"Astaga, Chan. Nanti kalau anakku jatuh bagaimana?"
Nampaknya Chan Yun sudah mulai tertekan dengan sikap posesif Jimin pada Puteranya. Pasalnya ia hanya ingin menimang-nimang bayi menggemaskan dan juga imut seperti Park Jimmy. Hanya saja sedari tadi Jimin begitu cerewet, lain halnya dengan sang Ibu yang begitu santai duduk di atas ranjang. Seakan Keina terlihat senang karena kehadiran Chan Yun dan suaminya yang kembali menyambangi sang buah hatinya.
Sedari tadi Park Jimmy terdiam di dalam gendongannya, menandakan jika bayi menggemaskan yang wajahnya amat mirip dengan Ayahnya ini begitu nyaman berada di dalam gendongan Chan Yun. Lagipula Chan Yun bukan tipe orang yang ceroboh seperti Sona. Ia juga tidak mungkin berniat menyakiti Park Jimmy. Namun kenapa sedari tadi Jimin terlihat berlebihan sekali. Pantas saja Keina seringkali mengomel pada suaminya, ternyata Jimin memang sangat menyebalkan. Untung saja Chan Yun mendapatkan jodoh seperti Kim Namjoon yang teramat mengerti dirinya. Pria itu juga tidak terlalu banyak bicara. Tipe Pria yang apa adanya dan tidak ada unsur cerewet sedikitpun di dalam diri suaminya. Andai saja ia mendapatkan suami seperti Park Jimin mungkin saja Chan Yun sudah kena mental karena tidak kuat dengan keadaan.
"Lagipula Jimmy diam saat aku gendong. Bukankah itu tandanya dia merasa nyaman?"
"Seharusnya kau membiarkan dia tidur di dalam box bayi. Anakku belum istirahat sejak tadi."
Keina memutar bola matanya malas, ingin sekali rasanya ia memukul bibir kurang ajar suaminya. Padahal yang membuat Jimmy tidak tidur dari tadi adalah ulah Jimin sendiri yang tidak bisa membiarkan bayinya diam begitu saja. Disaat sang Putera sudah merasa nyaman dengan tidurnya, tiba-tiba saja sang suami mengelus pipi sang Putera. Terkadang Jimin juga mengecup bibir mungil Puteranya. Hal tersebut tentu saja membuat bayi menggemaskan itu terganggu dan akhirnya terbangun karena ulah Ayahnya sendiri.
"Biarkan saja Chan Yun menggendongnya. Kau jangan membuatku kesal ya, Jim." ucap Keina dengan menatap tajam sang suami. Ia tidak ingin kejadian seperti di rumah sakit terulang kembali. Tak ingin Chan Yun merasa tersinggung dengan ucapan kurang ajar sang suami.
Namjoon yang sedari tadi duduk terdiam di sofa sembari mengamati bagaimana sang istri yang begitu terlihat bahagia ketika menggendong seorang bayi pun kini dibuat tertawa dengan ekspresi kesal yang ditunjukkan oleh Keina pada suaminya. Sadar betul bagaimana dengan sikap sepupunya tersebut, lantas Namjoon hanya bisa memaklumi Keina yang seringkali tersulut emosi pada suaminya sendiri.
"Keina apa boleh aku membawa Jimmy pulang? Nanti akan aku kembalikan dia."
Ucapan yang baru saja keluar dari belah bibir Chan Yun tentu saja membuat Jimin langsung menatap horor kearah istri dari sepupunya tersebut. Melihat Chan Yun menggendong Puteranya saja ia sudah merasa sangat was-was. Apalagi saat Perempuan yang kini tengah hamil besar tersebut akan membawa buah hatinya pulang. Chan Yun seperti mengibarkan bendera perang kepada Jimin saat ini.
"Tidak!" ucap Jimin membentak, membuat Chan Yun sedikit tersentak.
Selama menjadi istri Namjoon sekalipun Pria itu tidak pernah membentak apalagi berbicara kasar terhadap dirinya. Tentu saja saat berhadapan langsung dengan manusia sejenis Park Jimin membuat Chan Yun merasa sedikit takut.
"Jangan membentak istriku, Jim." akhirnya Namjoon mulai membuka suara, pasalnya ia tidak terima jika Perempuan yang teramat ia cintai dibentak oleh sepupunya sendiri. Sebagai seorang suami ia tidak pernah sekalipun membentak Chan Yun.
"Hyung, aku tidak bermaksud membentak istrimu. Nada suaraku hanya refleks meninggi ketika Chan Yun bilang akan membawa anakku ke rumahnya." ucap Jimin mencoba menjelaskan.
