Geva sedikit kesulitan sewaktu membawa beberapa mainan di tangan kanannya, selagi tangan kirinya menenteng tas belanja.
Selain membeli banyak mainan, pria itu juga belanja untuk kebutuhan bulanannya. Sudah lama dia tidak mengisi kulkas dan sabun di kamar mandinya sudah nyaris habis.
"Aku pulang," ujar pria itu sambil mendorong pintu menggunakan sebelah bahunya.
Sepi. Tidak adanya tanda-tanda kehidupan. Bahkan lampu di ruangan pun padam. Jika Berlian ada di unit, dia tidak akan membiarkan satu lampu pun yang padam. Wanita itu takut gelap.
"Be!" panggil Geva setelah meletakkan mainan di atas sofa. Pria itu berjalan ke dapur, meletakkan tas belanjanya di atas meja dapur. Lalu melintasi ruangan untuk mencari Berlian. "Berlian!" panggilnya sekali lagi sambil melongok ke dalam kamar mandi.
Wanita itu tidak ada di ruangan manapun. Geva mendongak untuk melihat jam digital di dinding kamarnya. Pukul delapan malam. Ke mana wanita itu pergi?
Geva mendecak sebal. Meraih ponselnya dan segera menghubungi Berlian. Namun suara ponsel berdering membuatnya menoleh. Mengangkat bantal, pria itu menemukan benda pipih milik Berlian tergeletak di sana.
"Kamu ke mana, sih, Be? Ya ampun!" geramnya sebal.
Melepaskan jasnya dan melemparkannya begitu saja di atas ranjang karena sebal. Pria itu kembali ke dapur sambil melepaskan seluruh kancing kemejanya. Dia mulai mengeluarkan bahan makanan dan menatanya di dalam lemari penyimpanan serta kulkas.
Pintu depan terdorong dan Berlian terkejut. "Eh? Kamu udah pulang?" tanyanya sambil tersenyum lebar. Berbeda dengan Geva yang menyipitkan matanya sebal. "Wah, apa ini?" Berlian mengintip kantung kain yang berisi banyak mainan, kemudian keningnya berkerut bingung, "Kamu ngapain beli mainan, Ge?" Berlian mulai melepaskan tas serta cardigannya—menggantungnya di belakang pintu kamar. Lalu dia kembali lagi keluar.
"Kamu dari mana, Be?" tanya Geva dengan nada serius. Dia bahkan tidak mengalihkan tatapannya dari Berlian yang kini sedang mencuci tangannya di wastafel.
"Oh. Aku abis beli sushi." Wanita itu menunjuk plastik kemasan yang dia letakkan di atas meja makan. "Kamu mau?"
"Kenapa, sih, kamu keras kepala banget?" Pertanyaan Geva membuat Berlian memutar matanya. Wanita itu tahu ke mana arah pertanyaan Geva. "Apa susahnya sih, diam di sini dan tunggu aku pulang? Atau ... gunakan aplikasi untuk memesan makanan."
Berlian menghela napas kasar. Dia mengeringkan tangannya dengan serbet. "Pesan online sama aja, Ge. Aku mesti turun juga ke bawah. Toh, aku lagi kepengin sushi. Jadinya ... ya beli aja di bawah. Lagian ... kamu lama pulangnya. Aku udah kelaparan." Berlian menggeret kursi makan. Dia duduk di sana sambil membuka plastik kemasan sushi yang sudah dibelinya.
"Kamu kan, bisa telepon aku, Be. Bilang aja sama aku mau makan apa ... biar aku yang pesan dan kuminta satpam antar ke sini."
"Ngerepotin orang banyak, Ge. Udah lah ... aku udah terlanjur beli juga." Berlian mengeluarkan sumpit dari pembungkusnya. "Kamu mau nggak? Ini yang matang tapi. Ayam."
Mengembuskan napas pelan. Dia memilih mengalah saja, karena percuma bila harus berdebat dengan Berlian. Wanita itu sungguh keras kepala.
Geva menganggukkan kepala dan menghampiri Berlian. Dia berdiri di samping kursi yang diduduki oleh wanita kesayangannya, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah meja makan sewaktu Berlian mengarahkan sushi ke mulutnya.
"Lain kali, bawa ponselmu kalau keluar." Berlian mendesah, karena ternyata pria itu masih membahas persoalan sebelumnya. "Aku khawatir, Be."
"Iya, Ge. Tadi aku lupa bawa ponsel. Aku bahkan lupa taruh di mana benda itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Ciencia Ficción18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
