Di dalam kamar yang kedap suara, di sana tepatnya di atas ranjang— kedua insan masih terus bercumbu meski fajar akan segera tiba. Taehyung berada di bawah kendali sang tuan, sementara dirinya telah lama pingsan dan tak sadarkan diri.
Cairan putih berceceran pada tubuh berisi Taehyung, kekasih pria Jeon menyatakan gugur pada pertempuran ranjang yang masih terus berlangsung. Sudah tak terhitung pria itu ejakulasi, namun rupanya Jeongguk tak kunjung merasa puas hingga kini masih terus menjilati tubuh telanjang suaminya.
Usai dibersihkan, Jeongguk berencana untuk tidur— namun semua itu hanya bualan semata. Pria itu kini berada di atas suaminya, menjilati pucuk dada Taehyung yang tidak ada asinya.
Jangan mengatakan gila padanya, sebab Jeongguk telah mengakui semua itu sedari lama.
Pria Jeon kehausan, memilin puting sang kekasih— dengan mulut menghisap puting satunya secara bergantian. Matanya terpejam, Jeongguk begitu menyukainya, dia bahkan mengeluarkan desahan setiap kali dada Taehyung dia remas kuat. Tak tahan, pria Jeon menjulurkan lidah lantas menjilati areolanya lihai.
"How it can be so good hm?" Jeongguk bergumam sendirian, melumuri puting mengeras Taehyung dan memilinnya dengan kedua tangan. Memandangi wajah kelelahan sang kekasih yang sudah lama menyelam ke dalam mimpi, Jeongguk terbuai oleh kelakuannya sendiri.
•—•
Tamparan keras melayang di pipi kanan Ethan, panas menjalar begitu sakit sesaat luka itu turut menggores hatinya. Menunduk, si putra kedua terdiam tanpa mencoba membantah pada perlakuan sang kakak. Zack, tampak membara pada emosi yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, dia tidaklah pernah benar benar berniat untuk menyakitinya, bahkan pada perkelahian di atas ring sekalipun rasa benci tak pernah hadir ketika melawannya.
Namun saat ini..
"Apa yang telah kau lakukan Jeon Ethan?"
Hening, denting jam mengalun meramaikan sunyi sekitar kamar si putra kedua. Zack, menatap ke arahnya dengan netra elang yang mengintimidasi. Tatapan mematikan yang hanya bisa dilakukan oleh si pemimpin rumah. Terlalu segan, dia akui— Zack bukanlah lawan sepadan. Rasa sungkan jauh lebih besar tatkala berhadapan dengan si sulung, satu satunya orang yang bisa membuatnya tak berkutik setelah ayahnya.
"I understood you Jeon, but i didn't expect you to go that far." ujar Zack tegas, menatap tak percaya ke arah bocah laki laki yang masih tetap bergeming di tempatnya.
"You don't know about anything, you don't get anything, you don't know about everything, no you don't." Zack menghela napas, parau dia berbicara "You don't understand."
"Kau bertindak untuk apa? huh?" Zack berlutut, menyelaraskan kakinya dengan Ethan yang duduk di tepi ranjang.
"Untuk mendapatkan keadilan? is that what you want? hey look at up.." Dia menjentikkan jari, meminta sang adik menatap dirinya tepat di mata "What's on your mind? hidup tidaklah semenyenangkan itu Ethan, keadilan tak ada di dunia ini, kau bertingkah selayaknya kau bisa menyelesaikan semuanya. Tapi kau tidak mengerti, untuk apa kita dilahirkan."
Ethan meremat pahanya sekuat tenaga, panas terasa kala ucapan tersebut menjadi tamparan kuat yang menyakitkan. Zack masih tetap menatapnya "Kau pikir kau siapa? ingat Ethan bahwa kau lahir bukanlah sebagai yang pertama. Maka kau tidak akan pernah mengerti kehidupan seperti apa kita ini, segalanya yang telah terjadi di rumah ini, kau tidak akan mengerti."
YOU ARE READING
J E O N ' S || KV 3
RomansKisah mereka belum sampai di penghujung cerita, ada sebuah janji yang telah terikrar untuk dipertanggung jawabkan di hadapan tuhan atas nyawa seseorang sebagai jaminan Pernikahan tulus menghadirkan beberapa nyawa sebagai pelengkap hubungan, bukan ha...
