Be Your Wife~1

17.4K 475 8
                                        

Assalamualaikum😌
Banyakan Ukhti apa Akhi di sini?

~

"Ini yang katanya mau berjuang?" Sebuah undangan berwarna cokelat terhempas di atas meja.

Anindya melirik sekilas nama kedua calon pengantin. Sial! Kalau seperti ini caranya dia tidak bisa menghindar lagi dari perjodohan yang sang ayah rencanakan.

"Astaga, jadi mereka sudah mau menikah? Itu artinya mereka sudah menjalin hubungan sejak kalian masih pacaran, Anin." Mamanya justru mempertegas keadaan.

"Huh, kamu mau mengelak bagaimana lagi, Anin? Hampir semua lelaki yang kamu kenalkan ke Papa dan Mama tidak ada yang benar." Papa tersenyum kecil.

Apa salah jika Anindya ingin bebas menentukan pilihan. Tapi ya itu, pilihannya tidak pernah pas. Ada yang ternyata penyuka sesama jenis, mulut lemes kayak admin gosip, enggak modal alias tukang morotin, dan yang terakhir selingkuh sama temen kecilnya.

Nasib Anindya sama kacaunya dengan sang sahabat, sama-sama menjadi korban teman jadi demen.

"Papa sama Mama juga salah di sini, masa Anin masih muda disuruh nikah."
Perjanjiannya kalau Anin bisa bertemu dan mengenalkan lelaki baik pada mama dan papa, perjodohan ala papa akan dibatalkan.

"Papa pilihin kamu calon juga enggak asal-asal, Nin. Dia mapan, baik, dan agamanya pasti bagus."

"Halah, ada kok orang yang tekun, ibadahnya rajin tapi malah selingkuh." Anin langsung berdiri setelah mengatakan hal itu.

Contoh kalimat Anin tersebut adalah lelaki yang ada di depannya. Apa salah jika anak yang tumbuh dengan sebuah trauma takut untuk menjalin hubungan serius?

"Anin!" Papa menggeleng pelan. Anak itu terus mengungkit masa lalu yang kelam.

"Udah, Pa. Itu konsekuensi karena dulu Papa nakal." Mama mengikuti Anin, dia sih tidak mempermasalahkan jika sang anak tidak mau dijodohkan.

***

Sekeras apa pun, Anin mencoba melawan papa, gadis itu tetap tidak sanggup. Selesai dari rumah Sahira, memberi dukungan untuk masalah yang sedang sahabatnya hadapi, dan sekarang Anin sendiri memerlukan dukungan.

"Enggak mau, Pa! Maksa banget sih jadi orang tua! Sana Papa aja yang nikah!"

Mama Anin menggeleng pelan. Tidak mempermasalahkan kalimat sang anak yang menyuruh suaminya untuk menikah lagi. Tapi tingkah Anin yang seperti binatang, bergelantungan di atas jendela sambil melihat pemandangan luar.

"Anin, kalau kamu jatuh yang rugi kamu sendiri! Nanti gigi kamu ompong apa tulang kamu patah siapa yang sakit?"

"Anin turun tapi jangan terima temannya Papa sama keluarganya di rumah ini," nego Anin.

"Iya, udah sini turun!" Mama menarik tangan Anin dan sekarang anak itu kembali menyentuh lantai kamar.

"Aw!" Anin meringis ketika daun telinga bagian kanan ditarik oleh sang mama.

"Kamu kira Mama enggak tahu hal kriminal apa yang kamu lakukan kemarin lusa?"

"Lah? Emang apaan, Ma?" Anin pura-pura bego.

"Kamu dorong orang di kamar mandi, sampai pendarahan, Anin!"

"Aduh!"
"Ampun, Ma. Ya gimana dong, Ma tapi sekarang terbukti dia sama calonnya Sahira ada affair." Anin berusaha melepaskan diri. Insting korban yang tersakiti oleh si mantan tukang selingkuh apalagi selingkuhannya sahabat sendiri itu kuat!

"Ya tapi enggak usah melibatkan fisik dong, Anin! Kamu itu cewek, harus anggun, lah ini kelakuan kayak setan. Siapa yang didik kayak begitu."

"Sebagai hukuman karena kamu sudah melakukan perbuatan tidak terpuji itu, perjodohan ini tetap dilanjutkan."

Sialan!

***

"Saya terima nikahnya Anindya Wardani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu pada dua orang saksi di samping kanan dan kiri.

"Sah!"

"Alhamdulillah."

Woi, kalau dari awal Anin tahu siapa lelaki yang akan dijodohkan dengan dia, tentu gadis itu tidak akan mengeluarkan tenaga lebih untuk memberontak.

Asli, baru kali ini Anin setuju dengan keputusan papa. Ternyata benar, calon yang dipilihkan papa sesuai dengan deskripsi mapan, tampan, dan rajin ibadah.

Anindya menyalami tangan suami, cielah suami. Meski si suami sejak pertama kali berjumpa banyak diam, di sini Anindya yang akan bergerak untuk membuat pernikahannya berwarna. Asyik!

***
Selesai membersihkan diri dari atribut pernikahan, Anindya sudah cantik dengan baju tidur motif Supermannya. Mohon maaf kalau rada aneh, tapi hanya baju tidur ini yang dia punya. Biasanya sih cuman pakai tanktop dan celana pendek. Mau pakai kayak begitu sekarang, takutnya mas suami kejang-kejang. Orang alim begitu, mana pernah lihat cewek hampir telanjang.

Saat pertama kali bertemu, lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu selalu menunduk. Enggan bertatap mata, padahal dia berusaha mencari perhatian.

Drrrt!

Anindya meraih ponsel yang ada di meja samping tempat tidur. Tentu saja tempat tidur sudah dihias dengan ornamen ala-ala kamar pengantin. Ihiiir, Anindya macam orang bodoh yang tersenyum sendiri saat membuka pintu kamar ini tadi. Sayang sang suami tak kunjung bergabung.

"Eh? Bukan hape gue." Anindya melirik ke sekitar, dan tatapannya jatuh pada ponsel hitam yang layarnya berkedip.

Ponsel itu tidak asing, alias milik sang suami. Anindya tahu karena sang suami kerap memainkannya saat mereka bertemu.

Kepo, alias ingin tahu maksimal siapa gerangan yang menghubungi suaminya, Anindya berjalan mendekat dan meraih benda pipih itu.

"Aman."

"Hihihi, kayak istri-istri posesif gue," senyum jahil terbit di bibir Anindya. Tapi senyum itu tidak berlangsung lama, karena melihat gambar seorang gadis yang menjadi wallpaper layar kunci ponsel sang suami.

Gadis cantik dengan senyum manis, berkerudung hitam yang sangat kontras dengan kulit susunya. Tampak sosok cantik itu berdiri mengapit ibu mertua bersama sang suami.

Bukan, dia ini bukan kerabat apalagi adik suaminya. Wajah asing bagi Anindya itu bisa membuat suaminya tersenyum lebar. Senyum lebar yang bahkan tidak terbit ketika akad nikah mereka berlangsung tadi.

Anindya meremas ponsel tersebut. Sial! Ternyata dia masuk ke lubang yang sama. Lepas dari teman jadi demen, kini terbit lelaki yang belum selesai masa lalunya.

Oh Tuhan, dosanya apa terlalu banyak?

"Lancang sekali kamu!"

Ponsel hitam itu dengan cepat berpindah tangan. Si pemilik kini menatap Anindya dengan mendelik.

"Kamu tidak berhak-"

"Apa? Tidak berhak apa? Siapa tuh cewek? Kayaknya lu bahagia banget ya sama dia?" Masa bodoh yang namanya jaga image atau sopan santun.

"Siapa dia, itu bukan urusan kamu!"

Jleb!
Hati Anindya terasa perih, perihnya lebih pedih saat mantan terdahulu membuatnya kecewa.

"Bukan urusan gue?"
Anindya berdecih. Percuma saja dijodohkan dengan lelaki ini. Sifatnya tidak jauh beda dengan mereka yang bukan berasal dari keluarga yang kuat agamanya.

"Gue istri lu Gus Farhan!"

~

Aku mau ucapin terima kasih banyak buat kalian yang sudah mampir dan beri dukungan di setiap extra part cerita aku.

Doakan aku bisa memenuhi ekspektasi kalian😌

Banyak yang bilang bab kurang panjang, atau cerita kependeka.
Shay, ini udah standar kok. Kalau kepanjangan malah nanti mahal🙃

Jangan lupa vote dan komen!
Follow juga akun ini biar tidak ketinggalan updetanya😗

Terima kasih, Cintaaaah

Pikachu💓

Short Story: Our WorldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang