The Only One~1

5.5K 216 4
                                        

Haaaaiiii

Jumpa lagi dengan aku👐
Cerita baru niiih👐

Ramaikan yaaaa, baru bab pertama udah 2200++ kata😶

Klik bintang di pojok dulu!

Ada typo? Kasih tahu aku!

Happy reading👐

~

Mata gadis itu berbinar menatap makanan yang ada di atas meja. Segala macam olahan daging ada di sana, pun sayuran segar diolah tak kalah lezat, dan tentu saja buah-buahan siap disantap sebagai pencuci mulut.

Tanpa sadar gadis itu meneguk ludah, hal yang paling dia sukai jika ada acara besar seperti ini adalah makanan! Di tangannya sudah terdapat piring kosong, sebelah tangannya lagi membawa sumpit, siap untuk mengambil segala jenis makanan.

"Nara!"
Gerakan tangan gadis itu terhenti ketika seseorang memanggil seraya menepuk pundak.

"Iya, Mbak?"
Karena yang memanggil adalah mbakyunya, tentu Nara tak bisa menceramahi orang yang telah menginterupsi kegiatan asyiknya.

"Kamu sudah kasih selamat ke Kinasih?"

Nara menaruh seratus persen atensi ke sang kakak. Gadis itu mengangguk dengan semangat. "Bahkan sebelum acara pernikahan, Nara sudah memberi selamat." Mungkin dia orang pertama yang mengucapkan selamat ketika tanggal pernikahan telah ditetapkan.

"Beda, Nara! Ayo!"
"Dari tadi, Mbak lihat kamu muter terus, kamu itu harusnya duduk manis di sana. Itu loh, Ibu khawatir kamu berbuat onar lagi!"
Tangan Nara ditarik oleh sang kakak. Hal itu membuat beberapa tamu menatap ke arah keduanya.

Nara menatap makanan yang memenuhi meja dengan nelangsa. Selalu seperti ini! Dulu saat pernikahan Kumala, Nara juga tak bisa leluasa menyantap hidangan, kini di pernikahan kakak keduanya Nara kembali gagal memanjakan perut.

"Sana! Beri ucapan dan doa untuk pengantin!" Kumala berhenti menarik tangan Nara ketika mereka sudah tak jauh dari pelaminan.

"Iya, iya." Baiklah, Nara akan memberi ucapan selamat. Setelah ini dia akan kembali ke area makanan.

"Mas Agung, titip Mbakku ya. Jangan disakiti, jangan dibikin nangis, dan jangan dimadu." Nara menyalami tangan besar kakak iparnya.

Mendengar pesan dari gadis yang resmi menjadi iparnya, Agung hanya bisa mengiyakan seraya tersenyum. Bukan rahasia lagi jika Nara rada berbeda dari saudari lain gadis itu.

"Ck! Nara!" Kinasih menggeleng mendengar pesan sang adik.

"Sana! Sana! Tadi mau makan, kan kamu?"

Nara mengangguk kencang. Ya, memang apa lagi? Segala urusan pernikahan sang kakak, sudah dipersiapkan oleh para bawahan, Nara tak mau duduk di kursi yang telah disediakan bersama saudari lain. Memangnya Nara pajangan apa? Duduk diam menebar senyum seperti mereka?

Dengan riang, Nara turun dari pelaminan, melewati tempat duduk para sesepuh yang sesekali memberi kode agar Nara tenang di tempat duduk yang telah disediakan.

"Iya, kan, gosipnya emang begitu, Nara ini sudah terkenal urakan. Bahkan biro perjodohan saja tidak bisa mencarikan calon."

Kunyahan Nara terhenti ketika telinganya yang sensitif mendengar kalimat itu. Gadis itu berbalik dan di sana dia bisa melihat sepupunya menggerombol seraya menatap ke arahnya.

Menyadari tatapan Nara, para gadis yang menggerombol itu kompak berhenti bicara.

"Astaga! Kupingku panas sejak tadi!" Nara berdiri dari meja tempatnya makan. Bukannya tak menyadari, hanya saja Nara tak mau ambil pusing. Tapi yang satu ini harus diberi peringatan!

Short Story: Our WorldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang