Dengan langkah tergesa-gesa, Geva memasuki lift. Dia menekan-nekan tombol sampai berkali-kali saat gerak pintu yang hendak menutup menjadi sangat lama dari biasanya.
Padahal, seribu kali pun dia menekan tombol, tidak akan membuat pintu menutup lebih cepat sesuai dengan keinginannya.
Tadi pagi, Giana masih terlihat baik-baik saja sebelum dirinya pergi berangkat bekerja. Dia masih menari-nari seperti hari-hari biasanya. Tidak ada tanda-tanda akan melahirkan hari ini. Geva mengusap wajahnya dengan kasar.
Bagian informasi yang terlihat di pertama kali setelah dirinya keluar dari dalam lift, segera dihampiri. "Permisi, tadi Saya mendapat panggilan dari sini kalau pasien atas nama Giana Artalita melakukan persalinan hari ini."
"Sebentar ya, Pak. Saya cek terlebih dahulu." Petugas yang duduk dibalik meja informasi segera mengecek data melalui komputernya. "Sudah masuk ruang persalinan sekitar lima menit yang lalu, Pak. Nanti Bapak silakan lurus aja, lorong kedua belok kanan. Di sana ruangannya."
"Terima kasih."
Instruksi petugas informasi tadi seharusnya sudah cukup jelas bila Geva tidak dalam keadaan buru-buru seperti sekarang. Ditambah dengan adanya papan penunjuk arah yang sangat jelas di setiap pecahan lorong, seharusnya memudahkan Geva untuk sampai ke tempat tujuannya.
Tapi entah bagaimana, dirinya justru berputar-putar di dalam rumah sakit dan tidak menemukan ruang bersalin.
"Sialan! Sialan!" Geva menggeram sembari menarik rambutnya ke belakang.
Dia kesal pada dirinya sendiri yang sangat bodoh dalam menerima instruksi sederhana yang cukup jelas. Dia justru membuang waktu dengan memutari lorong yang sama.
Kebodohannya membawa Geva kembali ke bagian informasi. Namun suara roda yang menggilas lantai disertai langkah kaki resah di sekitarnya membuat pria itu teralihkan.
Geva melihat sosok Niko—pria yang ditemuinya tadi di kamar kos Berlian. Pria itu berjalan dengan langkah besar mengikuti tempat tidur pasien yang didorong oleh dua orang perawat pria dan satu orang perawat wanita.
Langkah Niko terhenti ketika dia melihat Geva sedang memperhatikan. Dia melihat tempat tidur pasien dibawa masuk ke dalam ruang gawat darurat. Sementara itu kakinya melangkah menghampiri Geva.
"Kamu?"
"Aku yang tadi." Niko mencengir lebar. Penampilan pria itu masih seperti tadi. Memakai celana pendek rumahan dan kaus putih yang robek dibagian bahunya. "Aku tetangganya Berlian. Temannya. Sahabatnya. Atau apa pun sebutannya."
"Teman? Jadi Berlian udah punya teman baru sekarang. Apa Niko juga jadi teman ranjangnya? Kayak aku dan Louis?" Geva segera menggelengkan kepalanya, mengusir semua pertanyaan konyol yang terlintas dalam benaknya.
"Kebetulan ada orang yang kukenal. Maksudnya, pernah kuliat—tadi. Kamu pasti temannya Berlian, kan? Kamu yang pernah berkelahi di kelab." Berkelahi di kelab? Kening Geva berkerut mencoba memahami maksud dari perkataan Niko. "Aku kerja di kelab malam yang kamu datangi. Oke, langsung aja. Karena buru-buru tadi, aku lupa mengunci pintu kamarku dan pintu kamar Berlian. Jadi aku mesti kembali ke kosan sekarang, sebelum barang-barangku dan Berlian pindah kamar."
"Tunggu! Berlian? Emangnya Berlian ke mana?"
Niko menepuk keningnya secara dramatis. "Tadi itu Berlian." Dia menunjuk ke arah ruang gawat darurat. "Dia pendarahan, jadinya aku bawa ke sini saking paniknya. Bisa kutitip Berlian sama kamu? Aku benar-benar harus balik ke kosan sekalian mau—"
"Ya. Pergilah!" Geva terlalu pusing untuk menanggapi Niko yang sepertinya banyak bicara.
"Terima kasih. Kalau ada apa-apa, tolong hubungi aku." Dia menghilang setelah pintu lift tertutup.
"Menghubungi bagaimana? Bahkan Namanya aja aku nggak tau, apalagi nomor ponselnya. Dasar sinting,"
gerutu Geva sambil berjalan ke ruang gawat darurat.
Bertanya pada salah satu perawat yang mendorong tempat tidur tadi. "Permisi. Apa Saya bisa liat pasien yang bernama Berlian?"
"Maaf. Dengan siapa dan apa hubungannya dengan pasien?"
"Geva. Gevariel. Saya ... uhm, Saya kakaknya Berlian."
Ada guratan tidak percaya yang tergambar dari wajah perawat itu. Tapi dia mengangguk pada akhirnya. Perawat itu melongok ke arah belakang punggung Geva kemudian ke arah lain.
"Apa Bapak kenal dengan pria yang membawa ibu Berlian tadi ke sini?"
"Oh. Itu temannya. Saya kenal. Ada apa? Jadi gimana keadaan Berlian? Apa yang terjadi sama adik saya?"
"Ibu Berlian mengalami pendarahan dan sedang ditangani oleh Dokter Ezra."
"Dokter itu lagi," desah Geva pelan. "Jadi, Saya boleh masuk?"
"Ya. Silakan, Pak." Perawat itu berjalan di depan Geva. "Silakan tunggu sampai selesai pemeriksaan." Perawat itu menyibakkan tirai selagi Geva menunggu sambil menyandarkan punggungnya pada dinding yang dingin.
Kepalanya berjejalan banyak pertanyaan sehingga dia hanya dapat memikirkan apa yang sedang terjadi pada Berlian? Pada wanita yang dia cintai.
Geva sampai melupakan tujuan utamanya datang ke Steels Care. Tujuannya untuk Giana yang akan bersalin.
Tirai dibuka. Dokter Ezra mengangkat wajahnya dan tersenyum simpul. "Dok," sapa Geva.
"Selamat siang!" seru Dokter Ezra.
Suara Dokter Ezra terdengar oleh Berlian yang terbaring lemas di atas tempat tidurnya. Dia benar-benar sudah tidak berdaya.
"Gimana keadaan Berlian, Dok? Pendarahan lagi?"
"Ya. Tapi waktu itu tidak dalam kondisi hamil, sekarang dalam kondisi hamil." Kedua mata Geva membulat sempurna, pasalnya dia sama sekali tidak mengetahui tentang kehamilan Berlian. "Peningkatan produksi hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh ibu hamil dapat mempercepat pertumbuhan miom yang sudah ada sebelumnya."
"Miom?" Dokter Ezra mengangguk.
"Dengan berat hati, persalinan harus segera dilakukan karena risikonya cukup tinggi jika harus mempertahankan janin hingga sembilan bulan."
"Bisa ikut Saya untuk menandatangani prosedur persalinan caesar?" Geva mengangguk lemah.
Dia bahkan terlalu bingung untuk mencerna semua ini. Bahkan pada saat dia tanda tangan, dirinya masih kebingungan setengah mati.
"Baik, terima kasih. Anda bisa temani Nona Berlian selagi menunggu persiapan untuk persalinan. Dibutuhkan sekiranya empat jam untuk puasa sebelum melakukan persalinan."
Dengan kebingungan yang menyelimuti, Geva menyibakkan tirai dan pada saat itu Berlian terkejut. Wajahnya yang pucat pasi membuat Geva tidak tahan untuk tidak memeluknya.
Pria itu menggeleng tidak percaya saat menyadari perut Berlian benar-benar sudah besar. Dia tidak melihatnya pada saat di kos tadi.
"Be, I'm so sorry."
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
