Berlian tengah meringis kesakitan sembari menekan perutnya kuat-kuat. Datang bulan selalu membuatnya seperti itu. Kadang kala, Berlian sampai pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakitnya.
"Be, minum ini." Geva membantu Berlian untuk duduk—meminum jamu kemasan datang bulan uang dibelinya di minimarket.
Cengkraman kuat di bahu, membuat Geva merasa kasihan dengan Berlian. Dia selalu saja tidak tega setiap kali melihat Berlian kesakitan.
"Kamu nggak kerja?" Berlian kembali berbaring setelah menghabiskan jamunya.
Geva membungkuk, kemudian dia mengecup kening Berlian penuh kasih sayang. "Aku izin hari ini, supaya bisa temenin kamu." Senyum tulusnya tercetak jelas. "Kamu mau makan apa hari ini?"
Tidak menjawab, Berlian justru merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Geva yang memahami maksudnya segera mendekat dan memeluknya dalam posisi duduk membungkuk.
"Aku mau dipeluk aja hari ini," kata Berlian sembari bernapas pelan di telinga Geva.
"Oke." Geva melompat ke samping Berlian—berbaring dan memeluk wanita itu erat-erat.
Telapak tangan Geva bergerak naik-turun di punggung Berlian, membuat rasa sakit wanita itu sedikit berkurang. Ajaib memang rasanya, Geva selalu berhasil mengurangi rasa sakit apapun yang tengah dirasakannya.
"Kamu sadar nggak sih, kalau beberapa bulan terakhir ini kita jadi jauh? Kayak ada jaraknya gitu," tutur Geva yang merasa adanya perubahan dalam hubungan persahabatan mereka.
Sudah hampir tiga bulan lamanya Berlian dan Geva tidak bertemu. Mereka juga tidak lagi sering bertukar pesan. Geva tengah sibuk dengan pekerjaannya dan juga sibuk dengan Giana.
Berlian memang sengaja menjaga jaraknya dari Geva supaya sahabatnya itu bisa fokus dengan kehidupan pribadinya. Terlebih dia juga sangat senang akan kehadiran Giana di dalam hidup Geva yang sedikit-banyak merubah beberapa kebiasaan buruk sahabatnya itu.
Tidak dapat dipungkiri, Berlian sangat merindukan Geva. Sehingga pagi ini, Berlian lebih dulu menghubungi Geva, memberitahu kalau dirinya sedang sakit dan Geva segera meluncur ke rumah Berlian tanpa pikir panjang.
Geva juga merindukan Berlian. Sangat merindukannya. Dia juga kehilangan sosok wanita rewel yang menggemaskan dalam hidupnya selama dua bulan terakhir.
Walaupun ada Giana, tapi tetap saja. Hati Geva masih terasa kosong. Geva memang menyukai wanita itu, tapi dia juga tidak dapat membohongi dirinya sendiri kalau jauh di dasar hatinya, dia mencintai Berlian—sahabatnya.
Berlian berbaring telentang. Dia membawa satu tangan Geva ke atas perutnya. Geva langsung mengusap-usap perut Berlian yang mana membuat wanita itu memejamkan mata.
Pillow talk seperti ini sering sekali dilakukan oleh mereka. Berlian sangat menyukainya.
"Masa, sih?"
"Emangnya kamu nggak merasa gitu?"
Berlian menggelengkan kepala pelan. Dia mendorong tubuhnya ke atas—menyejajarkan tubuhnya dengan Geva. Mendekatkan wajahnya dan menggesekkan hidungnya ke hidung Geva.
Kecupan hangat Geva membuat Berlian tersenyum ringan. Dipandanginya wajah tampan Geva lekat-lekat. Berlian benar-benar sangat merindukannya.
"Gimana kelanjutan hubunganmu sama Giana?" Berlian mengusap tulang rahang Geva yang sudah dipenuhi rambut halus. "Dia membuatmu jadi kayak bapak-bapak," ejeknya karena berewok di sekitar wajah Geva yang cukup lebat.
"Supaya aku terlihat sebaya dengannya," jawab Geva asal kemudian dia mengecup bibir Berlian lagi. "Aku kangen banget sama kamu, Be. Aku kangen kita kayak gini."
"Emangnya, berapa umurnya Giana?" tanya Berlian ingin tahu. "Aku juga kangen, Ge."
"Tiga puluh lima or something, aku nggak tau persisnya, tapi masih under empat puluh, sih."
Jawaban Geva berhasil membuat Berlian membolakan matanya. "Serius? Kukira, dia sebaya sama kita atau beda sekitat dua tahun di atas kita," papar Berlian yang cukup terkejut.
Pasalnya, tubuh Giana yang ramping dan bugar, membuatnya terlihat muda. Tidak terbayangkan oleh Berlian jika usia wanita itu sudah kepala tiga.
Mendadak Berlian merasa rendah diri. Di usianya yang terbilang masih masuk kategori muda, Berlian malas sekali untuk berolahraga sehingga dia mudah kelelahan dan jatuh sakit.
Jenis olahraga kesukaan Berlian sejauh ini hanyalah olahragà di atas ranjang dengan Geva dan Louis.
Ngomong-ngomong soal Louis. Kabarnya pria itu tengah kembali ke London untuk menghadiri pesta pernikahan mantan kekasihnya. Berlian tidak habis pikir, bagaimana pria itu sanggup menghadiri pesta bahagia dari orang yang pernah menemaninya selama bertahun-tahun?
Sedikit-banyak, Louis menceritakan kehidupan asmaranya pada Berlian. Mereka berdua menjadi akrab belakangan ini. Louis sangat baik dan juga perhatian, sehingga membuat niat juga tujuan Berlian di awal menjadi luruh perlahan.
"Kamu sayang sama dia, Ge?" Terdiam dan hanya saling tatap selama beberapa menit. Geva akhirnya menganggukkan kepalanya. "Kamu cinta sama dia?" Pertanyaan Berlian selanjutnya membuat Geva terdiam lagi.
"Aku cintanya sama kamu, Be," ucap Geva lirih dalam hatinya.
"Aku senang banget akhirnya kamu bisa punya pacar, Ge. Eh? Udah jadian kan, kalian?"
Geva menggelengkan kepalanya. Sejujurnya dia tidak mau membahas hubungannya dengan Giana untuk saat ini. Karena dirinya pun masih bingung sekali dengan situasi dan kondisi yang tengah di hadapinya.
"Kenapa belum jadian? Katanya kamu mau menikah? Umurnya Giana udah pas banget untuk berumah tangga. Dia bisa jadi istri yang sempurna buat kamu, Ge."
Hati Berlian mendadak perih setelah mengucapkan semua itu. Dia pun bingung, semua kalimat itu keluar dengan sendirinya tanpa dia pikirkan sebelumnya.
Geva memejamkan matanya. Dia pun merasakan ada sesuatu yang menghantam dadanya sehingga membuatnya sakit dan sedikit sesak setelah mendengar ucapan Berlian.
Bagaimana caranya membuat Berlian mengetahui isi hati Geva yang sesungguhnya? Geva ingin sekali mengungkapkan perasaannya, tapi lagi-lagi dia takut hubungan persahabatannya akan rusak, hancur berantakan. Dia belum sanggup kehilangan Berlian dalam hidupnya. Kehilangan sosok sahabat yang teramat dia cintai.
"Kalau aku maunya nikah sama kamu, gimana, Be?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
