Berlian dan Geva mencapai puncak pelepasan mereka dalam sambungan video call yang singkat. Keduanya tertawa sambil mengatur napas yang terengah-engah.
Lalu, Geva terdiam beberapa saat. Hanya tersenyum sambil memandangi wajah Berlian. Dalam hatinya, dia tidak pernah bosan meminta pada Tuhan, supaya hati wanita kesayangannya itu dapat terketuk dan pada akhirnya jatuh cinta padanya.
"Kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Berlian sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Geva menggeleng. Dia berbaring miring dan menyandarkan ponselnya pada sebuah bantal. "Kamu cantik banget, Be."
"Ah, mulai deh!" decak Berlian. "Gombalan recehmu itu nggak pernah mempan di aku, Ge. Kalau stres karena pekerjaan, aku maklumin deh."
Wanita itu terbahak-bahak akan ucapannya sendiri yang mengira Geva tengah stres dengan pekerjaannya sehingga menggodanya dengan rayuan yang dianggapnya sangat receh.
"Aku serius, Be. Kamu cantik banget. Aku nggak rela kalau sampai ...." Geva menghela napas, kemudian menggeleng lemah.
"Kalau sampai apa?"
"Tidur, yuk! Aku capek banget. Besok aku harus bangun pagi banget."
"Kamu belum jawab, Ge. Kalau sampai apa?"
"Nggak penting, Be. Udah, nggak usah dipikirin. Aku mau bersih-bersih dulu, mau gosok gigi sekalian. Kamu mau langsung tidur?"
"Aku juga deh."
Berlian bangkit, membawa ponselnya ke dalam kamar mandi. Dalam keadaan tanpa busana, wanita itu meletakkan ponselnya di atas wastafel kamar mandi. Geva melakukan yang sama pada wastafel kamar mandi hotel.
"Rambut-rambut itu cepat banget tumbuhnya, sih."
Geva menunduk, melihat ke mana arah jari telunjuk Berlian menunjuk. Kemudian pria itu terkekeh. "Iya, ya? Perasaan baru beberapa hari yang lalu aku cukuran." Geva menekan tombol flush, kemudian berjalan ke wastafel. "Aku jadi pengin cepat-cepat pulang, Be," desahnya sembari mengolesi pasta gigi ke atas bulu sikat giginya.
"Karena mau ina-inu sama aku?" Berlian bertanya dengan busa pasta gigi di sekitar mulutnya. "Kapan sih, kamu capek dan bosannya, Ge?"
"Capek? Susah capeknya kalau sama kamu, Be. Kalau bosan sih, nggak bakal pernah. Kamu kan, enak banget. Bikin nagih terus."
"Halah!" Berlian membuang busa pasta gigi dari dalam mulutnya, kemudian dia berkumur. "Kayaknya kamu harus cari pacar baru lagi deh, Ge. Supaya nggak gangguin aku begini. Gombalan recehmu itu menjijikan, tau nggak?"
Berlian membawa ponselnya. Dia meneguk air minum segelas sebelum kembali berbaring di atas kasur kecilnya.
"Aku nggak bakalan pernah punya pacar lagi." Geva sudah selesai berkumur dan sekarang tengah membilas wajahnya dari sabun cuci muka.
"Kenapa? Belum bisa move on dari Giana?" Pria itu memicingkan matanya setelah mengeringkan wajah menggunakan handuk kecil. "Aku cuma nanya." Berlian terkekeh sewaktu melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Gimana aku bisa punya pacar, kalau orang yang aku taksir nggak mau jadi pacarku."
"Siapa?"
"Kamu." Lagi-lagi Berlian mendecak. Dia bosan mendengar gombalan murahan yang asal-asalan seperti itu.
"Ayo tidur!"
"Aku serius, Be." Nada bicara Geva memang terdengar sangat serius. Berlian tidak bodoh. Dia mengetahui itu, namun bersikap seolah ... tidak memedulikannya. "Apa aku salah, punya perasaan ini sama kamu? Oke, mungkin aku emang salah karena pernah mengatakannya dengan cara yang—"
"Selamat tidur, Ge." Berlian memutuskan panggilan video mereka secara sepihak.
Di tempatnya, Geva menghela napas kecewa. Dia meletakkan ponselnya ke atas nakas, lalu memadamkan lampu meja tidurnya. Membiarkan ruangan menjadi gelap gulita, segelap hatinya saat ini.
Berlian tidak dapat tidur nyenyak malam itu. Dia menggeliat di atas kasur kecilnya. Berguling ke kanan dan ke kiri, gelisah tanpa sebab. Pikirannya jauh mengawang pada malam itu.
Malam di mana Geva datang padanya dan mengatakan perasaan cintanya kemudian berakhir dengan percintaan yang menyakitkan.
"Apa aku juga mencintai Geva? Apa aku bisa mencintainya seperti dia mencintaiku?" tanya Berlian untuk dirinya sendiri.
Dia mencoba menggali perasaannya, hingga ke dasar. Mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri di dasar hatinya yang paling dalam.
.
.
.
"Aku libur hari ini." Niko berjalan masuk ke dalam kamar Berlian dengan dua mangkuk bubur ayam di kedua tangannya. Kemudian meletakkan kedua mangkuk itu di atas lantai, bersamaan dengan dirinya duduk di lantai, menyilangkan kedua kakinya. "Semalam tidur nyenyak nggak?"
"Nggak."
"Maaf ya, cewek itu berisik banget. Aku aja sampai pusing sendiri," kekeh Niko sambil mulai menyuap bubur ayamnya. "Tapi enak banget, Be."
"Iya enak. Lebih berasa bumbunya daripada yang biasanya mangkal di depan."
"Bukan rasa buburnya, Berlian." Niko memutar matanya malas. "Kamu ini kenapa, sih? Aku perhatiin dari tadi bengong terus. Apa kamar ini ada hantunya gara-gara kelamaan kosong?" Niko melihat sekelilingnya.
"Hantunya kan, kamu." Berlian menggigit kerupuk. "Aku nggak bisa tidur semalam. Nggak tau, gelisah aja. Dan ... pacarmu itu berisik banget. Ganggu, tau nggak?"
"Aku tau. Makanya tadi aku bilang." Niko menggigit dua kerupuk sekaligus, sehingga menimbulkan suara yang berisik. Biasanya Berlian akan memarahi siapapun yang berisik pada saat sedang makan, tapi kali ini dia diam saja. Sekalipun suara kunyahan Niko cukup mengganggu pendengarannya.
"Kayaknya aku cinta sama Geva."
KAMU SEDANG MEMBACA
Friends With Berlian || Liam Payne
Science Fiction18+ 》Follow sebelum membaca《 》Pilihlah bacaan yang sesuai《 》Jadilah pembaca yang bijak《 . . . Gevariel percaya cinta, tapi Berlian, tidak. Bagi Berlian, cinta hanyalah omong kosong yang tujuannya untuk mencari pasangan yang dapat memuaskan hasrat...
