Hati Berlian sedikit membaik karena kedatangan Geva. Dia bersenandung selepas kepulangan Geva dari rumahnya.
Suasana hati yang baik, membuat Berlian semangat untuk bersih-bersih rumah. Mulai dari menyapu, mengepel lantai, membersihkan debu, hingga menyiram tanaman. Sungguh kegiatan lengkap bersih-bersih yang sangat jarang dilakukannya.
Menyeka keringat dari kening menggunakan punggung tangan. Berlian duduk di tepi ranjang dan mengembuskan napas lelah. Misi terakhirnya adalah membereskan kamar. Mengganti sprei dan membereskan pakaian di dalam lemarinya yang sudah tidak beraturan.
Sudah selesai urusan sprei. Berlian membuka kado dari Geva yang mana membuatnya menggelengkan kepala dan terkikik pada saat melihat isinya. Geva memberikannya pakaian dalam renda warna merah.
"Dasar sinting!" kekeh Berlian sembari memasukkan pakaian dalamnya ke lemari.
Tiba-tiba saja Berlian menoleh ke arah kalender dinding di dekat lemarinya. Dia mendekat dan menelusuri angka dengan jari telunjuknya.
Hari ini tanggal tujuh. Biasanya Berlian datang bulan di pertengahan bulan. Mungkinkah maju sangat jauh? Berlian pun menggelengkan kepala. Mencoba mengingat kapan terakhir kali dia datang bulan.
Terkejut ketika sudah mengingatnya. Jadwal datang bulannya bukanlah maju, melainkan mundur dari biasanya. Bulan lalu dia ternyata tidak datang bulan, dan dia benar-benar tidak mengingatnya.
Hari ini dia datang bulan dan tidak merasakan sakit maupun nyeri yang luar biasa menyiksa. Aneh. Tapi dia bersyukur dan cukup senang, karena tidak harus kesakitan seperti biasanya.
Pikiran Berlian membawanya pada ucapan Dokter Ezra kala itu. Dia kembali mengingat saran dokter untuk segera melakukan pemeriksaan lanjut perihal masalah sakit yang menyiksa setiap kali datang bulan.
Berlian duduk di tepi ranjang. Tangannya bergulir di atas layar ponsel. Membuka laman penelusuran untuk mencari tahu dugaan Dokter Ezra akan penyakit Mioma yang dikhawatirkan.
Hasil dari pencariannya dari beberapa sumber mengatakan kalau penyakit mioma atau yang lebih sering disebut miom, biasanya jarang sekali menimbulkan gejala. Semua nampak normal untuk beberapa orang.
Tapi beberapa ciri-ciri gejala yang tertulis, Berlian hampir mengalami semuanya. Salah satunya nyeri perut bawah.
Khawatir mulai kembali menyelimuti Berlian. Rasa takut perlahan memeluknya dan membuat suasana hatinya dengan cepat berubah. Wajah bahagianya kini telah redup, menjadi muram.
"Permisi! Paket!" suara kurir ekspedisi dari luar pagar rumahnya membuat Berlian terkesiap dan segera berjalan ke luar. "Paket!" teriak sang kurirlagi.
"Iya, sebentar!" sahut Berlian dari dalam rumahnya, yang mana suaranya menggema dan sang kurir dapat mendengarnya.
"Mbak Berlian, ya?" tanya sang kurir paket sewaktu Berlian membuka pagar rumahnya. Berlian pun mengangguk. "Saya Beben, kurir paket Sikilat. Ini paketnya, Mbak. Saya foto ya, untuk bukti kalau paketnya sudah diterima langsung oleh Mbak Berlian," tutur sang kurir paket yang Bernama Pak Beben itu dengan gaya bicara yang sangat sopan.
"Silakan, Pak." Berlian pun tersenyum sewaktu Pak Beben memotretnya bersama paket yang berada di tangannya. "Dari siapa ini, Pak?"
Pak Beben memerika ponselnya. "Mbak Alara." Dia menjawab dengan senyum yang ramah.
"Kalau begitu, Saya permisi, Mbak."
"Tunggu, Pak!" Berlian merogoh saku celana pendeknya dan untung saja dia mengantongi uang dua puluh ribu rupiah yang mana langsung diberikan pada Pak Beben.
"Wah, nggak usah, Mbak. Tadi Mbak Alara udah bayar ongkirnya," tolak Pak Beben dengan sopan.
"Nggak apa-apa, Pak. Ambil aja, untuk beli kopi."
"Beneran ini, Mbak?" Pak Beben sudah memegang uang pemberian Berlian, namun masih mencoba untuk konfirmasi kembali. Setelah Berlian mengangguk, Pak Beben pun segera mengepal uangnya dan mengucap syukur kencang sekali. "Semoga Mbak Berlian selalu diberi kesehatan, umur panjang, rejeki yang melimpah juga—maaf, udah berkeluarga belum, Mbak?" Doa Pak Beben terjeda sebentar.
Berlian terkekeh dan menggelengkan kepala. "Belum, Pak."
"Semoga Mbak Berlian cepat mendapatkan jodoh, pendamping hidup yang sempurna sekaligus imam yang baik. Amin."
"Makasih banyak, Pak Beben untuk doanya. Semoga semua doa baiknya berbalik kembali pada Pak Beben, ya." Berlian tersenyum. "Saya senang banget di doain pas ulang tahun gini."
"Masya Allah. Selamat bertambah umur, ya, Mbak Berlian."
"Makasih, Pak Beben. Selamat kembali bekerja, semangat terus, ya, Pak!"
"Makasih, Mbak." Pak Beben pun berlalu dengan sepeda motornya dan Berlian tertawa kecil sembari menutup pagar kemudian kembali ke dalam rumahnya.
Berlian selalu senang setiap kali bertemu dengan orang-orang baik seperti Pak Beben barusan. Seseorang yang menghargai sekecil apapun pemberian dari orang lain. Di zaman seperti sekarang, sangat sulit sekali menemukan orang-orang yang baik dan tulus dalam menghargai seseorang.
Ponsel Berlian berdering. Dia segera berlari untuk mengambilnya dan segera mengusap layar ketika melihat nama sang penelepon. "Alara!"
"Selamat ulang tahun, Be!" Terdengar suara heboh dari seberang sana. "Kadonya udah sampai ya?"
"Udah nih, baru aja. Kamu ngapain sih, repot-repot kirim kado segala?" Berlian mengubah panggilan menjadi mode pengeras suara. "Ya, ampun! Bagus banget, Al! Ih, kamu!" girang Berlian sewaktu membuka kado pemberian sahabat wanitanya—Alara.
"Suka nggak? Maaf banget ya, Be. Aku nggak bisa anter kadonya langsung, soalnya anakku baru tumbuh gigi, jadi demam dan cengeng banget."
"Suka banget, Al! Makasih ya." Alara memberikan jam tangan untuk Berlian. "Nggak apa-apa, Al. Kamu repot banget, sih, lagian."
Alara mendecak. "Udah kebiasaan kita dari zaman kuliah, kan, Be?"
"Iya, sih." Berlian tertawa kecil, begitu pula dengan Alara.
"Al, aku boleh mampir ke rumahmu? Nanti kubawain Mentai Salmon."
"Asik! Traktiran nih? Boleh, dong! Kapan?"
"Sebentar lagi mungkin. Aku mandi dulu sebentar, siap-siap terus on the way."
"Kebetulan suamiku lagi diluar kota dari dua hari lalu, aku bete banget di rumah terus. Malah anakku rewel begini." Terdengar suara tangisan anak kecil dan suara Alara yang berusaha menenangkannya.
"Pas banget! Oh iya, anakmu mau kubawain apa?"
"Duh, dia baru tumbuh gigi begini ... nggak bakalan bisa makan."
"Anakmu yang pertama, Al."
"Oh, iya. Hehe," kekeh Alara. "Nggak usah, Be. Jangan repot-repot, kamu cepetan ke sini, aku kangen banget! Hati-hati di jalan, nggak usah ugal-ugalan. Kamu bukan Paul Walker."
"Iya bawel."
Sambungan telepon berakhir. Berlian segera bergegas untuk membersihkan diri dengan cepat—jauh lebih cepat dari biasanya. Karena dia mengejar waktu sebelum memasuki jam pulang kantor, yang mana pasti jalanan akan sangat macet.
Berlian menyempatkan diri untuk memenuhi janjinya pada Alara, yaitu membelikannya Mentai Salmon. Dia juga membeli beberapa macam jenis sushi dan bento yang mendapatkan hadiah untuk anak pertama Alara.
Sewaktu sedang menunggu pesanan, Berlian buang air kecil. Satu hal yang aneh membuat Berlian berpikir keras setelah dia membasuh area kewanitaannya.
Darah kotornya berhenti dan hanya menyisakan flek. Bagaimana mungkin menstruasinya berhenti secepat itu? Kekhawatiran kembali menyapanya. Mengusik pikiran Berlian dan membuatnya kembali merasa tidak nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Fantascienza18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
