Jimin tersenyum tipis ketika Keina menenggelamkan kepalanya pada dadanya, gadis itu meremat kuat pakaian yang dikenakan Jimin.
"Jim. Filmnya." ucap Keina lirih, maniknya menatap lekat pada manik abu sang Suami.
Jimin masih mempertahankan raut datarnya, maniknya masih terus fokus pada layar. Memperhatikan bagaimana seorang Pria yang sedang menghabisi nyawa seorang Perempuan dengan begitu kejam, menusuk berulang kali perutnya tanpa menunjukkan raut bersalah sama sekali.
"Jim. Nyalakan lampunya." ucap Keina, ia menatap penuh permohonan pada sang Suami. Namun, Jimin masih saja mempertahankan wajah datarnya.
Jimin tak menghiraukan ucapan Keina sama sekali, tangannya ia ulurkan untuk meraih camilan yang berada diatas meja. Membuka camilan tersebut, lalu memakannya.
Mata Keina terpejam ketika pemain Pria dalam film horor tersebut menyeringai sembari mengacungkan pisau yang telah berlumuran darah.
Keina meremat kuat lengan baju sang Suami, "Jim. Cepat nyalakan lampunya."
"Nyalakan saja sendiri." ucap Jimin dengan mulut yang dipenuhi camilan.
Dalam hati Jimin menertawai wajah ketakutan sang Istri. Ia sangat suka sekali mengerjai Keina, sudah dibilang bukan jika itu adalah hobby barunya semenjak menjadi suami dari Park Keina.
"Ayolah, Jim. Aku takut."
Samar-samar Keina melihat Jimin yang menyeringai, "Ayo kemana, sayang?" ucap Jimin dengan nada yang begitu lembut.
Keina sontak memundurkan badannya ketika Jimin semakin maju dengan seringain yang begitu menakutkan bagi Keina.
"Jim. Kau kenapa?" tanya Keina lirih, ia merasa sangat takut saat ini. Otaknya masih dapat memutar dengan jelas kejadian saat Pria di film tersebut membunuh seorang Perempuan dengan begitu sadisnya.
Tak ada jawaban yang keluar dari belah bibir Jimin, tubuhnya semakin mendekat pada Keina. Sedangkan Keina sudah tak dapat mundur lagi karena bagian tubuh belakangnya sudah membentur bagian ujung sofa.
"Keina. Ada sesuatu di bibirmu."
Keina memegangi bibirnya, "A--pa?" tanya Keina bingung, tak ada yang salah dengan bibirnya.
Tangan Jimin terangkat untuk mengusap bibir bawah sang Istri, menekan kuat bibir bawah Keina menggunakan ibu jari.
"Tidak ada apa-apa di bibirku." ucap Keina sembari memegang pergelangan tangan Jimin guna menjauhkannya dari bibirnya.
Sedetik setelahnya, dapat Keina rasakan bibir Jimin yang menempel pada bibirnya. Ia terkesiap atas perlakuan tiba-tiba Jimin terhadapnya, hendak mendorong tubuh Jimin agar menjauh darinya namun Pria itu lebih dulu menarik pinggang Keina guna semakin menghapus jarak diantara keduanya.
Keina mencengkram erat baju Jimin saat sang Suami menghisap bibir atas dan bawahnya secara bergantian, memberikan sensasi aneh yang menjalar pada seluruh tubuhnya. Mata Keina terpejam erat saat lidah Jimin mendorong masuk kedalam mulutnya, memainkan lidahnya didalam mulut hangat Keina. Membuat cengkraman Keina pada baju Jimin semakin kuat, hingga Jimin dapat merasakan sang Istri yang juga meremas kuat dadanya. Keduanya merasakan sensasi aneh namun memabukkan.
Keina kehabisan napas dan segera mendorong tubuh sang Suami. Jimin segera melepaskan ciuman itu dengan tidak rela. Keduanya sama-sama terengah dengan sisa saliva yang memenuhi sudut bibirnya.
"Keina. Bibirmu." ucap Jimin sembari menatap bibir sang Istri.
Keina mengernyit, "Kenapa lagi?" tanyanya mulai kesal.
"Bibirmu bengkak,"
Keina terdiam dengan kedua pipi yang mulai memanas, ucapan yang terlontar dari belah bibir Jimin membuatnya malu setengah mati.
"Kau yang membuatnya bengkak, Park Jimin."
Jimin terkekeh, maniknya menatap lekat pada sang Istri yang terlihat begitu menggemaskan saat ini.
Seketika suasana kamar menggelap, menandakan film yang tadi mereka tonton telah selesai.
Keina beranjak dari duduknya, dengan pengelihatan yang samar-samar ia melangkah dengan sangat pelan mendekat pada saklar.
Brukkkk..
"Akhh.."
Keina jatuh akibat kakinya tersandung kaki meja, membuat gadis manis itu mendesis merasakan sakit pada kakinya.
Jimin segera bangkit dari duduknya, menghampiri sang Istri dan membantunya untuk berdiri.
"Jim. Kakiku sakit."
Jimin mengangguk, ia segera membawa tubuh Keina untuk digendongnya. Menggendong tubuh sang Istri ala bridal style.
"Kau tunggu sini ya. Aku ambilkan obat merah dulu." ucap Jimin sembari merebahkan tubuh sang Istri diatas ranjang.
"Tidak perlu, Jim. Aku takut sendirian." ucap Keina, ia masih merasa takut karena adegan dalam film tersebut masih terngiang-ngiang dikepalanya.
Dengan cahaya kamar yang samar-samar, Jimin membawa tubuh sang Istri untuk direngkuhnya. Memberikan sentuhan lembut penuh afeksi pada punggung Keina.
"Ada aku disini. Jadi tak perlu takut."
🐭🐭🐭🐭
Ini adalah kedua kalinya Chan Yun kembali pergi ke sebuah club malam. Gadis cantik tersebut merasa hidupnya tak lagi berarti. Ditinggalkan kekasihnya begitu saja, dan sekarang ia harus hidup seorang diri di apartemen. Kedua sahabatnya telah tinggal bersama dengan suami masing-masing, membuatnya harus tinggal seorang diri di dalam apartemen. Tak ada lagi canda dan tawa lagi yang terdengar memenuhi sudut ruang apartemen. Setiap harinya keadaan apartemen akan sangat hening.
"Satu gelas lagi." ucap Chan Yun sembari mengacungkan jari telunjuknya.
Sebuah senyuman seketika mengembang saat seorang bartender menyodorkan segelas vodka dihadapannya. Ini kedua kalinya ia menyentuh minuman beralkohol tersebut. Sebelumnya, Chan Yun tak pernah berani meminumnya. Melihatnya saja sudah membuatnya bergidik ngeri, ia sangat takut mabuk. Baginya orang mabuk terlihat seperti orang tak waras.
"Kim Namjoon, hiks. Lihatlah saja, aku bisa bahagia tanpamu." oceh Chan Yun sembari menatap cairan bening pada gelas yang berada dalam genggamannya.
Menghabiskan segelas vodka hanya dengan sekali teguk, lantas Chan Yun terkekeh, "Namjoon sialan, hiks. Kau Pria tak berguna."
Chan Yun merasakan kepalanya yang saat ini terasa luar biasa pening. Pandangannya mulai mengabur dengan air mata yang memenuhi sudut matanya. Ia beranjak dari duduknya, hendak melangkahkan kakinya namun kepalanya makin terasa berputar. Ia terus memegangi kepalanya, pandangannya semakin lama terasa semakin mengabur.
"Noona. Apa kau baik-baik saja?"
Dapat Chan Yun rasakan seseorang menepuk pelan bahunya. Samar-samar ia melihat pada seorang Pria bertubuh tinggi yang saat ini tengah menatapnya dengan sangat lekat. Setelahnya Chan Yun tak dapat menahan dirinya lagi, tubuhnya ambruk. Pria bertubuh tinggi tersebut dengan sigap menangkap tubuh mungil Chan Yun. Membawa tubuh ringkih itu kedalam gendongannya.
