Chapter 95

2.1K 243 172
                                        

Lembaran kertas berceceran memenuhi seisi lantai, pada ruang hangat yang didominasi oleh warna pastel dipadu dengan merah muda- musik diputar mengisi kekosongan sekitar. Dari balik selimut, sosok anak perempuan muncul, ikat rambutnya terlepas hingga membuat surai hitamnya tergerai cantik.

"Appa? kenapa musiknya dimatikan?"

"Haerin appa ingin bicara, ijinkan appa masuk"

Haerin cemberut, dengan malas dia bangun dari posisi tidur untuk duduk di sisi ranjang. Pria dengan balutan kemeja yang dia akui sebagai ayahnya datang menghampiri - Jimin menyerahkan ikat rambut sang putri yang segera digunakan oleh Haerin.

Dia memperhatikan, bagaimana putri kecilnya dulu kini sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Ukiran wajahnya yang menggambarkan perpaduan antara dirinya dengan Haewon, tanpa sadar Jimin mengusap pucuk kepala putrinya sayang.

"Cantik, persis seperti ibumu."

Haewon menghela napas "Aku tau appa, banyak yang mengatakan seperti itu."

"Benarkah?" Jimin tersenyum kecil "Sudah pasti ada banyak teman sekelasmu yang mengejarmu?" ucapnya sedikit menggoda membuat Haerin merenggut dan menggelengkan kepala.

"Katakan pada appa, siapa teman laki lakimu yang kau sukai?"

Haerin tetap menggeleng "Tidak ada, tidak ada yang aku sukai."

Mendapat jawaban tersebut Jimin terkekeh "Jangan malu untuk mengungkapkan, kau tau appa akan mendengarkan."

Kemudian Haerin terdiam, wajah yang semula merenggut kini tampak sedang berpikir. Gadis kecilnya benar benar sudah tumbuh besar, Haewon sering mengatakan bahwa putrinya itu gemar sekali bercerita tentang teman laki lakinya. Namun rupanya Haerin masih cukup takut untuk terbuka pada ayahnya.

"Noona! pinjamkan ak- appa?"

Keduanya menoleh, di ambang pintu anak laki laki dengan headphone di lehernya berjalan memasuki kamar. Jimin tersenyum, melayangkan tangan melakukan tos bersama sang putra tersenyum memeluknya "Appa kembali lebih awal, appa temani aku bermain kita akan bermain video games"

Jimin mengangguk "Tentu, setelah appa selesai berbicara dengan Haerin, appa akan menemani Haneul bermain."

"Apa yang sedang kalian bicarakan? Noona terlihat gugup" ucap Haneul menatap wajah kikuk kakak perempuannya.

Jimin terkekeh lantas berbisik pada telinga sang putra "Appa sedang bertanya siapa teman laki laki yang Haerin sukai" yang mengundang pekikan Haneul keluar "Sukai?!"

Sang ayah mengangguk "Appa sedang menunggu jawaban Haerin"

"Appa tidak ada teman laki laki yang aku sukai!" seru Haerin menatap Haneul dengan gertakan.

Kemudian senyum Haneul berubah, sedikit menggoda sang kakak dengan tatapan jahil "Itu benar appa, noona tidak memiliki teman laki laki yang disukai-" mendengar itu Haerin membuang napas lega, seolah kegugupan mencair seiring napas berat dia keluarkan "Lihat kan appa-"

"- tapi noona memiliki orang dia sukai!"

"Haneul! tutup mulutmu!" gertak Haerin

"Benarkah? beritahu appa, siapa itu?"

"Putra paman Taehyung! dia Jeon hmmp-!" ucapan Haneul terhenti, tepat sesaat sebuah tangan menutup mulutnya rapat. Haerin menggertak sang adik, memarahi Haneul yang terus berusaha melepaskan diri.

Mengabaikan sang ayah yang terdiam di tempatnya terduduk, senyum Jimin seketika luntur, lenyap begitu saja kala ucapan Haneul berdengung di telinga. Pria itu mematung, hatinya membatu seolah baru saja mendapat tamparan kuat. Tangannya meremat pinggiran kasur dengan sangat kuat, sesaat Haneul berteriak meminta bantuannya main main- Jimin bangkit dan berlalu dengan perasaan gundah yang tak bisa dia jelaskan.

J E O N ' S || KV 3Where stories live. Discover now