Rencana Gevariel

34 2 0
                                        

Gundukan tanah yang tidak terlalu panjang untuk sebuah tempat peristirahatan terakhir, dipenuhi bunga tabur serta bunga-bunga lainnya hingga nyaris tidak terlihat tanahnya.

Beril Ivona adalah nama yang dipilih oleh Berlian untuk buah hatinya yang kini sudah tidur tenang di bawah sana.

Tidak ada nama belakang untuk sang anak, karena ... bagaimana pun ... nama belakang sang ayah tidak pernah bisa dicantumkan selama anak itu adalah hasil dari hubungan sebelum menikah dan sah di mata Tuhan.

Pijatan kecil di bahu, membuat Berlian menoleh ke samping. Louis memberinya kekuatan melalui tekanan di bahu serta senyuman yang pria itu sunggingkan.

"Terima kasih udah menjaganya selama ini, Be." Louis merengkuh tubuh Berlian untuk dipeluk.

Pada saat sedang berpelukan, Berlian melihat sosok Geva yang berdiri di bawah pohon besar yang rindang. Memakai jaket warna biru dan kacamata hitam untuk menghalau sinar matahari, mungkin juga menyembunyikan kesedihannya akan fakta menyakitkan.

"Aku kembali ke London malam ini. Apa ada yang bisa kulakukan untukmu?"

Berlian menarik diri, mengusap lengan bagian atas Louis. "Nggak perlu, Lou. Aku baik-baik aja."

"Kurasa, kamar kos itu nggak cocok untukmu, Be. Sebaiknya kamu jangan turun-naik tangga dulu sampai jahitan operasimu benar-benar kering. Dan ... kamu jangan terlalu banyak gerak."

"Aku ngerti, Lou."

"Aku khawatir, Berlian."

"Aku baik-baik aja."

"Apa kamu lupa, terakhir kali kamu bilang baik-baik aja, lalu apa yang terjadi?" Louis meninggikan sebelah alis matanya dan Berlian terkekeh. "Jangan tertawa. Aku serius."

"Titip salamku untuk Jessie." Kecupan singkat didaratkan Berlian pada pipi kiri Louis. "Kabari aku kalau dia udah melahirkan."

"Pasti."

Suara dehaman membuat Louis mengambil langkah mundur. Geva hadir di tengah-tengah Berlian dan Louis.

Melingkarkan tangannya pada bahu Berlian dan mengecup pipi wanita itu. "Kamu siap pulang sekarang?"

"Ge, sebaiknya kamu ajak Berlian ke unitmu. Kondisinya nggak memungkinkan untuk naik-turun tangga." Louis memberi saran dan Berlian memutar matanya.

"Begitu?" Louis mengangguk. Kemudian Geva menelengkan kepalanya pada Berlian. "Kamu mau pulang ke unitku? Oh, tentu harus mau. Seharusnya itu bukan pertanyaan maupun permintaan, tapi itu adalah sebuah keharusan."

"Kenapa begitu?" Berlian mendongak dengan matanya yang menyipit karena terik matahari.

"Karena aku bilang begitu dan Louis setuju dengan itu. Betul begitu Mr.Peterson?"

Berlian mengerang dan menyerah pada para pria yang posesif itu. "Baiklah. Sementara."

"Selamanya pun nggak apa-apa, Be," celetuk Louis yang langsung mendapat acungan jari tengah dari Berlian. Pria itu tertawa bersama Geva, berjalan di belakang Berlian.

Senyum Berlian mengembang dengan sendirinya. Dia benar-benar sangat beruntung memiliki kedua pria yang baik hati seperti Geva dan Louis.

Dia juga beruntung karena ternyata, hasil DNA tidak membuat pertemanan Geva dan Louis menjadi bermasalah. Khawatirnya akan hal itu sudah hilang yang kini berganti dengan khawatir yang lain.

Khawatir akan perasaan Geva.

Berlian belum sempat bicara banyak dengan Geva sejak keluarnya hasil tes DNA kemarin. Bahkan, baru hari ini mereka bertemu lagi. Karena Geva benar-benar tidak muncul kembali dan dia ditemani Louis sampai detik ini.

Berpisah di area parkir tempat pemakaman umum, Louis memiliki tujuan lain sebelum ke Bandara untuk kembali ke London. Sedangkan Berlian dan Geva sudah berada di dalam mobil Berlian yang sudah diambil oleh Geva dari Niko.

Tentu saja Niko akan sangat kecewa jika tahu tetangganya itu tidak kembali ke indekos, melainkan ikut pulang bersama Geva ke unit apartemennya. Selain kehilangan teman, pria itu juga kehilangan mobil sewaannya yang biasa dia pakai kapan saja membutuhkannya.

"Selamat datang di rumah." Geva membuka lebar pintu unit apartemennya. Aroma maskulin menyambut Berlian begitu sopan, membelai indera penciumannya.

Geva meletakkan tas yang berisi pakaian Berlian. Saat mengambil mobil, pria itu juga mengambil beberapa pakaian Berlian. Dia memang sudah merencanakan ini bersama Louis.

Licik.

Memang.

"Loh, kenapa di taruh di situ? Aku tidur di kamar satunya aja, Ge."

"Kamu bukan tamuku. Ayolah, Be." Menuntun dengan hati-hati, Geva membantu Berlian untuk duduk di atas ranjangnya yang sangat harum.

Berlian bersin, kemudian dia terbatuk. "Berapa botol parfum yang kamu pakai untuk membuat wangi seisi unitmu, Ge?"

Geva memutar matanya. "Jangan mencibir. Berbaring dan istirahatlah. Aku mau masak."

"Kamu? Masak? Kumohon jangan, Ge."

"Kenapa?"

"Aku masih mau hidup seribu tahun lagi."

"Kamu bukan vampir, Be." Geva mengibaskan tangannya sambil melangkah keluar dari kamar.

Berlian terkikik di atas ranjang. Dia sudah lama sekali merindukan kebersamaan seperti ini bersama sahabatnya.

Berlian beringsut sedikit ke tengah ranjang. Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari bawah bantalnya. Melongok dengan hati-hati.

Selembar foto yang menampilkan dirinya bersama Geva saat masih kuliah. Berlian menggeleng tidak percaya kalau pria itu masih memilikinya.

Bahkan, Berlian tidak menyimpan satu pun foto bersama Geva saat mereka masih kuliah.

Mengambil lembaran foto itu dari atas lantai dan melihat tulisan dibaliknya. 'Seandainya kamu tau ... hari ini aku udah mencintaimu, Be.'

Suara langkah kaki mendekat membuat Berlian jadi kalang kabut dan meletakkan kembali foto tersebut di bawah bantalnya. Geva menatapnya penuh curiga.

"Ngapain kamu? Kenapa nggak tidur?"

"Aku nggak ngantuk. Jangan memaksaku. Menyebalkan."

"Dasar judes," gerutu pria itu sambil melangkah ke dalam kamar mandi.

Tidak lama, Geva keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang menggantung rendah di pinggulnya.

Berlian menelan ludah dan memalingkah wajahnya. "Nggak usah ngiler begitu, Be," ujar Geva sambil membuka salah satu laci dan mengambil sabun cair dari sana.

"Siapa juga yang ngiler," kilah Berlian yang masih memalingkan wajahnya.

"Masa?" Geva mengecup bahu Berlian yang terbuka karena wanita itu memakai dress tali kecil. Hangat napas Geva membuat Berlian lupa bagaimana caranya menghirup oksigen. Tangannya meremas sprei dari balik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. "Istirahat, Berlian." Kecupan hangat kembali didaratkan pria itu pada bahu mulus Berlian.

"Ya."

Geva terkikik sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu bersenandung sepanjang kegiatannya membersihkan diri. Pada saat Berlian berbalik, dia melihat pintu kamar mandi yang tidak ditutup rapat.

"Kebiasaan," desahnya pelan. "Geva, tutup pintunya! Kamu berisik, aku nggak bisa tidur." Nyatanya bukan itu.

Bukan karena suara Geva yang pas-pasan bersenandung hingga bergema di dalam kamar mandir dan terdengar sampai luar.

Tapi ... hal lain yang membuat Berlian tidak nyaman. Orang dewasa sudah pasti mengerti apa yang dimaksud.

Friends With Berlian || Liam PayneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang