My Universe~1

4.8K 270 8
                                        


Haloo, selamat pagi maniess

Aku upload di jam 3 pagi wqwqwqqq

Cerita ini aku tulis karena kangen sama ceritanya Arumi dan Dito.
Mirip dikit, tapi banyak enggak miripnya👉👈

Eh, gimana? Udah deh, pada baca aja yee🫠

Disclaimer:

Aku tidak tahu pasti kehidupan seorang prajurit, begitu juga tentang proses yang harus dilakukan kalau ada 'perpisahan'. Tapi aku udah coba cari di internet, dan pernah baca juga cerita tentang pemeran utama yang seorang prajurit.

Jadi semisal ada tulisan, atau plot yang agak kurang, mohon dimaklumi ya🙏

Happy reading👐

~

Pasangan suami istri itu berjalan lesuh keluar dari sebuah rumah bercat hijau. Kesekian kali, di hari yang cukup terik, keduanya harus menghadap dan berakhir mendapat banyak wejangan.

"Kayaknya alasan kita kurang tepat, gimana kalau buat alasan salah satu di antara kita selingkuh."

Kalimat itu membuat lelaki yang masih berseragam lengkap menoleh ke arah sang istri.

"Enggak bisa ya? Bikin karier lu-"

"Kita bicarain nanti," potong lelaki dengan potongan cepak tersebut.

Gadis di sampingnya mendesah pasrah. Untuk menyandang gelar sebagai istri lelaki ini amat rumit, ternyata untuk melepas status istri lelaki ini lebih sulit lagi.
"Jam berapa nih? Lu enggak lupa jemput Becca, kan?"

"Lu mau ikut?"

Pertanyaan itu membuat Pitaloka meremas ujung kemeja yang dipakai. Gadis itu mengalihkan pandangan dari sang suami. Oh, waktunya telah tiba! Padahal dia sudah mempersiapkan hatinya jauh-jauh hari.

"Nggak! Gue mau kemas-kemas."
Proses perpisahan untuk kalangan mereka sangatlah rumit, butuh persetujuan dari komandan yang menjadi tetua di batalyon. Di saat pasangan itu melakukan segala hal agar segera berpisah, justru para tetua memberikan beberapa kelonggaran agar keduanya tak jadi bercerai. Contoh, saat ini Pitaloka diberi kelonggaran untuk absen dari kegiatan persit. Mungkin bu Noval, istri dari danyon berasumsi jika Pita jenuh dengan kegiatan sebagai istri prajurit.

"Kalau gitu tunggu gue di rumah mama, beliau pingin bicara sama kita."

Pita menoleh cepat, gestur lelaki di sampingnya lebih tegang daripada saat mereka disidang tadi.
"Mama?"

"Bu danyon yang ngasih tahu mama."

Pita menghela napas. Kalau seperti ini, bagaimana mereka akan menghadapinya? Beliau tentu sangat kecewa mendengar berita penting ini dari orang lain.

"Lu jemput Becca dulu, nanti lu balik ke asrama jemput gue. Gue enggak berani menghadap beliau sendiri."

"Oke."

***

'Nak, bicarakan dulu baik-baik, jangan gegabah.'
'Pernikahan itu suatu yang sakral, kalau masih bisa diselesaikan, ayo diselesaikan dulu. Kalian sudah berjanji di hadapan Tuhan dan keluarga. Tekan ego kalian, luaskan kesabaran, dan ikhlaskan yang membuat hati kalian membelenggu.'

Pita menatap langit-langit kamar. Kalimat wejangan yang diberikan oleh mertuanya masih terngiang jelas di kepala.

Akhirnya, hari ini tiba juga. Wajah yang biasa teduh itu memandangnya penuh kekecewaan. Pita merasa sangat bersalah.

Ceklek!

Si pemilik kamar akhirnya datang. Rencana awal, lelaki itu kembali ke asrama dan mereka datang bersama ke rumah, tapi waktu untuk temu kangen tak bisa sesingkat itu.

Short Story: Our WorldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang