Teman Baru Berlian

31 2 1
                                        

Suara ketukan di pintu kamar membuat Berlian mengangkat wajahnya dari ponsel yang membuka aplikasi belanja online. Berlian sedang melihat-lihat pakaian dan perlengkapan bayi. Beberapa hari belakangan ini, dia senang sekali memasukkan berbagai macam perlengkapan bayi ke dalam keranjang belanjanya.

Wanita yang sebelumnya sangat anti sekali dengan anak kecil, kali ini mulai antusias berburu barang-barang lucu untuk buah hatinya kelak. Sepertinya Berlian sudah mulai disadarkan oleh keadaan, yang mana membuatnya mulai menerima kenyataan bahwa ada nyawa yang hidup di dalam rahimnya.

"Ada apa?" tanya Berlian sewaktu melihat Niko berdiri di ambang pintu kamarnya. Pria itu cemberut kemudian mendengus kasar sembari mengulurkan satu tas belanja pada Berlian. "Apa ini?" tanyanya lagi sambil melirik tas belanja berbahan kain warna putih yang mencetak sebuah brand pada bagian tengahnya.

"Judes banget," keluh Niko yang kini memaksa Berlian menerima pemberiannya. "Make up! Aku sebal liat mukamu yang polos begitu dan lebih sering mirip mayat hidup daripada manusia hamil. Pakai sedikit riasan, agar keliatan segar."

Berlian menatap Niko penuh kecurigaan. "Ada cabai di dalam lontong nih?"

"Cocol sambal kacang jadi lebih enak."

Berlian memutar matanya malas. "Aku malas pakai riasan. Lagian, make up nggak bagus untuk wanita hamil. Tapi, makasih, aku terima."

Seulas senyum terbentuk di bibir pria itu. "Gitu dong!" serunya girang. "Kamu udah makan siang? Aku bawain bento, nih. Makan bareng, yuk!"

Ingin menolak, tapi rasanya sangat tidak sopan. Pria itu sudah begitu baik pada Berlian dan mengingat kini hanya Niko satu-satunya teman terdekatnya.

Jadilah, dia mempersilakan Niko masuk ke dalam kamar dan membiarkan pintu terbuka lebar.

"Makan yang banyak, supaya anakmu sehat nantinya." Niko mulai mengeluarkan bento dari dalam plastik. Memberikan satu untuk Berlian lengkap dengan minumannya. "Ngomong-ngomong, jenis kelamin anakmu laki-laki atau perempuan, Berlian?"

"Nggak tau." Berlian mengangkat bahu dan mulai menyuap makanannya. "Aku belum USG lagi."

"Kenapa belum? Ayo USG!" Pria itu sangat antusias.

"Kenapa?"

"Supaya kamu tau apa jenis kelamin anakmu. Supaya aku tau mau membelikan apa untuk hadiah kelahirannya nanti. Supaya nggak salah warna sewaktu membeli pakaian untuknya."

"Nggak perlu repot-repot, Nik."

"Aku rela merepotkan diri untuk bayi." Suara Niko memelan, dia menundukkan kepalanya sebentar sebelum akhirnya membuat senyum yang dipaksakan. "Aku pernah kehilangan bayi."

"Kamu pernah hamil?" Pertanyaan bodoh Berlian membuat Niko mendecak sebal. "Aku hanya bertanya."

"Pertanyaanmu itu bodoh, Berlian. Aku seorang pria, dari mana bisa hamil. Bisanya menghamili." Memberi jeda sebentar untuk bernapas. "Wanitaku pernah hamil, mengandung anakku, anak kami. Tapi ... dia menggugurkannya karena belum siap jadi seorang ibu. Jujur, aku kecewa banget. Aku suka anak kecil."

Berlian tertegun. Dirinya empat bulan yang lalu adalah sosok wanitanya Niko yang datang ke tempat aborsi horor di pelosok desa. Pria itu tersenyum getir mengingat masa lalunya.

"Dia meninggalkanku untuk pria pilihan orangtuanya. Dia menikah, dan aku menderita kayak sekarang," kekehan Niko diakhiri dengan helaan napas. "Miris banget ya, hidupku." Niko kini tergelak. Tangannya mengusap matanya cepat-cepat. Berlian tersenyum tipis.

"Nggak ada hidup yang sempurna, Nikotin."

"Aku sering mendengar itu. Ayo cepat habiskan makananmu. Dan by the way, namaku Marzel Niko Utama, bukan nikotin. Kamu harus bikin bubur merah dan bubur putih karena udah mengganti namaku."

Berlian mengibaskan tangannya tanda tidak peduli.

.

.

.

Geva baru saja selesai bertemu dengan kliennya. Dia dan tim-nya berpisah di area parkir. Dengan sepeda motor kesayangannya, Geva membelah jalanan Ibukota di siang hari. Menuju tempat yang sudah dia pikirkan sejak minggu lalu.

Melepaskan helmnya, Geva mendadak ragu untuk turun dari sepeda motornya. Dia diam sejenak di bawah pohon besar yang berada di depan rumah orangtua Berlian.

Tidak salah.

Geva mendatangi rumah orangtua sahabatnya. Rumah Mutiara Chandra yang teramat membencinya tanpa alasan.

"Mau apa kamu ke sini?" Geva terlonjak kaget ketika entah dari mana datangnya Mutiara. Wanita itu sudah berdiri di samping motor Geva.

Mutia memandang sinis dan tajam pada pria yang kini sedang berusaha mencetak senyum terbaiknya yang diharapkan terlihat tulus, walau dalam hatinya dia sedang menggerutu dan mengumpati Mutia.

"T-tan .. tante, apa kabar?" Geva mengulurkan tangan, tapi Mutiara justru menyentaknya.

"Nggak perlu basa-basi. Lagi pula, saya nggak sudi bersentuhan denganmu." Tajam dan melukai hati. Mutia memang selalu seperti itu.

Dia tidak memedulikan perasaan orang lain, maupun tanggapan orang lain.

Geva mengulas senyum dan mengangguk pelan. "Apa Berlian ada, Tante?"

Kedua alis mata Mutia saling bertaut.. "Mau apa kamu cari-cari Berlian?" Ada sedikit perasaan senang yang menghampiri Mutia, karena mengetahui Geva mencari putrinya ... yang mana artinya mereka tidak bersama lagi, atau sedang tidak dalam hubungan yang baik-baik saja.

"Ada yang mau Saya omongin sama Berlian, Tante. Apa benar Berlian udah menikah? Di mana dia tinggal sekarang? Atau ... boleh kah Saya minta nomor ponselnya?" Geva memberondong pertanyaan yang semakin membuat Mutia senang.

Pasalnya pria itu sampai menanyakan nomor ponsel putrinya, berarti hubungan mereka memang sudah tidak baik-baik lagi.

Seulas senyum licik terukir di bibir Mutia yang dihiasi pewarna bibir merah gelap. "Kalau Berlian udah memutuskan untuk hidup tanpa kamu, seharusnya kamu sadar itu, Geva. Jangan cari-cari anak Saya lagi!" Mutia berjalan ke teras rumahnya dan Geva mengikuti di belakang. "Mau apa lagi?" Wanita paruh baya itu berbalik dan langsung menghardik Geva.

"Maaf, Tante. Uhm ... tolong sampaikan salam Saya untuk Berlian." Mutia hanya meninggikan sebelah alis matanya.

"Saya pamit pulang, Tante." Lagi-lagi Mutia menolak ketika Geva hendak meraih tangannya.

Geva tahu, datang ke rumah keluarga Chandra bukanlah ide yang bagus. Tapi, mengingat dirinya sudah tidak tahu lagi harus mencari Berlian ke mana, jadilah rumah ini yang dia datangi. Sayangnya, dia tidak mendapatkan apa-apa.

Kembali ke unit apartemennya, Geva masih terus memikirkan Berlian. Di mana wanita itu tinggal? Apakah dia bahagia menikahi pria yang bukan pilihannya? Semua pertanyaan berkumpul dalam kepala Geva, memenuhi hingga sesak dan membuatnya sakit kepala.

Diraihnya benda pipih dari dalam saku. Menghela napas sebelum menghubungi kontak terakhir yang ada di barisan paling atas pada panggilan keluar di ponsel Geva.

"Lou, aku butuh bantuanmu."

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang