107

28 9 2
                                        

Julukan pasangan paling tepat waktu memang sudah tepat untuk Namjoon dan Chan Yun. Kedua pasangan tersebut, kini sudah duduk di sofa ruang tamu, dengan Ayah Sona yang menemani keduanya. Sebab, Ibu Sona dan mertuanya kini masih sibuk berdandan. Para perempuan sangat sibuk memilih baju dan memoles wajahnya. Sedangkan, Ayah Sona kini memakai setelan jas hitam milik menantunya.

Sebelumnya, Chan Yun menyarankan suaminya untuk pergi ke rumah Jimin terlebih dulu. Agar mereka bisa berangkat ke rumah mertua Sona bersama. Namun, Namjoon menolaknya dengan alasan kedua pasangan itu sangatlah ribet dalam hal apapun.

"Acaranya dimulai pukul tujuh. Kita bisa mengobrol banyak di sini." ucap Tuan Lee.

Manik Chan Yun menatap pada jam yang menggantung di dinding. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Mungkin saja, saat ini Han Keina telah dalam perjalanan ke sini. Pesan darinya yang dikirim satu jam yang lalu, belum mendapatkan jawaban dari sahabatnya tersebut. Atau mungkin saja kini Keina sedang berdebat dengan suaminya. Hal itu hanya akan mengulur waktu saja.

"Saya datang terlalu cepat." ucap Namjoon sembari tersenyum.

Hal seperti ini bukan menjadi kali pertama untuk Namjoon dan Chan Yun. Sebelumnya, ia dan istrinya juga datang terlebih dulu. Lebih baik datang lebih dulu, ketimbang terlambat. Begitulah prinsip hidup seorang Kim Namjoon yang saat ini diterapkan oleh juga oleh istrinya. Chan Yun adalah istri yang begitu penurut. Tak banyak menuntut, dan bisa dibilang istri yang sabar, ketimbang Sona dan juga Keina yang setiap harinya hanya marah-marah saja. Yang paling parah adalah Sona, saat hamil kadar marah-marah Sona semakin meningkat.

"Tidak masalah, kita bisa banyak mengobrol. Para perempuan masih sibuk berdandan. Nanti akan ada acara foto bersama."

Manik Namjoon menatap pada sosok pria berkulit pucat yang kini tengah terlihat berjalan mendekat ke arahnya. Sahabatnya itu sebentar lagi juga akan menjadi seorang Ayah. Ia mengingat saat dirinya dan pria lebih tua darinya tersebut sebelum menikah. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama di club miliknya. Dan kini, setelah menikah keduanya jadi sangat jarang untuk bertemu. Apalagi nanti, ketika keduanya sudah menjadi seorang Ayah. Pasti keduanya akan fokus pada istri dan anak masing-masing.

"Hyung," sapa Namjoon sembari tersenyum tatkala kini Yoongi sudah berada di dekatnya.

Wajah Yoongi nampak bahagia, tidak datar seperti biasanya. Mungkin karena pria lebih tua darinya ini akan menjadi seorang Ayah, sama seperti dirinya.

"Kau selalu tepat waktu." ucap Yoongi.

Namjoon menarik Yoongi ke dalam pelukannya. Mungkin ini sedikit terlihat berlebihan, tapi sungguh ia merindukan sahabatnya. Keduanya sudah berbahagia dengan rumah tangga masing-masing.

"Ini berlebihan, Joon." ucap Yoongi. Tapi, ia semakin mengeratkan pelukannya.

Tuan Lee tersenyum melihat kedekatan keduanya. Ternyata, suami Sona dan suami Chan Yun terlihat sangat akrab. Keduanya berteman sangat baik, dan ia senang karena hal tersebut. Ia juga menantikan kehadiran Han Keina, yang tak lain juga sahabat baik putrinya.

"Setelah menjadi seorang Appa, kita akan sangat sulit untuk bertemu." ucap Namjoon sembari melepaskan pelukannya.

"Itu berlebihan sekali. Kita bisa bertemu, dengan mengadakan janji temu terlebih dulu." ucap Yoongi yang membuat Namjoon tersenyum.

"Seperti orang penting saja."

"Tentu saja, kita sangat penting untuk keluarga."

Manik Chan Yun menatap pada sosok yang ditunggunya. Keina berjalan mendekat dengan memakai dress berwarna biru muda, dan Jimin yang kini berjalan di sampingnya dengan membawa Jimmy dalam gendongannya. Raut wajah Keina nampak sekali ceria, memperlihatkan senyuman yang begitu manis. Berbeda dengan Jimin yang terlihat begitu datar.

Chan Yun berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekat ke arah sahabatnya. Ia tak tahan melihat Jimmy yang ada di gendongan Jimin. Ingin sekali menggendongnya dan mencium pipi gembul nya.

"Aku menunggumu." ucap Chan Yun pada sang sahabat. Lalu setelahnya mengalihkan atensinya pada Jimmy yang berada di gendongan Jimin. Ia menyentuh pipi Jimmy, namun buru-buru Jimin menjauhkannya.

Chan Yun sadar akan sikap Jimin, namun ia mencoba untuk tetap mematri sebuah senyuman kepada suami sahabatnya tersebut.

"Kau sudah dari tadi, ya?" tanya Keina. Mencoba menebak jika saja Chan Yun pasti akan datang terlebih dulu.

"Anakmu lucu sekali, Nak. Boleh Paman menggendongnya?" tanya Tuan Lee pada Keina.

Keina tersenyum. "Tentu saja."

Dengan perlahan Tuan Lee mengambil Jimmy dari gendongan Jimin. Sedangkan kini Jimin hanya dapat terdiam dengan rasa tidak sukanya, karena orang-orang yang sembarangan menyentuh putranya.

Dan kebetulan sekali, Jimmy menangis saat Ayah Sona menggendongnya. Buru-buru Jimin mengambil anaknya tersebut dari gendongan Tuan Lee.

"Dia akan menangis jika bersama dengan orang asing." ucap Jimin.

"Aku bukan orang asing, aku Appa Sona. Aku mengenal Keina sudah lama."

"Benar, kau tidak boleh bicara seperti itu." ucap Keina membela.

Jimin merasa kesal, karena istrinya tidak membelanya sama sekali. Di situasi seperti ini, nampaknya ia harus lebih banyak diam. Saat ini, dirinya tengah dikelilingi orang-orang menyebalkan. Contohnya saja Chan Yun, istri dari sepupunya ini selalu saja mendekati putranya. Menyentuhnya, menggendongnya, bahkan sampai berani menciumnya.

















🍁🍁🍁🍁







Acara makan malam tengah berlangsung. Sedari tadi Yoongi beradu pandang dengan Jimin. Keduanya saling menatap tak suka. Sona yang menyadari akan hal itu, hanya dapat terdiam. Yoongi sangat keras kepala, begitupula dengan Jimin. Biarkan saja keduanya seperti itu. Selagi tidak ada pertengkaran di antara keduanya, ia merasa baik-baik saja.

"Setelah ini, kita akan foto bersama di taman belakang." ucap Nyonya Min.

Acara foto bersama tidak pernah ketinggalan. Apalagi, Ibu satu anak tersebut telah berdandan begitu cetar malam ini.

"Kami ikut berfoto?" tanya Chan Yun yang merasa tidak menjadi bagian dari keluarga Min. Ia memang sahabat Sona, barangkali saja acara foto bersama hanya dilakukan bersama dengan keluarga.

"Tentu saja, kita semua akan foto bersama."

Jimin sama sekali tidak suka dengan acara yang banyak sekali membuang-buang waktunya ini. Dari awal saja ia sudah merasa tidak nyaman, dan ingin rasanya cepat pulang. Dan kini, akan ada acara foto bersama yang membuatnya merasa semakin tidak nyaman. Apalagi, sedari tadi ia harus menggendong putranya.

"Biar semua menghabiskan makannya dulu, Eomma." ucap Yoongi. Ia menatap pada beberapa orang yang belum menghabiskan makanannya. Termasuk Chan Yun yang terlihat begitu lama kalau sedang makan.

"Tidak usah terlalu buru-buru. Lagipula kita masih punya banyak waktu." ucap Nyonya Min.

Chan Yun menyukai acara kebersamaan ini. Setelah dirinya mempunyai anak, berkumpul bersama akan menjadi hal yang sangat sulit untuknya. Pasti akan sibuk mengurus sang buah hati.

Jimin mendekatkan bibirnya pada telinga sang istri. "Lebih baik kita pulang terlebih dulu. Aku rasa Jimmy juga ingin cepat tidur." bisik Jimin.

Tentu saja Keina merasa tidak setuju dengan ucapan Jimin. Apalagi, suaminya menjadikan sang putra sebagai alasan. Sedari tadi, putranya tidur dalam gendongan suaminya. Kenapa Jimin begitu menyebalkan. Padahal, acara seperti ini tidak sering keduanya datangi. Ia bisa berkumpul bersama dengan sahabatnya saja rasanya sudah begitu bahagia.

"Kita akan pulang setelah acaranya selesai." ucap Keina.

Helaan napas berat keluar dari belah bibir Jimin. Akan percuma saja jika jawaban istrinya sudah seperti itu. Tandanya, ia harus mengikuti acara foto bersama yang sangat tidak ia sukai. Kenapa harus ada acara foto bersama, itu sangat berlebihan sekali.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Stupid Boss 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang