Hasrat Yang Tersalurkan

74 2 0
                                        

"Mencari siapa, Mas?" tanya Niko yang baru saja keluar dari kamarnya. Pria itu menepuk keningnya sewaktu Louis menoleh. "Can I help you?" Niko merubah bahasa karena mengira Louis tidak mengerti bahasanya.

Seulas senyum terukir di bibir Louis. Pria itu mengangguk pelan sebelum bicara. "Saya mencari Berlian. Apa dia masih tinggal di sini?"

"Oh, bisa Bahasa Indonesia 'toh." Niko menggaruk tengkuknya dan terkekeh. "Ada. Biasanya jam segini, dia lagi ... boci."

"Boci?"

Niko mengangguk. "Bobo ciang." Pria itu tergelak akan ucapannya sendiri, sedangkan Louis menggelengkan kepalanya. "Maaf. Ketuk aja pintunya."

"Nanti aja Saya balik lagi, kasihan kalau Berlian sedang istirahat." Niko mengibaskan tangannya dan mengetuk pintu kamar Berlian.

Louis yang mau menahannya pun sudah terlambat karena suara wanita itu terdengar dari dalam, dan sedetik kemudian pintu dibuka. "Hai."

"Louis?" Berlian terkejut. Kemudian dia berpaling pada Niko yang sedang mencengir lebar. "Apa kamu cengar-cengir begitu?" Seketika Niko mendengkus sebal dan menekuk wajahnya.

"Sewa mobil, Ber." Niko mengulurkan tangannya. Berlian menghela napas dan masuk untuk mengambil kunci mobilnya. "Nanti aku cuci steam. Kamu mau nitip apa?" tanya Niko setelah menerima kunci mobil dari Berlian.

"Nggak, deh. Udah, sana pergi!" usir wanita itu sembari mengibaskan tangannya. Louis yang sejak tadi berdiri hanya dapat mengulum senyumnya.

"Hati-hati, Mas. Nanti digigit. Berlian kalau lapar bisa berubah jadi karnivora," cibir Niko sembari mengunci pintu kamarnya.

"Mas kepalamu!" sungut Berlian dan Niko tertawa terbahak-bahak sambil berjalan menuruni anak tangga.

"Keliatannya dia baik," ujar Louis setelah Niko menghilang dari tangga.

"Ya. Dia teman baruku di sini. Silakan masuk."

Beruntung! Berlian masih memiliki sisa persediaan camilan dan sari buah yang bisa dia sediakan untuk Louis tanpa perlu repot-repot pergi ke warung.

Perut yang sudah membesar, membuat Berlian menjadi sangat malas berjalan, terlebih jika harus naik-turun tangga. Sungguh melelahkan.

"Kukira kamu udah nggak tinggal di sini lagi." Louis menyesap sari buah.

"Ke mana aku harus tinggal kalau bukan di sini?"

"Rumah suamimu." Berlian tergelak sambil menumpuk bantal untuk dijadikannya sebagai sandaran duduk di atas kasurnya. "Geva bilang, kamu menikah dengan pria pilihan ibumu."

Terdiam.

Berlian terdiam setelah mendengar nama sahabatnya itu. Bukan karena tidak dapat mengatakan apapun, tapi ... dia lebih memilih untuk tidak membahas apapun yang berkaitan dengan sahabatnya itu.

Mengamati wajah pria di hadapannya, Berlian menyadari adanya memar di bawah mata Louis yang nampaknya masih cukup baru dan menyakitkan. "Kenapa wajahmu?"
Tangan Berlian terulur menyentuh memar di wajah Louis.

Pria itu meraih tangan Berlian dan menggeleng pelan sambil tersenyum. "Jadi, kamu belum menikah?"

"Kamu butuh es batu atau sesuatu untuk me—"

"Aku bertanya, Be." Suara Louis terdengar serius dan membuat Berlian mengembuskan napas kasar. "Geva mencari kamu."

"Kenapa?" Malas menanggapi, Berlian menusuk sedotan pada kotak sari buah miliknya.

"Dia dan Giana ... putus."

"Oh." Apa yang terucap dari mulutnya berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam pikirannya dan apa yang dikatakan oleh hatinya. Berlian cukup terkejut tapi berusaha untuk terlihat biasa saja.

"Aku rasa, kamu dan Jessie lebih cocok jadi adik-kakak dibandingkan Jessie dan Joy," kekeh Louis.

"Gimana kabarnya Jessie? Udah tau jenis kelamin anak kalian? Aku kangen deh, sama Jessie." Raut wajah Louis seketika berubah. "Uhm, maksudku ... anak ... nya."

Louis berdeham dan melonggarkan kerah kemejanya dengan membuka dua kancing teratas. Berlian menelan ludah sewaktu melihat ukiran tato di dada pria itu yang mengintip.

Semenjak hidup sendiri dalam keadaan hamil seperti ini, Berlian tidak dapat menyalurkan hasrat seksualnya.

Melihat sedikit bagian tubuh dari pria yang pernah bertukar keringat dengannya, membuat Berlian menjadi gelisah dan gusar di tempatnya. Ruangan sempit yang dilengkapi dengan pendingin ruangan, kini terasa sedikit panas.

Louis bukanlah pria bodoh. Dia sangat memahami gelagat Berlian yang resah dan kerap kali mengubah posisi duduknya dengan tidak nyaman. Menangkap pergerakan mata wanita itu yang diam-diam mencuri pandang padanya.

"Be ...." Suara Louis saat memanggil, seperti sebuah belaian yang membuat hati Berlian berdesir. "Ada apa?" Tangan Louis mengusap pipi Berlian dan mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu.

"Eng-nggak-nggak ada."

"Nggak ada apa?"

"Nggak ada apa-apa." Berlian menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya meremas bagian bawah daster yang dia kenakan.

"I miss you, Be," ucap Louis di ceruk leher Berlian.

Membuat wanita itu melepaskan tangannya dari daster dan beralih pada sprei—mencengkeramnya kuat-kuat sewaktu hangat napas Louis menerpa kulitnya dan mengantarkan getaran yang sudah lama hilang.

"I m-miss y-you too." Suara Berlian tersendat. Napasnya menggantung karena cecapan Louis di kulit lehernya dan tangan pria itu yang sudah menarik celana dalam Berlian.

Louis tersenyum saat membelai kelembapan Berlian dan mendengar desahan wanita itu akan sentuhannya. "I want you."

"I know, Be. I know."

Sedetik kemudian keduanya larut dalam penyatuan yang panas. Berlian dan Louis sama-sama dalam keadaan sadar seutuhnya. Mereka tahu, apa yang tengah mereka lakukan kini adalah sebuah kesalahan besar.

Louis sudah menjadi suami Jessie dan Berlian sedang mengandung anak yang menjadi masih tanda tanya baginya.

"Did I hurt you, Be?" Berlian menggelengkan kepala.

Memejamkan matanya—Berlian terlalu malas untuk menjawab. Dia sudah tenggelam dalam kenikmatan yang diberikan oleh pria di atasnya kini.

Berlian menyumpal mulutnya dengan bagian daster yang sudah dia lepaskan sejak beberapa menit lalu, menjaga suaranya sewaktu Louis mempercepat tempo.

Berlian menjerit dengan suara yang tertahan. Tubuhnya gemetar hebat ketika dia telah sampai pada puncak pelepasan. Pelepasan rindu yang selama ini tertahan.

Louis berguling ke sampingnya dan mereka tertawa sambil mengendalikan napas yang saling berkejaran.

"Waw! Bercinta saat hamil membuatku nggak bisa banyak bergerak," ujar Berlian dengan napas terengah-engah.
Louis menoleh dan tertawa kecil kemudian mengusap puncak kepala Berlian. "Apa kamu udah—"

"Ya." Dengan cepat Louis mengangguk. "Makasih, Be. Kamu selalu hebat dalam hal ini, sekalipun sedang hamil."

Berlian dapat melihat kerutan kecil di sudut mata Louis dengan jelas dari jarak sedekat ini, ketika pria itu sedang tertawa.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang