Kenyataan Pahit Untuk Gevariel

35 2 0
                                        

Sewaktu Geva kembali ke kamar rawat Berlian, dia menemukan Niko tengah tertawa terbahak-bahak bersama wanita kesayangannya. Lagi-lagi, api cemburu kembali membakarnya.

Dehaman Geva yang bertujuan untuk menegur, membuat Niko menoleh tapi tidak menghentikan tawanya bersama Berlian.

Nampak tidak peduli, Niko justru kembali mengatakan sesuatu yang membuat Berlian tertawa lebih kencang dari sebelumnya.

Geva cemburu. Dia iri karena ada pria lain yang mampu membuat wanita kesayangannya tertawa sampai seperti itu.

Dia merindukan saat-saat bersama Berlian dulu sekali, sebelum rumitnya masalah yang menimpa mereka berdua.

"Be, aku bawain salad." Geva memperlihatkan kantung kertas di tangan kirinya dengan logo 'super salad'. Salah satu restoran yang menjual salad terbaik dan ter-enak di Ibukota.

"Makasih, Ge. Pas banget, Niko mau pulang." Berlian memberitahu setelah tawanya reda.

Niko bangkit dari kursi dan melemparkan senyumnya pada Geva sebelum pria itu meraih ponselnya dari atas nakas.

"Kalau kamu butuh sesuatu, kabarin aku, ya, Be," pesan Niko sambil memeluk Berlian.

"Nggak perlu. Ada aku," sahut Geva sambil membuka kemasan salad.

Berlian dan Niko saling tatap kemudian mereka berdua cekikan, yang mana membuat Geva semakin jengah akan kehadiran Niko. "Makasih, ya, Nik, udah nginep semalam."

"Sama-sama, Be." Niko mengangguk kemudian berjalan ke arah pintu. "Ge, aku balik duluan. Titip Berlian, ya."

Geva hanya mengangkat satu tangannya sebagai jawaban.
Setelah pintu tertutup. Pria itu menggerutu. "Titip? Emangnya kamu barang? Sembarangan."

Berlian tertawa mendengar gerutuan pria yang kini sudah duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang mangkuk salad di satu tangannya.

"Katanya, sayuran silangan kayak kembang kol, kale, juga brokoli bisa mempercepat penyembuhan luka setelah operasi."

"Kata siapa?" Berlian membuka mulutnya, menerima sendok yang berisi beberapa sayuran.

"Temannya Louis yang dokter." Sambil mengunyah, Berlian manggut-manggut. "Kamu suka tiram, nggak? Katanya itu juga bagus untuk penyembuhan luka setelah operasi." Geva kembali menyuapi Berlian.

"Enggak," jawab Berlian dengan mulutnya yang penuh dengan sayuran. "Louis jadi datang?"

"Jadi. Mungkin sore ini dia sampai." Sejak tadi nada bicara Geva terdengar sedikit ketus dan berbeda dari biasanya. Pria itu pun tidak menatap Berlian selama menyuapi.

"Semalam, Niko menginap?"

"Iya."

"Jadi, itu alasan kenapa kamu menyuruhku nggak usah balik lagi?"

Berlian menahan tangan Geva yang hendak menyuapinya lagi. Dia meraih gelas minumnya dari atas nakas, meminumnya sampai setengah kemudian mengembalikannya ke atas nakas. Tangannya terulur untuk mengangkat wajah pria di hadapannya.

Wajah Geva penuh dengan guratan kekesalan yang bercampur dengan amarah tertahan serta kecurigaan.

"Ada apa?"

"Aku cemburu." Berlian menggelengkan kepala tidak percaya akan jawaban Geva. Karena pria itu secara terang-terangan mengatakan cemburu pada Niko. "Kenapa ketawa?"

"Kamu cemburu sama Niko?" Geva mengangguk sambil memajukan bibirnya. "Kamu mikir apa emangnya?"

"Nggak tau. Cemburu. Nggak suka kalau dia perhatian sama kamu dan kamu bahagia sama leluconnya dia yang bahkan nggak lucu sama sekali."

Mengusap pipi Geva sambil tersenyum tipis. Berlian sangat gemas sekali pada sahabatnya yang satu ini.

Pria dengan berewok tipis di sekitar wajahnya kini berlagak layaknya bocah lima tahun yang sedang merajuk. "Aku bukan tipenya Niko."

"Siapa yang tau?"

"Aku."

Geva mendesah. Kembali menyodorkan sendok pada Berlian yang langsung ditolak. Berlian meraih sendok serta mangkuk salah dari tangan Geva, memindahkannya ke atas nakas. Kemudian wanita itu menyatukan kedua tangannya dengan kedua tangan Geva.

"Seleranya Niko bukan aku." Berlian mengulum senyumnya sewaktu melihat ekspresi terkejut Geva yang membuat pria itu semakin menggemaskan di matanya.

"Maksudnya?"

"Dia nggak suka aku. Atau wanita manapun."

"Jadi?" Geva melotot dengan kedua alis matanya yang terangkat, Berlian mengangguk dan Geva mengumpat pelan.

"Masih cemburu?"

"Masih."

"Kenapa?"

"Karena dia tetap seorang pria, Be. Pria yang tidak memiliki ketertarikan pada lawan jenis tapi tetap memiliki hawa nafsu. Siapa yang tau, kan?"

"Ge. Kayaknya selera dia lebih cocok kamu atau Louis, deh." Berlian menyatukan kening mereka. Keduanya sama-sama bisa merasakan deru napas yang hangat menerpa wajah satu sama lainnya.

"Astaga! Oke, aku nggak cemburu, tapi jadi was-was sekarang."

Tidak lagi tahan, Geva segera menekan bibirnya ke bibir Berlian. Satu tangannya bergerak naik turun mengusap punggung wanita itu. Tangan lainnya membawa untaian rambut Berlian ke belakang telinganya. "Aku dan Giana memutuskan pisah, Be," ujar Geva disela-sela cumbuannya.

Terkejut? Tentu saja. Berlian menarik diri. Menatap penuh ketidak percayaan pada sosok pria di hadapannya. "Apa maksudmu?"

"Aku nggak bisa hidup sama wanita yang nggak aku cintai, Be."

"Tapi anak kalian?"

"Ternyata Genta bukan anakku," lirih Geva.

"Aku nggak ngerti, Ge."

"Giana pernah menikah, Be. Tapi dia bercerai karena dianggap nggak bisa memberi keturunan. Lalu suaminya menikah lagi. Kemudian, saat aku udah bersama Giana, kami berhubungan. Ternyata, dia juga kembali berhubungan dengan mantan suaminya yang kabarnya udah bercerai dari istri keduanya. Lalu ...."

"Ge. Kamu nggak perlu cerita semuanya sama aku kalau kamu nggak kuat. Aku ngerti kok." Berlian dapat melihat guratan kecewa yang sangat kentara pada wajah Geva. Dia mengerti seperti apa kecewa yang pria itu rasakan kini.

"Selama ini, aku merasa bersalah karena nggak bisa mencintainya. Aku mau bertanggung jawab karena kukira ... itu anakku. Tapi—"

"Ssh." Berlian menarik Geva ke dalam pelukan. Mendekap tubuh pria itu dengan kehangatan. "Aku ngerti, Ge. Aku ngerti."

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang