Petir di Siang Bolong

42 2 0
                                        

Berlian duduk gelisah di kursi ruang tunggu. Kursi itu terasa dingin pada bagian lengan dan sandarannya, sehingga Berlian memilih untuk duduk tegak dan tak menyentuh bagian dari kursi selain bagian di mana bokongnya beristirahat.

Menjalin jemari tangannya. Kaki Berlian bergerak cepat naik-turun, tanda kegelisahannya semakin kuat.

Dia baru saja melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyakit apa yang bersarang di tubuhnya sehingga membuatnya seperti akan mati saat datang bulan minggu lalu.

Nama Berlian muncul di layar monitor besar. Namanya masuk dalam antrian bertemu Dokter Ezra. Dia sedikit malu, karena dalam keterangannya Dokter Ezra adalah seorang dokter kandungan. Tapi siapa yang peduli? Toh, tidak ada yang mengenalnya.

Pelayanan di Steels Care berhak mendapatkan apresiasi. Layak dinobatkan sebagai salah satu pelayanan rumah sakit terbaik di Jakarta.

Walaupun rumah sakit swasta milik orang asing, Steels Care yang dikira sangat mahal, ternyata tidak se-mahal itu. Ada beberapa kebijakan yang tidak banyak diketahui orang banyak.

Beberapa di antaranya adalah gratis biaya pengobatan, rawat inap, hingga tindakan operasi bagi orang-orang yang memiliki penyakit langka, serta khusus orang-orang yang kurang mampu namun dalam keadaan kritis yang mana harus segera mendapatkan pertolongan.

Kesembuhan pasien adalah yang utama.

Berlian menggeleng tidak percaya ketika melihat pelayanan di bagian administrasi sewaktu melayani seorang wanita tua dengan pakaian lusuh yang ditemani oleh seorang anak remaja dengan wajah pucat yang sepertinya kelelahan.

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Berlian mendengar penuturan wanita tua itu akan masalah penyakit yang di deritanya. Wanita tua itu memiliki tumor di bagian mata kaki. Terlihat jelas sebuah benjolan berwarna ungu kehitaman sebesar telur ayam, membuat Berlian meringis—merasa ngeri.

Anak remaja yang menemani wanita tua itu menyerahkan beberapa lembar kertas pada petugas administrasi. Pelayanannya terbilang sangat cepat dan profesional.

Tidak sampai lima menit, sang petugas bergantian menyerahkan sebuah map yang berisi beberapa lembar kertas.

Lalu sang wanita tua itu berkata pada anak remaja di sampingnya. "Tolong bacakan. Nenek nggak bisa baca." Suara seraknya sangat tipis dan bergetar.

Anak remaja yang ternyata adalah seorang cucu itu pun serius membaca. Membolak-balikkan kertas di dalam map dan petugas administrasi tetap sabar menunggu. Tidak ada guratan kesal atau tidak sabar di wajah petugas itu. Dia tersenyum ramah sepanjang pelayanan.

Dengan telaten, petugas itu membantu sang wanita tua untuk menandatangani berkas yang Berlian tidak tahu apa isinya.

Terkesan tidak sopan karena dengan sengaja memerhatikan dan menguping pembicaraan orang lain, tapi rasa penasaran membuat Berlian melakukan itu.

"Jadi, benar-benar gratis?" tanya anak remaja pada petugas administrasi.

"Betul. Semua biaya ditanggung oleh Steels Care." Senyum petugas wanita itu nampak sangat tulus. "Nanti perawat kami akan mengantar Ibu Sumi ke ruang perawatan, agar dapat beristirahat selagi menunggu jadwal operasi," jelasnya dengan sangat detail. "Adik, boleh membawa neneknya menunggu di ruangan khusus. Ada roti dan teh hangat gratis di sana."

Petugas administrasi menunjuk sebuah ruangan yang di kelilingi kaca dengan sofa berwarna lilac di dalamnya.

"Terima kasih."

Berlian melihat wanita tua bernama Sumi itu meneteskan air matanya. Kemudian cucunya memeluk erat. Cengkramannya kuat, terlihat dari buku jarinya yang memutih.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang