Kisah mereka belum sampai di penghujung cerita, ada sebuah janji yang telah terikrar untuk dipertanggung jawabkan di hadapan tuhan atas nyawa seseorang sebagai jaminan
Pernikahan tulus menghadirkan beberapa nyawa sebagai pelengkap hubungan, bukan ha...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Drone kembali memasuki kawasan rumah, bersamaan dengan terbukanya gerbang utama- satu kendaraan milik sang pemimpin terparkir di area halaman. Angin malam berterbangan, tiba tiba saja udara di sekitar menjadi dingin, tak ada kejanggalan- yang ada hanyalah perasaan pria Jeon yang mendadak tak tenang.
Jeongguk melihat sekeliling, dia mematung di depan pintu mobil, kosong, tatapannya datar dengan safirnya yang berangsur menajam. Hal itu menarik perhatian Jaehyun yang baru saja akan membawa mobil masuk ke dalam garasi.
"Sir, anda baik baik saja?"
Pria Jeon tak menjawab, menutup pintu mobil lalu melangkah memasuki rumah- meninggalkan Jaehyun yang terdiam beberapa saat, dia menekan telinga, baru saja keberadaannya tiba namun sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana.
Keduanya berjalan secara beriringan, begitu pintu utama terbuka, lampu menyala terang mendapati sensor pemiliknya yang baru saja datang. Keadaan rumah sudah sepenuhnya menjadi sepi, para maid sudah pasti sedang beristirahat di kamar tidurnya masing masing.
Melihat pria Jeon yang tetap diam dan belum juga melanjutkan langkah membuat Jaehyun mengerti untuk pergi meninggalkannya sendiri. Jaehyun berlalu dari sana, melonggarkan beberapa kancing kemeja beserta jas kerja yang dia lepas dari tubuhnya.
Baru saja dia hendak memasuki ruang pribadinya, namun pada saat tangan itu bergerak melepas handsfree - benda itu menyala.
"-ketua."
"Kami membutuhkan keberadaanmu di sini."
Yang mengakibatkan perasaan Jaehyun menjadi tak tenang di sana, dia mengurungkan niat yang sebelumnya akan beristirahat, lalu memutuskan pergi menuju ruang basement - ruang dimana para pekerja keamanan masih terjaga hingga malam tiba.
•-•
Lampu menyala, pada hening suasana sekitar, derap langkah kaki seseorang tak mengusik pemilik kamar yang tengah terlelap. Dia mendekat pada ranjang, kemudian mematung. Berdiam di balik cahaya lampu kamar tidur yang terpajang di atas nakas.
Jeongguk pandangi wajah terlelap itu, yang dia lakukan hanya diam- menelisik, matanya beredar ke penjuru kamar yang diisi oleh banyak koleksi barang kegemaran milik putra- nya. Pria Jeon berjalan perlahan menelusuri kamar tidur sang putra, ntah apa yang ada di pikirannya hanya saja Jeongguk tengah mengikuti kata hati nya sekarang.
Tak ada benda yang disentuhnya, kedua tangan itu masih tersimpan apik di kedua saku celananya. Jeongguk hanya mengamati furnitur kamar yang bahkan dia tak ikut andil ketika membuatnya, semua dia serahkan pada keinginan ketiga putra-nya.