Secret Admirer~1

8.9K 319 11
                                        

Hay🤗

Apa kabar? Coba komen serindu apa kalian menunggu cerita ini🤣

~

Cantik, pintar, dan berbakat, adalah definisi sempurna dari seorang Intan. Gadis yang memiliki sejuta talenta itu entah kenapa mau berteman bahkan memilih untuk menjadi kawan sebangku seorang yang bertolak belakang dengannya.

"Gila, banyak banget hadiahnya!" Nafi melirik loker meja Intan yang menampung banyak hadiah dari para penggemar gadis itu. Maklumlah, Intan baru saja memenangkan lomba menyanyi.

"Aku bingung, semua ini harus dikemanain, Fi."

Satu lagi definisi seorang Intan Armelia, dia juga lembut dan penyayang. Bahasanya tidak terkontaminasi bahasa anak gaul zaman sekarang.

"Tenang, kan ada gue yang bantu habisin." Nafi tertawa.

"Tara! Gue bawa kantung plastik untuk angkut semua hadiah dan surat itu!"

Intan tertawa. "Emang kamu the best deh!"

Intan dan Nafi mulai memasukkan hadiah, surat, bahkan bunga ke kantung plastik yang Nafi bawa. Ketika keduanya sedang sibuk, seseorang masuk membuat seisi kelas menjadi gaduh.

"Dewangga!"

"Ih, dia ke kelas kita."
Telinga Nafi sangat sensitif dengan nama itu, dia mendongak dan mendapati Dewa sudah berada di samping mejanya.

Nafi tertegun melihat lelaki yang biasanya hanya dilihat dari kejauhan bisa sedekat ini dengannya. Wangi parfum dari lelaki itu sukses membuat otak Nafi berhenti bekerja beberapa detik.

"Selamat untuk kemenangan kamu, Intan!"

Sebuah kotak berwarna merah muda terulur melewati Nafi. Sorakan dari penjuru kelas membuat Nafi mengerjap dan kembali ke kenyataan.

Gadis itu berinisiatif untuk menyingkir tapi Intan menahan lengannya.

"Te-terima kasih." Intan menerima kotak merah muda itu.

"Sekali lagi selamat, semoga kamu suka hadiahnya." Dewa melempar senyum ke arah Intan yang berusaha menyembunyikan diri di samping Nafi.

Nafi menoleh, jantungnya dengan kurang ajar berdetak kencang. Padahal dia tahu, senyuman itu bukan untuknya.

Sesuai kepergian Dewa, sorakan dari penghuni kelas semakin menjadi. Intan yang luar biasa malu, hanya bisa menyembunyikan diri di balik lipatan tangan.

Nafi melirik kotak merah muda yang ada di pangkuan Intan. Yang baru saja terjadi, bukan sebuah keajaiban. Tidak salah jika primadona sekolah berhasil membuat lelaki seperti Dewa tertarik.

***

Nafi berjalan di koridor, gadis itu membawa tas milik Intan. Bel pulang sekolah sudah berbunyi, dan seperti biasa di jam pelajaran terakhir Intan diberi kelonggaran untuk mendapat latihan guna mengikuti lomba, setelah kemenangan kemarin membawa gadis itu mewakili kabupaten.

"Hei!"

Nafi menghentikan langkah. Dia menoleh dan mendapati Dewa bersama dua teman lelaki itu.

"Ya?"

"Lu temannya Intan, kan?"

Nafi mengangguk. Apa yang sebenarnya dia harapkan? Sudah jelas jika lelaki ini pasti akan membahas tentang Intan.

"Titip buat dia ya! Tolong dikasih ke dia nanti."

Amplop berwarna merah muda terulur di depan Nafi. "Ke-kenapa enggak lu kasih langsung?"

Short Story: Our WorldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang