"Be, masih lama nggak?" Louis melirik jam di tangan kirinya.
Terdengar suara gaduh dari dalam kamar Berlian. Wanita itu tengah sibuk berjalan mondar-mandir dan menendang barang apapun yang menghalangi jalannya. Dia bahkan mengumpat pada ujung karpet di bawah ranjangnya yang terlipat dan nyaris membuatnya tersandung.
Berlian sangat gugup, takut, juga ... segala bentuk rasa tengah menyelimutinya. Dia belum pernah mengenalkan pria manapun pada keluarganya, terutama sang ibu yang sangat pemilih.
Satu-satunya pria yang dikenal oleh keluarga Chandra, hanyalah Geva—pria yang sangat dibenci oleh Muthia.
Tawaran Louis telah diterima oleh Berlian, untuk menjadi pacar pura-puranya yang dikenalkan ke keluarga Chandra.
Berlian tidak tahu kelanjutan hubungannya dengan setelah ini. Dia sangat takut kalau Muthia akan melakukan hal yang buruk pada Louis. Dia takut membuat Louis menjadi ilfeel dengannya dan tidak lagi mau berhubungan dengannya.
"Tuhan!" geram Berlian yang tengah kalut.
Kepala Louis muncul dari celah pintu yang terbuka. "Kenapa lagi?"
Berlian terperanjat. "Nggak usah datang, deh, Lou."
"Kamu mau di jodohin jadinya?" Louis mengerutkan keningnya.
"Nggak mau. Tapi, aku takut kalau nanti ibuku melakukan hal yang buruk sama kamu, atau dia bicara yang nggak enak di dengar," cicit Berlian sembari menggigit kuku jari tangannya.
Louis menghela napas. Dia mendekati Berlian dan meraih tangan wanita itu. "Jangan digigitin terus," nasihatnya sembari membawa tangan Berlian ke bibirnya untuk dikecup. "Nggak usah khawatir berlebihan. Seenggaknya kamu mau mencobanya malam ini, Be. Daripada kamu dijodohin? Lebih baik ibumu berkata kasar ke aku."
"Nggak gitu, Lou. Kamu udah baik banget sama aku. Ibuku lidahnya lebih tajam dari pembawa acara berita gosip."
Louis terkekeh sembari menarik tubuh Berlian ke dalam pelukannya. Aroma parfum pria itu membuat Berlian memejamkan matanya untuk menikmati. Degup jantung Louis sangat tenang dan normal. Berlian dapat mendengarnya dengan jelas.
"Kenapa kamu mau melakukan ini, Lou?"
"Karena aku sayang kamu."
Berlian menelan ludahnya. Seketika dia merasakan adanya getaran yang kuat dari dalam dirinya. Seketika wanita itu menjadi terbakar. Berlian mencium lembut bibir Louis. Menekan tengkuk pria itu—menuntutnya untuk memberikan respon yang lebih.
"Be, nanti kita terlambat," ucap Louis disela-sela ciumannya.
"Nggak apa-apa."
"Kamu kenapa tiba-tiba begini?"
"Aku mau kamu sekarang!" tuntut Berlian dengan kecepatan tangannya yang menarik bagian krah kemeja Louis.
Dengan lihai dan lincah, jemari tangannya melepaskan kancing melalui lubangnya. Dia mendorong Louis ke atas ranjang. Pria itu tersenyum miring melihat Berlian yang tengah terbakar hasratnya sendiri.
Berlian melepaskan gaunnya cepat-cepat. Kemudian dia melompat ke atas tubuh Louis layaknya seekor puma. "Be, kita bisa melakukannya sepulang dari rumah ibumu." Louis menahan tangan Berlian yang sedang berusaha melepaskan ikat pinggangnya.
"Aku nggak tau apa yang terjadi setelah kita pulang dari sana. Sebelum kamu menyesal, aku mau melakukannya sekarang, Lou." Berlian mencecap kulit leher Louis—membuat pria itu meremas bokong Berlian untuk menahan gelenyar akrab yang menghampirinya.
"Tap—"
Terlambat!
Berlian sudah berlutut di lantai—di antara kedua kaki Louis. Dia sudah berhasil melepaskan ikat pinggang, hingga celana boxer pria itu. Senyum Berlian yang nakal disertai kedipan sebelah matanya pun berhasil memancing gairah Louis. Kejantanan pria yang sudah mencuat kencang itu pun segera disambut oleh Berlian.
Louis terengah-engah menerima layanan special dari Berlian. "Be. Ah!" Ditariknya tubuh Berlian kembali ke atasnya. Kemudian dengan sebelah tangan, Louis memindahkan Berlian ke samping lalu dia menukar posisinya dengan mengukung wanita itu. "It's my turn." Seringai itu menghancurkan akal sehat Berlian.
Berlian menyerahkan dirinya pada Louis, sebelum dia mengakhiri malam ini dengan buruk bersama keluarganya. Jika sepulang dari rumah orangtuanya nanti, Louis akan membecinya, tidak apa. Setidaknya sekarang dia bisa memberikan kenangan yang bagus untuk pria itu.
Menit-menit berlalu, sampailah keduanya pada puncak pelepasan yang membuat mereka terengah-engah. Dengan napas yang masih saling berkejaran, mereka membersihkan diri masing-masing kemudian memakai pakaiannya kembali. Bersiap-siap untuk mendatangi rumah Chandra.
.
.
.
Di dalam perjalanan, Louis tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Berlian. Dia sesekali tersenyum dan mengecup hangat punggung tangan wanita itu. "Kamu luar biasa, Be," akunya dengan senyum cerah.
Ingin sekali rasanya Berlian menyetujui pengakuan dari Louis. Tapi dia hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia takut rasa percaya dirinya justru membuatnya menjijikan di mata Louis. Biasanya dia akan menyanjung diri sendiri bila pria yang berkata seperti itu adalah Geva.
Oh Geva ....
Sampai detik ini Geva masih belum juga memberi kabar pada Berlian. Sebenarnya dia ingin menanyakan kabar Geva pada Louis, tapi entah kenapa dia merasa takut. Takut kalau Louis menaruh curiga atau menerka-nerka akan sesuatu yang janggal antara dirinya dengan Geva.
Hampir satu jam membelah jalanan Kota Jakarta yang cukup padat, akhirnya mereka tiba di rumah Chandra.
Sejak Louis mematikan mesin mobilnya, Berlian meremas tangan pria itu. Dia kembali diserang rasa khawatir yang berlebihan. Dia membayangkan akan seperti apa reaksi keluarganya bila melihat pria yang dibawanya adalah orang asing.
"Tenang, Be. Semuanya akan baik-baik aja, kok." Louis mendaratkan kecupan ringan di pelipis Berlian. "Yuk!"
Berlian heran, bagaimana bisa Louis setenang itu?
Mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya berkali-kali, akhirnya Berlian keluar dari mobil setelah Louis membukakan pintu untuknya. Louis memang sebaik itu.
"Ibuku agak alergi orang asing," ujar Berlian sebelum mengetuk pintu rumah orangtuanya.
Dia melirik untuk melihat reaksi Louis, tapi pria itu masih terlihat tenang, bahkan dia masih sempat mencium pipi Berlian sebelum pintu dibuka oleh sang pemilik rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Fiksi Ilmiah18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
