"Jelaskan." Suara Louis tegas namun tetap tenang.
Berbanding terbalik dengan Berlian yang tidak tenang sama sekali. Kakinya menjadi sangat lemas, sehingga dia duduk di balik pintu kamarnya yang sudah dikunci.
Meletakkan minuman dingin yang dibelinya dari warung begitu saja di atas lantai.
"Aku nggak tau harus menjelaskan apa."
"Jelaskan kenapa kamu punya obat ini, Berlian?" tatapan Louis lurus langsung ke mata Berlian.
"Karena aku butuh. Emangnya kamu tau, itu obat apa?"
Louis memutar matanya. Dia menggeser tubuhnya mendekati Berlian yang masih bersandar di pintu. "Temanku pernah memberikan obat ini untuk pacarnya yang hamil."
"Oh."
Louis tidak sanggup lagi berlama-lama bersikap seolah dia tidak mencurigai apapun. "Be, cerita sama aku. Apa yang terjadi? Kamu hamil?"
Berlian tersenyum. "Ya."
"Dan kamu mau menggugurkannya?" Berlian mengangguk dan Louis menggeleng tidak percaya. Dia menggosok wajahnya beberapa kali. "Berapa usia kandunganmu?"
"Empat bulan."
"Fuck! Is it mine?"
"Nggak tau."
"Gimana maksudnya nggak tau? Empat bulan lalu kita masih berhubungan, Be. Kamu ingat kan?"
"Aku ingat. Tapi aku nggak tau, ini anakmu atau anak Geva."
"Maksudnya?"
Berlian menarik rambutnya ke belakang. Sedikit menjambaknya dengan sengaja. Louis memerhatikannya penuh kekhawatiran. "Setelah kita berhubungan, Geva datang dan ... kami melakukannya. Dia melakukannya. Memaksaku." Perih hati Berlian mengingat kejadian hari itu dan menceritakannya pada Louis hari ini.
"Geva tau?" Berlian menggeleng lemah. "Kamu sengaja pindah untuk menghilangkan jejak?"
"Aku nggak tau harus gimana, Lou," lirih Berlian bersamaan dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
Tangan Louis terulut untuk menggenggam tangan Berlian. Memberikan kekuatan untuk wanita itu dan meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. "Izinkan aku bertanggung jawab, Be."
Berlian tertawa miris. "Kamu udah nikah, Lou. Jessie temanku, kalau dia tau kita pernah berhubungan—" Berlian menggelengkan kepalanya cepat, mengusir pikiran buruk. "Lagi pula, belum tentu ini anakmu."
"Seenggaknya izinkan aku untuk membantumu melewati ini, Be. Kamu nggak sendirian. Dan kamu seharusnya berada di tempat yang layak untuk membesarkan anakmu kelak. Bukan di tempat ini."
"Membesarkan anak? Aku nggak ada niat untuk itu. Makanya aku beli obat itu." Berlian menunjuk obat yang diletakkan oleh Louis di lantai. Cepat-cepat Louis mengambilnya dan memasukkannya ke saku. "Hey! Kembalikan!" rengek Berlian dan Louis menggeleng tegas.
"Anak adalah titipan dari Tuhan yang seharusnya dijaga baik-baik."
"Tapi anak ini adalah hukuman untukku dari Tuhan, karena aku udah melawan orangtua dan melakukan banyak dosa."
"Apa yang udah kita lakukan itu adalah dosa besar, Be. Dalam agama manapun, statusnya tetap dosa. Kalau kamu menggugurkan kandungan, sama aja kamu menambah dosa dan bebanmu sendiri."
"Kalau aku nggak menggugurkannya, aku bakal di coret dari kartu keluargaku, dan aku nggak bisa menghidupinya sendirian. Aku nggak pernah menginginkan seorang anak, membayangkannya pun nggak mau." Ada kecewa dan kekesalan dalam ungkapan Berlian.
Louis menarik napas dalam-dalam, dia memejamkan mata sembari mengembuskannya perlahan melalui mulut.
"Jessie diperkosa, dan dia hamil." Ketika membuka mata, dia melihat keterkejutan di wajah Berlian. "Dia mau melakukan hal yang sama kayak kamu. Tapi, aku mencegahnya. Aku memilih untuk menikahinya, walaupun dia menolak. Tapi aku memaksa. Selain karena aku mencintainya, aku juga nggak mau menghilangkan nyawa calon manusia yang tidak berdosa, Be."
Berlian terisak dalam tangisnya sewaktu tangan Louis merengkuhnya, menariknya ke dalam pelukan. Air matanya tumpah di bahu pria itu.
"Tolong jangan gugurkan, Be. Aku akan membantumu sampai anakmu lahir. Jangan pikirkan biaya, cukup pikirkan kesehatanmu dan janinmu. Aku akan memenuhi segala kebutuhan kalian." Louis mengusap kepala Berlian yang justru membuat wanita itu semakin terisak.
"Gimana kalau ini anak Geva?"
"Geva temanku. Aku akan tetap membantumu. Kamu akan tau siapa ayah biologisnya jika kamu sudah melahirkannya nanti, Be. Tolong, aku mohon! Pertahanakan, Be."
"Aku nggak bisa, Lou. Aku nggak bisa melewati ini sendirian. Aku nggak bisa!"
"Kamu bisa, Be. Kamu wanita hebat yang kuat. Kamu harus pikirkan risikonya kalau kamu melakukan aborsi dan semacamnya. Empat bulan bukan lagi ukuran janin yang mudah dihancurkan. Empat bulan, Tuhan udah meniupkan ruh ke dalamnya, Be. Dia udah bernyawa di dalam perutmu. Jangan jadi pembunuh darah dagingmu sendiri."
.
.
.
Louis tersenyum miris, melihat Berlian yang tengah tidur lelap di atas kasurnya yang sempit dan tipis. Louis merasa bersalah, sangat bersalah. Karena dia, hidup Berlian menjadi seperti sekarang.
Dalam hatinya dia berdoa, semoga saja janin yang tengah dikandung oleh Berlian bukanlah darah dagingnya. Tidak terbayangkan jika janin itu adalah miliknya.
Bagaimana perasaan Berlian?
Bagaimana perasaan Jessie yang sudah menjadi istrinya?
Dia tidak ingin menjadi seperti sosok ayahnya yang tidak bertanggung jawab sejak dia berada di dalam kandunngan ibunya. Dia tidak ingin menjadi sosok pria pecundang yang dibenci oleh anaknya sendiri.
Meraih ponsel dari dalam saku. Louis menghubungi seseorang.
Berlian mengerjap. Menyesuaikan pencahayaan yang masuk melalui celah matanya. "Kamu masih di sini?" tanyanya setelah Louis selesai bicara dengan seseorang di telepon. "Kenapa belum pulang?"
"Penerbanganku besok malam. Kamu mau minum? Aku udah pesan makanan untuk makan malam."
Louis meraih air mineral kemasan gelas di lantai. Satu tangannya terulur untuk membantu Berlian duduk. Kemudian dia memberikan air mineral yang sudah dibuka untuk Berlian.
"Makasih, Lou. Kamu nggak perlu begini."
"Harus! Besok kamu pindah ya dari sini. Kalau kamu nggak mau kembali ke rumahmu, nggak apa-apa. Kebetulan aku ada kenalan di Sunflower. Nanti kamu tinggal di sana, ya. Dia seorang perawat, kamu pasti aman tinggal sama dia."
"Lou ...."
"Tolong jangan menolaknya, Be. Aku mau yang terbaik unutkmu dan calon anakmu ... mungkin juga anak kita."
Tidak dapat berkata apa-apa. Berlian hanya mampu memeluk Louis dan kembali menangis. Dia merasa sangat beruntung dapat mengenal sosok pria seperti Louis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
