Kedatangan Berlian ke Rumah Chandra

32 2 0
                                        

-Rumah bukan hanya sekedar tempat tinggal, namun juga sebuah tempat di mana sebuah keluarga memahamimu-

Sebuah kutipan yang Berlian temukan beberapa minggu lalu dalam beranda media sosialnya sama sekali tidak menggambarkan arti rumah yang sesungguhnya bagi Berlian.

Wanita yang dibesarkan dengan kebencian seorang ibu untuk kesalahan yang tidak dilakukan olehnya, membuat Berlian tidak pernah merindukan rumahnya. Tempat di mana dirinya dibesarkan oleh cinta dan kebencian yang sangat kontras.

Mengingat dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Berlian mencoba untuk menyingkirkan sedikit egonya.

Bagaimanapun, se-benci apa pun seorang ibu terhadap anak, pasti masih ada rasa sayang yang terselip di hatinya, walau sulit untuk diyakini oleh Berlian jika perasaan itu ada di hati Mutiara.

Mengumpulkan segenap keberanian, Berlian mengetuk pintu besar di hadapannya.

Bangunan yang selalu sepi dan dingin ini rasanya tidak cocok untuk menggambarkan kehangatan sebuah rumah yang sering dia temukan dalam kutipan-kutipan kehidupan di halaman internet.

"Lian." Kilauan bahagia terpancar dari sorot mata Galih sewaktu membuka pintu dan mendapati sosok putri kesayangannya berdiri di teras rumahnya.

Sungguh kejadian yang cukup langka. Biasanya Berlian tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumah orangtuanya jika tidak dipaksa oleh Mutiara.

"Ayah." Sedikit membungkuk, Berlian meraih tangan sang ayah. Mengecup punggung tangan yang sudah mulai muncul keriput halus dan memperlihatkan urat dari balik kulit sawo matangnya. "Apa kabar?" Terdengar formal, tapi itulah yang keluar dari mulut Berlian.

Galih mengulas senyum. Tangannya terulur untuk mengusap bahu kiri Berlian. "Akhirnya kamu pulang. Ayah senang melihatmu kembali ke rumah ini."

"Ini kedatanganku, Yah. Bukan kepulanganku." Singkat dan sederhana namun cukup untuk membuat Galih bungkam. "Aku mau ketemu Ayah dan Ibu. Ada sesuatu yang mau aku sampaikan."

Galih membuka lebar pintu rumahnya kemudian menelengkan kepalanya ke arah dalam rumah, mempersilakan Berlian masuk.

Suara gelak tawa Mutiara bersama dengan Zayn terdengar sangat nyaring sewaktu Berlian menginjakkan kakinya di ruang tamu. Suara itu berasal dari arah ruang makan.

Sekarang hari minggu. Kebiasaan rutin, Zayn dan kedua orangtuanya datang berkunjung atau terkadang datang untuk menginap. Biasanya mereka selalu menyempatkan diri untuk datang setiap akhir pekan atau setidaknya dua kali dalam satu bulan.

Mutiara sangat menyayangi cucu pertamanya, terlebih Zayn adalah anak laki-laki yang parasnya sangat mirip sekali dengan Gema—putra sulung kesayangannya.

Mutiara masih saja memperlakukan Gema layaknya seseorang yang belum menikah. Pada kenyataannya, Gema sudah menjadi seorang ayah dan suami, tapi Mutiara selalu memperlakukannya layaknya anak remaja yang masih membutuhkan peran orangtua dalam hal keuangan dan banyak hal menyangkut hidupnya.

Sesuai dengan rencana, Berlian sengaja memilih hari Sabtu ... supaya dia dapat bertemu dengan seluruh anggota keluarganya tanpa terkecuali.

"Berlian!" sambut girang Namira melihat kedatangan adik iparnya.

Wanita yang tengah hamil besar itu pun segera bangkit dari kursinya untuk memeluk Berlian. Pada saat yang sama, Namira menyadari sesuatu. Sesuatu yang membuatnya sedikit kesulitan memeluk sang adik ipar.

Bukan karena perutnya yang sudah membesar, tapi juga perut Berlian yang mencurigakan dibalik parka yang Berlian kenakan pada siang bolong seperti ini. Sebuah kostum yang sangat salah dan tidak cocok dipakai dalam musim panas di Jakarta seperti sekarang.

Memicingkan matanya penuh kecurigaan, Namira mengambil langkah mundur kemudian tersenyum tipis sebelum menarik menarik kursi di sampingnya untuk Berlian. "Makasih, Kak," ucap wanita itu dengan seulas senyum.

Mutiara sama sekali tidak menunjukkan sikap selayaknya seorang ibu. Dia bahkan tidak mau menoleh untuk menatap putrinya yang kini tengah membungkuk sembari mengulurkan tangan—hendak meraih tangan Mutiara.

"Ibu," panggilnya dan Mutiara menoleh sekilas, memberikan tangannya untuk di kecup Berlian, sebelum wanita itu duduk di kursinya.

"Ayo, anak pintar. Makan lagi, ya." Mutiara bicara dengan Zayn sambil menyodorkan satu sendok nasi dengan daging semur ke depan mulut anak itu yang terlihat senang sekali setiap kali di dekat Mutiara.

Dalam hati Berlian meringis. Dia bertanya-tanya, apakah Mutiara akan melakukan yang sama untuk anaknya kelak?

Tidak.
Pertanyaan paling pentingnya adalah, apakah keluarga Berlian dapat menerima kenyataan bahwa dirinya hamil dan mengandung anak ... dari pria yang belum dia ketahui?

"Makan, Lian," teguran Galih membuyarkan lamunan Berlian.

"I-iya, Yah. Aku udah makan tadi."

"Mana mau Berlian makan masakan rumah. Biasa makan di restoran cepat saji sama pacar bulenya," celetuk Mutiara dengan nada ketus yang membuat Namira diam-diam menyentuh tangan Berlian dari bawah meja makan, lalu tersenyum menguatkan.

"Mutiara," tegur Galih dengan suara rendah.

Ekspresi wajah Mutiara kini sungguh mengejek. Wanita paruh baya itu menggerakkan bibirnya dengan luwes layaknya pemeran tukang gosip dalam sinetron yang ditayangkan di televisi setiap malam.

Mengalah dan memilih diam. Itulah yang Berlian lakukan kini. Dia datang membawa luka dan dosa. Dia sadar bila menanggapi Mutiara dan mengikuti egonya, hanya akan memperburuk keadaan saja.

Acara makan bersama sudah selesai. Zayn—anak itu sudah menghilang bersama Gema dan Namira. Mutiara pun hendak pergi, tapi Berlian memintanya—memohon padanya untuk tetap tinggal sebentar, karena dirinya perlu memberitahu sesuatu pada kedua orangtuanya.

Menatap penuh kecurigaan dan kebencian yang sangat kentara di wajahnya, Mutiara layaknya pemangsa yang sedang mengincar target buruannya di ruang tengah.
Duduk dengan kegelisahan, dia ingin segera pergi karena enggan bicara dengan putri bungsunya.

"Cepatlah! Kamu mau ngomong apa, sih? Kalau kamu mau minta restu menikah sama bule itu, percuma. Kamu udah tau jawaban Ibu, Berlian." Mutiara bangkit dari sofa dan merapikan bagian bawah daster sutera yang dikenakannya.

"Aku hamil."

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang