Galih

36 3 0
                                        

"Kayaknya aku cinta sama Geva."

Niko tersedak bubur ayamnya. Dia terbatuk-batuk sambil memukul dadanya sendiri sampai wajahnya memerah. Berlian berlari mengambil air minum dari dispensernya.

"Baca doa makanya," ujar Berlian sembari memberikan gelas minum yang berisi air mineral.

Niko meneguk air minumnya sampai habis. Kemudian dia menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar olehnya.

"Kamu cinta sama Geva? Pria posesif itu? Yang mengira aku nggak suka cewek?" Berlian mengangkat bahu. Dia pun masih bingung kenapa bisa berpikiran seperti itu. "Aku udah duga." Niko kembali menyuap bubur ayamnya.

"Duga apa?"

"Kamu suka sama dia, lebih dari sekedar sahabat." Niko menjejalkan kerupuk ke dalam mulutnya.

"Aku emang sahabatan sama dia. Cuma, nggak tau ... belakangan ini rasanya beda aja."

"Nggak, Be. Kamu udah suka sama dia dari lama banget pasti, kamu cinta sama dia dari lama, tapi kamu selalu menyangkal itu."

"Sok tau!"

"Aku tau!"

"Dari mana?"

"Bule itu."

"Hah?" Berlian mengangkat wajahnya, mengalihkan pandangannya dari mangkuk bubur ke wajah Niko yang tengah serius menikmati bubur ayamnya. "Louis maksudnya? Dia bilang apa ke kamu?"

"Dia bilang, titip Berlian ya. Jagain gitu di kosan, kalau ada apa-apa, suruh hubungin dia atau Geva. Tapi berhubung Geva sensi banget, ya males lah aku."

Berlian berusaha memahami ucapan Niko yang melantur entah ke mana. "Nik, kamu nggak mabuk, kan?"

"Mabuk, semalem. Tapi udah sadar, kok."

"Yakin?"

Niko mengangkat wajahnya, menatap Berlian dengan guratan di keningnya. "Kenapa, sih? Kalau belum sadar, aku nggak bisa jalan ke depan gang beli bubur ayam ini, Berlian."

"Omonganmu ngelantur, Nik. Aku kira mabuk." Berlian menghela napas panjang. "Terus, Louis bilang apa aja sama kamu?"

"Banyak banget, Be. Aku juga ditawarin kerjaan sama dia. Dia baik banget, nggak kayak Geva."

"Kerjaan apa?"

"Ada, deh. Mau tau banget atau mau tau banget banget?" Niko menjulurkan lidahnya dengan eskpresi mengejek yang menyebalkan.

"Nggak lucu!"

"Louis bilang, kalau dia sayang kamu, Be. Udah anggap kamu kayak adiknya sendiri. Dia minta aku supaya bujuk kamu tinggal sama Geva aja, jangan di kosan ini. Karena menurutnya, Geva yang terbaik buat kamu, karena pria nyebelin itu cinta banget sama kamu."

"Louis bilang gitu?" Niko mengangguk kemudian kembali menyantap bubur ayamnya. "Lou ... kenapa pria itu baik banget, sih. Dia masih peduliin aku sampai minta Niko membujukku tinggal sama Geva," lirih Berlian dalam hatinya.

Louis memang sosok pria paling baik dalam hidup Berlian. Dibalik tatapan matanya yang tajam dan menyeramkan, Louis adalah sosok pria yang lembut dan sangat perhatian. Berlian sangat beruntung mengenal sosok pria itu dalam hidupnya. Sosok ayah dari mendiang anak mereka.

Suara ketukan di pintu membuat Berlian dan Niko bersamaan menoleh ke arah yang sama. Berlian bangkit dan membuka pintu. Tubuhnya menegang seketika, wajahnya seperti beku dan tangannya mencengkeram gagang pintu kuat-kuat.

Niko yang melihat dari dalam, menjadi khawatir dan penasaran. Pria itu pun akhirnya mendekat untuk melihat, apa yang membuat Berlian mendadak membeku seperti itu?

Di hadapannya ada seorang pria paruh baya, mengenakan setelan jas rapi nan mahal, namun wajahnya menyiratkan kesedihan yang amat sangat mendalam. Suara dehaman Niko membuat ketegangan sedikit memudar.

"Aku perlu di sini atau sebaiknya—"

"Ini ayahku, Nik. Makasih ya, bubur ayamnya, Nik," ucap Berlian disertai senyum simpul yang terkesan dipaksakan.

Niko mengerti maksud wanita itu yang mengusirnya secara halus. Dia pun mengangguk pada sosok Galih yang berada di depan pintu, kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya sendiri.

"Apa kabar, Lian?" tanya Galih sambil memperhatikan putri bungsungnya dengan tatapan sendu.

"Dari mana Ayah tau kalau Berlian tinggal di sini?"

"Pria tadi. Kak Gema melihat mobilmu semalam, dia mengikutinya sampai sini dan ... Ayah datang pagi ini untuk memastikan apa benar kamu tinggal di ... sini?" Galih mengerutkan hidungnya.

"Ayah mau masuk atau berdiri di sini aja?"

Berlian sangat mengenal sosok ayahnya yang cinta kebersihan. Pria paruh baya itu pasti tidak akan tahan duduk di lantai kamar kosan Berlian yang kotor dan ruangannya yang pengap.

"Tidak adakah tempat lain untuk mengobrol?"

"Kalau penting, silakan masuk, Yah." Berlian membuka lebar pintu kamarnya.

Aroma dari bubur ayam menyeruak dari dalam, tertiup angin yang baru saja masuk dari luar. Galih kembali mengerutkan hidungnya, namun kakinya bergerak untuk melangkah masuk dengan penuh keraguan.

"Kalau Ayah jijik sama tempat ini, nggak masalah berdiri di depan pintu, kok."

"Ayah masuk," kata Galih dengan penuh keterpaksaan.

Pria paruh baya itu kembali ragu saat hendak duduk di lantai. Berlian yang sudah duduk lebih dulu di atas kasurnya, hanya memperhatikan sang ayah yang nampak sangat jijik akan lantai kamar kecil itu.

Namun pada akhirnya, Galih duduk di lantai. Tangannya pelan-pelan menggeser mangkuk bubur ayam dari hadapannya.

"Kapan terakhir kali kamu bersih-bersih, Lian?"

"Kedatangan Ayah ke sini untuk memeriksa kebersihan kamarku?" tanya Berlian dengan nada tidak menyenangkan.

Dia sadar itu tidak sopan, tapi ... dia tidak menyukai sikap ayahnya yang seperti itu.

Setelah cukup lama diam dan hanya mengamati sang putri, akhirnya Galih pun bertanya. "Apa yang terjadi dengan ... kandunganmu?"

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang