Giana baru saja membuka gorden kamarnya. Suara erangan Geva membuatnya menoleh ke belakang. Pria itu sedang menggeliat di atas ranjang. Mendorong udara dengan tangannya—ke atas.
"Selamat pagi," sambut Giana dengan sebuah kecupan di pipi. "Pusing nggak?" Wanita itu mengusap wajah Geva, lalu menyisiri rambut pria itu dengan jari tangannya.
"Selamat pagi." Geva membalas kecupan Giana tepat di bibir, secara singkat. Wanita itu tersenyum kemudian merapatkan tubuhnya sehingga Geva dapat dengan mudah memeluknya. "Lumayan masih sedikit pengar," ujar Geva.
"Itu minum dulu obatnya. Aku mau bikin sarapan. Kamu mau apa?"
"Maunya kamu."
"Jangan."
"Kenapa?" rengek Geva membuat Giana tertawa kecil dan mencubit pipinya gemas. "Aku maunya sarapan kamu aja," sambung pria itu lagi dengan rengekan manja.
"Capek, Ge. Kamu minum dulu itu obatnya, ya. Aku mau bikin sarapan."
Geva mengerucutkan bibirnya, membuat ekspresi sedih yang dramatis. Giana tetap meninggalkannya sendirian di kamar.
Wanita itu mulai menyibukkan diri di dapurnya.
Sepulang dari kelab semalam, mereka kembali ke unit Giana. Karena Geva benar-benar sangat mabuk dan dia tidak tahu kode pin unit pria itu, mencari kartu aksesnya pun tidak ketemu. Akhirnya dengan bantuan Arkan, dibawalah Geva ke unit Giana.
Berdiri di bawah kucuran air shower, Geva memikirkan Berlian. Sahabatnya itu belum mengabarinya sejak semalam. Dia khawatir kalau Berlian marah padanya karena soal Giana.
"Ge, kalau mau gosok gigi ambil aja sikat giginya di laci, ya. Masih baru, kok. Bathrobe yang baru ada di lemari handuk." Giana mendorong pintu kamar mandi yang tidak di tutup rapat oleh Geva.
"Iya, Gi. Makasih," sahut Geva. Kemudian pria itu keluar dari bilik shower.
Masih dalam keadaan tubuh yang basah, air yang bercucuran dari tubuhnya ke lantai. Geva melangkah gontai ke arah pintu. Giana menelan ludahnya dan berusaha untuk melihat ke arah lain.
Walau sudah beberapa kali melihat bahkan mencicipi aset pria itu, tapi entah kenapa Giana masih saja selalu tertarik dan tidak dapat menahan nafsu dalam dirinya.
"Kamu udah mandi?" Geva menarik pintu, sehingga Giana nyaris terpeleset karena dia bersandar pada daun pintu kamar mandi. "Maaf, Gi." Geva menahan tubuh wanita itu.
Tatapan keduanya cukup lama sampai keduanya mengulas senyum tipis setelah memuji dalam hati masing-masing. "Kamu cantik banget, sih, Gi," puji Geva sembari membelai wajah wanita cantik di hadapannya.
Giana sangat lemah akan pujian dan sentuhan Geva. Tubuhnya seketika meremang dan keinginan untuk mencium pria itu sangat besar sekali.
Tapi, Geva lebih dulu beralih ke wastafel. Menarik laci di bawahnya untuk mengambil sikat gigi. Masih dalam keadaan tanpa busana, pria itu menggosok giginya.
"Aku lanjut masak, ya." Giana meninggalkan Geva ketika sadar dirinya sedang menggoreng telur.
Setengah berlari, Giana sampai di dapurnya. Di sekitar kompornya sudah mengepul asap. Telur di dalam wajannya sudah berwarna cokelat kehitaman. Sebelum alarm kebakaran mendeteksi asap berlebihan dan berbunyi—membuat heboh penghuni seluruh gedung, cepat-cepat Giana mematikan kompornya.
Napas Giana terengah-engah. Kakinya menjadi lemas seperti tidak bertulang. Kelalaiannya hampir saja membawa bencana.
Giana bersandar pada kitchen island. Keringat di pelipisnya adalah keringat rasa takutnya. Tangannya gemetar mencengkram serbet.
"Gi? Kamu kenapa?" Geva muncul dan Giana langsung memeluk pria itu. Kemudian Geva menyadari kalau banyak sekali asap di dalam dapur wanita itu dan telur gosong di dalam wajan. Aroma hangus yang kuat juga mulai menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.
"Aku nyaris membakar dapur ini, Ge," lirih Giana dengan suara bergetar.
"Ya, ampun. Tapi kamu nggak kenapa-kenapa?" Geva menarik diri. Memegangi kedua bahu Giana dan memeriksa keadaannya.
"Aku nggak kenapa-kenapa, kok. Cuma kaget aja, lemas kakiku."
"Sebentar." Geva menuntun Giana untuk duduk di kursi makan, kemudian dia beralih untuk mengambilkan air minum. "Minum dulu, Gi."
"Makasih, Ge." Diteguknya air segelas sampai habis. Giana benar-benar shock. "Nanti beli makanan di bawah aja ya, untuk sarapan?"
"Gampang. Kamu mau makan apa? Biar aku yang beliin nanti."
"Aku ikut kamu aja, samain aja kayak kamu."
Geva tersenyum. Helaian rambut Giana yang menutupi hampir sebagian wajahnya dibawa oleh Geva ke belakang telinga—menyisipkannya di sana.
Dalam hati Geva sibuk memuji kecantikan Giana. Dalam kepalanya sibuk memikirkan sahabatnya yang kemungkinan besar sedang merajuk.
"Kan, kamu tau kalau aku maunya sarapan kamu, Gi," ujar Geva pelan. Suaranya yang sedikit berat dan serak membuat Giana menarik napas panjang.
"Nanti kamu bosen, Ge."
"Nggak akan pernah bosen, Giana. Kamu itu main course paling enak."
Giana tertawa terbahak-bahak. Dia mencubit bibir Geva dengan gemas karena sudah asal bicara. "Kamu 'tuh, kalau ngomong suka sembarangan banget, ih!"
"Beneran, Gi." Geva meraih kedua tangan Giana kemudian mengecupnya bergantian. Dia benar-benar menyukai wanita itu. "Nanti jalan-jalan, yuk!" ajak Geva tiba-tiba.
"Jalan-jalan ke mana?"
"Puncak?"
"Ini hari Minggu, Geva. Ada jalur buka-tutup di puncak dan pasti macet banget. Lagian, besok kita kerja. Nanti kelelahan," tutur wanita itu membuat Geva menghela napas.
"Kalau begitu kita ke ...." Geva berpikir sejenak. "Bogor!"
"Mau apa ke sana?"
"Ke kafe yang lagi hits banget akhir-akhir ini." Geva antusias.
Beberapa minggu lalu, Berlian menunjukkan sebuah video yang memperlihatkan penampakan kafe dengan menu unik dan tempat yang aesthetic. Sahabatnya itu ingin sekali ke sana, tapi Geva berulang kali mengatakan 'tidak', karena selain jauh, macet di akhir pekan seringkali membuatnya kehabisan sabar.
Tapi hari ini, dia justru mengajak Giana pergi ke Bogor tanpa memikirkan jarak maupun macetnya jalanan di akhir pekan.
"Kamu anak hits jaman sekarang banget, sih." Giana mengejek.
"Biar nggak ketinggalan jaman, Gi," kekeh Geva. "Mau nggak?" Setelah bertanya, Geva memeriksa ponsel. Berlian masih belum menghubunginya.
"Boleh, deh. Tapi sekarang kita cari sarapan dulu, yuk!"
"Kamu suka ketupat sayur nggak?"
"Suka! Tapi kan, nggak ada di bawah."
"Aku tau ketupat sayur yang enak di mana. Tapi, aku balik ke unit dulu ya sebentar. Ganti pakaian."
"Oke. Aku siap-siap deh." Keduanya beranjak dari kursi makan. Giana mengantar Geva sampai pintu depan kemudian pria itu mengecup bibir ranumnya singkat.
Seulas senyum tercetak di bibir Giana. Dia merasa senang sekali dengan perlakuan Geva terhadapnya beberapa hari belakangan ini. Niat menguji keberuntungan dengan menggoda pria itu, justru dirinya mendapat perhatian lebih sampai hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
خيال علميّ18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
