Ending telah tibaa
Baca pelan-pelan yaa, kalau tak, bingung kaleean nanti🤣
Klik bintang di pojok dulu
Typo? Kasih tahu aku!
Happy reading👐
~
"Merampas hak Aina, menjadikannya pembantu di rumahnya sendiri, dan-"
Malik menoleh, tatapan lelaki itu seperti silet tajam yang menyayat dua wanita di sudut ruangan. "Mencoba membunuhnya."
"Jangan harap kalian bisa melihat matahari besuk!"
Brak!
Tangan Malik sampai memerah saking kerasnya lelaki itu menggebrak meja. Perlahan Malik bangkit dari kursi, langkah pelannya mendekat ke lelaki berpakaian serba hitam yang berdiri di dekat pintu.
"Lakukan sesuai yang saya perintahkan tadi!"
"Baik, Tuan!"
"Tidak! Tidak! Tuan, Malik!"
"Ampuni kami, Tuan!"
Wilda memberontak alhasil wanita itu jatuh beserta kursi yang dia duduki.
"Ampuni kami, Tuan!" teriak Tere, keringat dingin membanjiri wajah yang biasa dipoles riasan tebal.
"Tuan!"
Klek!
Pintu tertutup dari luar, seketika ruangan itu menjadi gelap gulita, tersisa ringisan, teriakan, dan jeritan ibu, anak itu.
Malik tersenyum tipis kala suara jeritan terdengar sampai ke telinganya.
Tampar dibalas dengan tamparan, mencubit dibalas dengan cubitan, dan nyawa harus dibalas dengan nyawa.
"Jalan, Pak!"
"Baik, Tuan."
Mobil hitam itu keluar dari area rumah tua terbelengkalai.
Malik menatap jalan raya yang masih sepi. Tentu orang-orang belum memulai aktivitasnya pada pukul setengah tiga dini hari. Begitu memasuki mobil, Malik langsung sibuk dengan ponselnya. Sebuah pesan membuat pupil Malik melebar, dia mengirim pesan balasan, lalu dengan cepat menyimpan ponselnya kembali.
"Lebih cepat lagi, Pak!"
"Baik, Tuan!"
***
Suara alat EKG memenuhi ruangan itu. Begitu sampai, Malik langsung mengganti baju dengan pakaian hijau steril. Tangan besar Malik melingkupi tangan mungil yang terbebas dari jarum infus.
Malik membawa tangan dingin itu untuk dikecup. Entah kapan mata dengan bulu mata lentik itu terbuka, Malik akan mengusahakan yang terbaik untuk gadisnya.
"Aina, ini saya, bangunlah, Aina!" lirih Malik.
Badan mungil yang selama ini menanggung beban besar. Bagaimana bisa gadis ini bersabar menghadapi Malik yang suka tantrum, sedangkan dirinya sendiri memiliki masalah yang tak kalah rumit. Bertambah lagi rasa kagum Malik pada gadis ini.
"Aina," panggil Malik pelan.
"Aina?" Malik mengerjap, dia tak salah lihat, jari Aina bergerak.
Dengan sigap, Malik menekan tombol yang ada di samping tempat Aina berbaring. Tak lama suara langkah kaki terdengar.
"Saya mohon bertahan, Aina!"
Malik memberi ruang agar tenaga medis memeriksa kondisi Aina. Meski awam, Malik yakin jika saat ini Aina telah menunjukkan perubahan yang positif. Dari samping Malik bisa melihat kelopak mata itu perlahan terbuka. Saat itu juga Malik kembali mendekat, dia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Aina?"
"Tu-an?"
"Pasien sudah melewati masa kritisnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Short Story: Our World
RomanceKumpulan cerita pendek warning!!! area dewasa #1 Short Story 4/4/2023 #1 Short Story 5/4/2023 #1 Short Story 6/4/2023 #1 Cerpen 30/9/2023 #4 Oneshoot 5/4/2023
