My Bestfriend-3

9.3K 465 8
                                        

Vote jangan lupa🤗

~

"Dito, ini gue yang angkat telepon lu tadi, jadi sebenarnya-"

"Na! Tolong ambilin minum, dong. Gue haus banget." Arumi tidak berbohong, tenggorokannya terasa kering sejak bangun dari pingsan tadi.

Mendengar permintaan sahabatnya, Yumna mendengus kesal. Meski demikian, gadis itu tetap mengangguk dan kini meninggalkan Arumi bersama Dito.

"Temen lu? Tadi mau ngomong apa, kok kayak penting gitu." Dito menarik kursi besi yang ada di samping ranjang pasien Arumi.

"Entah."

"Gimana? Masih ada yang sakit?" Tangan Dito terulur memegang kening Arumi. Suhu di sana normal membuat Dito mendesah lega.

"Kan, apa gue bilang. Lu itu emang harusnya ada di dekat gue, untung langsung dibawa ke rumah sakit." Dito memulai ceramahnya.

Arumi mencibir kalimat Dito yang panjang kali lebar. Dia sendiri kesal dengan fisiknya yang lemah tidak bisa diajak kerja sama. "Udah deh, gue lagi sakit. Dengar lu ngomel tambah pusing nih kepala, To!"

"Makanya resign aja dari kerjaan lu itu. Kerja sama gue, nanti gue atur jam kerjanya. Gaji, tentu aja bisa bikin lu beli sepeda motor dua biji dalam satu tahun," tutur Dito.

Ya, Arumi bisa saja memanfaatkan pertemanannya dengan Dito untuk mendapat posisi tinggi di kerajaan bisnis lelaki itu. Namun, kembali lagi pada tujuan utama Arumi, yaitu pergi dari rumah megah keluarga Dito.

"Gue-"

"Gue enggak mau tahu, bikin surat resign nanti atau gue sendiri yang temui bos lu itu."

***

Yumna terus menggerutu di sepanjang koridor rumah sakit. Sebenarnya kekesalan Yumna lebih kecil dari rasa penasaran gadis itu. Wanita dengan gaya yang hampir menyerupai laki-laki, tidak suka berdekatan dengan karyawan pria di restoran tapi bisa hamil dengan sahabat lelakinya.

"Apa jangan-jangan Arumi dipaksa?" Yumna mendudukkan diri di kursi tunggu yang ada di depan salah satu ruang dokter.

"Tapi enggak mungkin deh. Kalau dipaksa, pasti si Arumi lapor polisi atau ada trauma gitu."

Padahal ini bukan masalah atau kewajibannya untuk berpikir, tapi entah kenapa sebagai sahabat juga sebagai wanita Yumna tidak terima dengan status serta kondisi Arumi saat ini.

"Mbak, yang mengantar pasien atas nama Arumi Ahmad tadi, kan?" Suster datang membuat pikiran Yumna yang sedang berperang terhenti.

"Iya, saya, Sus."

"Kebetulan sekali, dokter ingin bertemu dengan Anda. Mari, ikut saya."

Yumna berdiri, mengikuti suster yang pelayanannya luar biasa ramah itu menuju ruangan dokter.

"Selamat malam, dengan wali pasien atas nama Arumi Ahmad ya?"

"Iya, Dok." Yumna menyalami dokter lelaki yang tampannya di luar batas kewajaran itu.

"Silakan duduk. Baik, langsung saja. Di sini saya memanggil, Mbak sebagai dokter penjaga di UGD ya."

"Jujur, kondisi pasien sangat lemah saat dibawa ke sini. Fisik serta psikis pasien menurut saya sedang tidak baik. Mengingat pasien sedang mengandung, saya juga akan membantu agar pasien segera mendapat dokter kandungan yang diinginkan. Tapi peran keluarga terutama ayah dari janin sangat penting untuk kondisi saat ini-"

"Nah itu, Dok. Masalahnya bapaknya si bayi aja enggak tahu kalau dia mau jadi bapak, Dok!" Yumna dengan menggebu, menyela penjelasan dokter.

"Maksudnya bagaimana ya, Mbak?" Kening dokter bernama Samuel itu mengerut.

Short Story: Our WorldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang