Typo? Kasih tahu aku yaaa
Klik bintang di pojok dulu👐
Happy reading👐
~
"Dasar pejabat sampah! Ternyata selama ini dia pura-pura baik!"
"Sungguh gila! Bisa-bisanya kita memiliki pemimpin yang ternyata kriminal!"
"Kehidupan mereka sangat nyaman! Anak-anaknya terjamin! Tapi, anak-anak kita harus menjadi tumbal keserakahan mereka!"
Halaman depan rumah keluarga Kinara dipadati oleh warga yang sudah mengetahui perihal penangkapan ayah Kinara. Mereka geram, tak sedikit dari mereka yang membawa kotoran lalu melempar ke arah gerbang kediaman gubernur.
Sumpah serapah, makian, bahkan ancaman terdengar sampai ke dalam rumah. Suasana di dalam tak kalah kacau, ibu Kinara belum siuman dari pingsan, kakak Kinara berusaha membangunkan sang ibu.
Kinara memandang lurus ke arah pintu gerbang yang mungkin bisa dijebol jika saja para penjaga tidak segera mengusir para warga. Mata Nara terpejam, masalah datang silih berganti, setelah pemilihan puteri mahkota, kini ayah Kinara mendekam di penjara karena tuduhan tak berdasar.
Nara sangat tahu, ayahnya adalah orang yang haus kekuasaan, tapi untuk melakukan tindakan jahat seperti menculik para anak kecil, Nara berani bertaruh semua itu hanya fitnah.
"Kita harus pergi dari sini! Kusuma! Kamu pikir ayahmu akan pulang? Bukannya pulang, bisa jadi ayahmu sudah mati dipenggal! Dan kita pasti akan terkena dampaknya!"
Nara dan semua orang yang berkumpul di aula rumah menatap istri ketiga sang ayah dan anak satu satunya, kedua pasang tangan mereka sibuk membawa buntelan besar.
"Ibu mau ke mana?" tanya Nara.
"Ibu?" panggil Nara lagi ketika tak mendapat jawaban.
"Tentu saja mengamankan diri! Untuk apa berdiam diri di sini! Cepat atau lambat tempat ini akan dimusnahkan, dan kita semua ikut terseret mendapat hukuman! Aku tidak sudi!"
"Ayo, Kusuma!"
Nara menganga mendengar rentetan kalimat itu, bahkan di situasi seperti ini, dia memikirkan dirinya sendiri!
"Aku juga tidak mau ikut terseret!"
"Aku juga!"
Nara menoleh ke arah istri ayahnya yang lain, seakan diingatkan mereka langsung beranjak dari tempat duduk.
"Astaga!" Nara memijat keningnya yang sejak tadi terasa pening.
Di saat seperti ini, mereka sangatlah egois. Nara terdiam lagi, tapi pikiran gadis itu melanglang ke segala arah.
Tidak! Kinara tidak boleh diam saja!
Tidak hanya ayah dan pamannya yang akan hancur, keluarga besar ini akan musnah. Nara yakin ini hanya fitnah! Keluarga besar Kinara sedang dikambing hitamkan oleh seseorang.
"Tidak akan aku biarkan mereka menang!"
Tangan Nara mengepal kuat. Jika terbukti ini semua hanya fitnah, Nara bersumpah akan membuat orang-orang itu menerima ganjaran.
***
Aula sidang menjadi saksi bisu ketegangan pada sidang pertama kasus penipuan serta penculikan yang melibatkan petinggi negeri.
Sidang kasus besar itu dihadiri oleh seluruh menteri, bahkan tokoh masyarakat ikut hadir, dan baginda raja Pandu Gumilar turut menghadiri sidang tersebut.
Raut kekecewaan kental di wajah sang raja, anak buah yang selalu diandalkan terlibat kasus besar yang amat merugikan rakyat.
"Saya disuruh oleh Tuan Guntur untuk menculik anak-anak itu Yang Mulia. Setiap minggunya, anak-anak yang berhasil diculik akan dikirim ke sebuah rumah di tengah hutan, dan entah anak-anak itu dibawa ke mana, saya tidak tahu." Paijo, lelaki paruh baya itu terisak seraya menjelaskan para baginda raja Pandu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Short Story: Our World
RomanceKumpulan cerita pendek warning!!! area dewasa #1 Short Story 4/4/2023 #1 Short Story 5/4/2023 #1 Short Story 6/4/2023 #1 Cerpen 30/9/2023 #4 Oneshoot 5/4/2023
