tinggal satu aja nih yang masih perlu perhatian," ujar dokter tampan itu sambil menunjuk satu jahitan yang terbuka dan sedang dikeluarkan cairannya oleh sang perawat.

Ini bukan yang pertama kalinya bagi Berlian. Pada awalnya dia menjerit, kedua kalinya merintih, ketiga kali mendesis, dan kali ini ... seolah mati rasa. Wanita itu nampak santai saja sambil berbincang dengan Dokter Ezra.

"Kalau Ibu—Nona ... maaf. Saya harus menyebut apa? Karena di sini statusnya masih lajang." Dokter Ezra membaca identitas Berlian yang tercatat dalam dokumennya.

"Berlian aja, Dok. Benar, Saya masih lajang dan gagal menjadi seorang ibu." Perih. Benar-benar perih sekali sewaktu Berlian mengucapkan kalimat itu.

Sang perawat yang sedang menutup luka jahitan operasinya, sampai menundukkan kepala karena merasa tidak enak hati mendengar ucapan Berlian barusan.

"Maaf sekali lagi karena harus kehilangan bayi pertama Anda, Nona Berlian." Dokter Ezra bersungguh-sungguh dan Berlian tersenyum simpul kemudian turun dari tempat tidur, mengambil posisi duduk di hadapan Dokter Ezra yang dibatasi meja.

"Semoga tidak ada lagi cairan yang keluar setelah ini, apabila Nona bisa menjaga pola makan dan hati-hati dalam beraktivitas. Jangan dulu mengangkat barang bawaan yang berat, beres-beres rumah yang membuat otot perut banyak bekerja juga di tahan dulu, ya. Setidaknya sampai jahitannya benar-benar kering," pesannya sambil menulis diagnosa ke dalam dokumen Berlian.

"Baik, Dok. Jadi, kapan Saya mesti kembali lagi?"

"Seharunya tidak perlu kembali lagi juga tidak apa-apa kalau tidak ada masalah dengan jahitannya." Senyum Dokter Ezra dikembangkan dan Berlian ikut tersenyum melihatnya. "Oh ya, Nona. Kalau mau memiliki anak lagi, tunggu setidaknya enam sampai tujuh bulan, ya. Supaya rahimnya bisa isirahat cukup."

Memiliki anak? Lagi? Berlian ingin menggelengkan kepala namun dia tidak mungkin melakukannya sekarang di hadapan Dokter Ezra dan perawat yang sedari tadi memerhatikannya dengan raut wajah iba.

"Terima kasih banyak, Dok. Saya permisi."

"Gimana?" Geva menodong Berlian dengan sederet pertanyaan. "Udah kering jahitannya? Kapan kamu mesti balik lagi? Ada resep yang perlu aku tebus nggak?"

"Nggak, Geva. Yuk balik!"

"Nggak apaan maksudnya, Be?"

"Nggak untuk semua pertanyaanmu, Ge." Berlian menekan tombol panel lift. Tabung besi itu membawanya mereka ke lantai dua puluh tujuh. "Siang ini, aku pulang, ya."

"Loh? Kok? Kenapa jadi tiba-tiba mau pulang?" Geva keluar lebih dulu dari lift, membuka pintu unitnya dan memperlisakan Berlian masuk.

"Aku udah sembuh. Aku kangen Niko." Berlian menggantung tasnya pada sandaran kursi makan. Tidak mendengar langkah kaki Geva. Berlian pun segera berbalik dan melihat sahabatnya itu tengah menekuk wajahnya—berdiri di samping sofa. "Kenapa cemberut begitu?"

"Niko lagi," keluh Geva sambil menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Pria itu berbaring, membiarkan sebagian kakinya menggantung pada lengan sofa. "Harus berapa kali aku bilang, kalau aku cemburu, Be. Aku nggak suka sama pria itu. Aku nggak suka kalau dia ada di sekitarmu."

Berlian duduk di sofa, bergabung bersama Geva. Dia mengangkat kepala pria itu dan menempatkannya pada salah satu pahanya.

Menelusupkan jari ke dalam rambut ikal pria itu, Berlian sedikit memijat kepala Geva—pria itu memejamkan matanya. "Aku tetap cemburu dan pijatanmu nggak membuatku jadi suka sama Niko."

Berlian terkekeh. Dia gemas sekali pada pria di pangkuannya kini. Ingin sekali dicubitnya bibir Geva yang sedang mengerucut sekarang.

Tidak tahan, pria itu sekarang menjadi sangat posesif. Lebih posesif dari sebelumnya. Selain itu, cemburuan juga sangat rewel.

"Aku nggak minta kamu harus suka sama Niko. Lagi pula, Niko belum tentu juga naksir sama kamu."

"Astaga!" Geva melotot. "Kata 'suka' yang aku maksud bukan berarti naksir, Berlian. Ya ampun! Amit-amit tujuh turunan, sepuluh tanjakan seratus tikungan mematikan."

Berlian terkekeh lagi. Kali ini sampai mengeluarkan suara dari hidungnya. Suara yang menyerupai seekor hewan berkaki empat.

"Niko nggak pernah macem-macem sama aku, Ge. Dia selalu baik sama aku. Sering beliin aku ketoprak sama kadang-kadang kalau dia punya uang, beliin aku makanan Jepang."

"Aku nggak peduli. Aku juga bisa beliin kamu ketoprak Mang Udin dan makanan Jepang."

"Kamu lucu kalau cemburu gini." Berlian mencubit gemas pipi Geva. Pria itu semakin menekuk wajahnya. "Nggak usah lebay, deh. Jijik jadinya kalau begini." Disentilnya hidung Geva oleh Berlian. Pria itu mengaduh sambil menggosok hidungnya sendiri sampai merah.

"Jangan pulang, Be. Sewain lagi aja rumahmu. Dan ... nggak usah ngekos lagi."

"Ih, aku tinggal di mana, dong?"

"Di sini. Sama aku. Kita mulai semuanya sama-sama dari nol." Geva mengerlingkan mata dan Berlian memekarkan hidungnya. "Aku serius."

"Kayak lagi isi bensin. 'Dari nol ya, Kakak.'"

"Kamu kenapa, sih. Selalu merusak momen romantis," decak Geva sebal.

"Bagian mana yang romantis, sih, Ge? Kamu justru norak banget, dan versi kamu yang sekarang semakin norak plus nyebelin." Berlian bangkit sehingga kepala Geva jatuh ke sofa begitu saja.

"Kamu mau ke mana? Aku belum selesai ngomong!"

"Panggilan alam. Mau ikut?" Kepala Berlian melongok dari pintu kamar. Geva tertawa melihat ekspresi kesal wanita itu.

"Ya, Tuhan ... aku teramat mencintainya," gumam Geva sambil melangkahkan kakinya ke dalam kamar.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang