Sudah berulang kali Geva mencoba untuk menghubungi Berlian, namun ponsel wanita itu belum juga diaktifkan.
Geva sudah mandi dan berpakaian rapih. Dia juga sudah membuat secangkir teh hangat yang kini sudah menjadi dingin, karena terlalu lama dibiarkan.
Suara ketukan di pintu membuat Geva segera berlari menghampiri dan membukanya.
"Hai!" Giana tersenyum manis sekali di depan pintu.
Wanita itu membawa sepiring brownies yang aromanya menggugah selera.
Geva pikir, Berlian kembali. Ternyata, Giana.
Pria itu memejamkan mata selagi dia menghirup napas panjang dan mengembuskannya melalui hidung, perlahan-lahan.
"Ge?" Giana menyentuh bahu Geva, yang mana membuat pria tersebut terkesiap dan mengambil langkah kecil ke samping. "Kamu sakit?" tanya Giana penuh kekhawatiran.
Wanita itu mendorong Geva perlahan masuk ke dalam unitnya, lalu dia menutup pintu di belakangnya menggunakan kaki kanan.
Geva kebingungan. Pria itu tidak merasa sakit ataupun tidak enak badan dan semacamnya. Tapi kenapa Giana berpikir kalau dirinya sakit?
"Eng-engga, Gi. Kamu ngapain ke sini?" Sadar pertanyaannya cukup kasar, Geva segera meralatnya. "Maksudku, ada apa?"
"Aku bawain ini buat kamu. Sebagai tanda terima kasih, untuk kemarin." Giana mengedipkan sebelah matanya. "Oiya, sekalian mau ambil dalamanku." Wanita itu meletakkan piring brownies ke atas meja makan.
"Sebentar, aku ambilkan dulu." Geva masuk ke dalam kamar untuk mengambil pakaian dalam milik Giana yang tertinggal dan sudah dia simpan ke dalam kantung laundry. "Astaga! Giana."
Pria itu melompat ketika tiba-tiba Giana memeluk pinggangnya dari belakang.
"Kamu kagetan banget, Ge," kekeh Giana sembari mengeratkan pelukannya.
Jemari kurus wanita itu perlahan memutari sekitar perut dan pinggang Geva dari luar kausnya.
Geva berbalik. Dia menempatkan kedua tangannya di pinggang ramping Giana. Wanita itu tersenyum sembari memiringkan kepalanya ke samping, menatap sosok pria di hadapannya lekat-lekat.
"Kamu mau apa, Gi?" tanya Geva dengan suara rendahnya.
Jemarinya meraba kulit di bagian lengan Giana. Tubuh Giana meremang merasakan sentuhan Geva.
"Kamu tau yang aku mau, Ge," kata Giana yang kini tengah menggigit bibir bawahnya dengan maksud menggoda Geva.
Geva tersenyum miring. Sedetik kemudian dia mendorong Giana ke atas ranjang. Giana girang, karena dia tidak perlu bersusah payah untuk membuat Geva meresponnya.
Keduanya larut dalam keintiman yang membuat ruangan menjadi sangat panas sehingga mereka berkejaran mengambil napas.
Lenguhan dan desahan menjadi irama merdu yang membungkus keduanya dalam kenikmatan hasrat yang membara hingga membakar mereka dalam menit-menit selanjutnya.
Geva menyeka keringatnya yang menetes di sekitar dada Giana, menggunakan ibu jarinya. Wanita di bawahnya tersenyum—menyentuh lengan Geva dengan lembut.
"You got me addicted, Ge," desah Giana sembari mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
Geva hanya tersenyum kemudian berbaring miring di samping Giana. Memandangi wajah wanita cantik di samping sambil memuji dalam hati.
Giana memang sangat cantik. Dia memiliki warna kulit yang eksotis—kulit asli wanita Indonesia yang selalu menarik perhatian.
Ada sebuah bekas luka di bawah tulang rahang Giana yang membuat Geva menyentuhnya. Buru-buru Giana nenutupi dengan tangannya.
"Kenapa?" tanya Geva.
"Bekas luka." Giana bangkit dan menghela napas sebelum mulai mengenakan pakaiannya kembali satu persatu.
"Karena apa?" Geva duduk—melipat kedua kakinya di atas ranjang. Dia mendadak ingin tahu tentang bekas luka yang membentuk keloid di bawah rahang Giana.
Giana menoleh untuk melemparkan senyum manisnya. Wanita itu memiliki lesung di kedua pipinya, yang mana membuat senyumnya terlihat sangat manis.
"Goresan pecahan botol wine," jawab Giana sembari mengikat rambutnya kemudian berdiri untuk mengenakan celana jeansnya lagi.
"Siapa yang melakukannya, Gi?" Sadar pertanyaannya sudah terlalu jauh, Geva buru-buru meminta maaf. "Maaf, aku nggak bermaksud—".
"Nggak apa-apa, Ge. Makan browniesnya dong!" rengek Giana menarik tangan Geva, mengajaknya ke ruang makan.
"Beri aku lima menit, nanti aku menyusul." Giana mengangguk mengerti.
Dia keluar dari kamar lebih dulu selagi Geva memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian kembali memakainya seperti semula.
Sewaktu Geva menyusul ke ruang makan, Giana tengah duduk di kursi makan sambil memotong brownies buatannya sendiri.
"Resep baru?" tanya Geva yang berdiri di sampingnya.
"Iya. Cobain deh." Giana menyuapi Geva dan pria itu mengunyahnya dengan dramatis. "Gimana rasanya?"
"Enak," jawab Geva sambil menarik kursi untuk duduk di samping Giana. "Seenak kamu," desahnya di telinga Giana.
Wanita itu refleks mencengkram paha Geva dan menggigit bibir bawahnya sendiri. "Don't do that, please!" desisnya.
"Kenapa? Kamu emang enak, kok." Geva mengambil potongan brownies dan memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya sembari memandangi wajah Giana.
Tidak dapat dipungkiri lagi, Geva menyukai Giana sejak lama. Sejak dia pindah ke Steels Tower, Giana lah tetangga pertamanya yang sangat ramah dan seringkali membawakannya masakan atau kue-kue buatannya.
Usia Giana terpaut lima tahun di atas Geva. Walaupun begitu, Giana tidak terlihat tua sama sekali. Justru dia sangat cantik dan menarik, tubuhnya ramping dan seksi. Wanita itu adalah seorang koreografer, jadi tidak perlu heran bila tubuhnya sangat bagus.
"Gi," panggil Geva dari bawah alam sadarnya yang sedang melamunkan Giana.
"Hm?" Giana menoleh.
Geva diam. Bahkan dia tidak berkedip selama beberapa detik. Tapi tiba-tiba saja Geva menekan bibirnya ke bibir Giana. Disela-sela ciuman, Giana tersenyum.
Giana sudah menyukai Geva sejak lama, namun dia takut kalau pria itu tidak tertarik padanya.
Tapi, setelah mengamati dari jauh, Giana mempelajari sendiri, apa saja yang dapat menarik perhatian Geva. Sampai akhirnya dia mengarang cerita tentang air di unitnya yang tidak keluar, padahal air di unitnya baik-baik saja.
Hari itu dia bertaruh dengan keberuntungannya. Jika dia gagal menggoda Geva, maka dia akan pergi menjauh. Tapi keberuntungan seolah berpihak padanya, karena dia berhasil menggoda Geva bahkan hari ini juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
