"Tetaplah di rumah sampai saya kembali."
"Tapi— "
"Tuan muda akan segera pulih, kita harus bergegas."
—
Jeongguk menelan tiga butir pil dalam genggaman, meneguk air pada gelas tak tersisa— sejenak dia termenung menatap lurus tanpa ekspresi ke arah lantai kamar inap rumah sakit. Waktu telah menunjukkan pukul dini hari, tepat satu jam yang lalu tengah malam mereka lewati, hari semakin terasa sepi namun suasana yang dipenuhi bau obat obatan tak pernah jauh dari kata sunyi.
Terdiam seorang diri tanpa obrolan yang hanya ada dirinya dengan sang kekasih, Jeongguk menoleh guna memastikan Taehyung damai dalam tidurnya. Hening terasa, tiba tiba saja ingatan membuyarkan seisi pikiran, melihat tubuh terbaring lemas di atas ranjang— Jeongguk seolah memutar kembali ingatan dimana saat Taehyung melahirkan.
Menyakitkan.
Tangisan serta jeritan
Jeongguk pejamkan mata, dia membencinya.
Lamunan terpecahkan, pada samar langkah kaki terdengar— telinga si pria Jeon bergerak untuk mendengarkan bunyi telapak kaki yang tampaknya begitu lambat berjalan menjauhi ruangan. Jeongguk mulai menegakkan tubuh, bahu yang semula beristirahat turun kini mulai bangun dengan postur yang jauh lebih tegap.
Dengan lambat dia memutar tubuh, mendapati dua pria yang berjaga di depan terlihat berbincang sebelum salah satunya mengetuk pintu. Jeongguk terdiam beberapa saat, melirik sekilas ke arah orang tersayangnya— "Mohon maaf, tuan" intrupsi lebih dulu mengganggu nya.
Mereka memintanya keluar
Maka Jeongguk tanpa pikir panjang membawa kakinya melangkah menuju pintu, lengan baju yang semula menutupi pergelangan dia lipat hingga kini rapi di bagian sikut. Menampilkan urat tangan berjajar keras setiap kali dia melangkah, pria Jeon meraih ear monitor di sakunya lantas mengenakannya.
"Resepsionis memanggil anda tuan, biar saya antar"
Pria Jeon memandangi keduanya tenang, tanpa menjawab Jeongguk lekas berjalan lebih dulu, diikuti satu pekerja di belakang sementara pria yang lain tetap berjaga di depan pintu.
Bangunan besar dengan bau khas obat obatan di malam hari memang kentara perbedaannya, tak banyak orang yang berlalu lalang selain para perawat bertukar shift seiring pertambahan waktu bekerja. Jeongguk berjalan menelusuri koridor luar, langkah kakinya seirama dengan si pekerja yang setia berjaga di belakang.
Sampai tiba mereka di area taman, tepat selangkah kaki itu menginjak teras luar— "ARGHHHHH!"
Pukulan melayang pada perutnya, diikuti bogeman mentah dia berikan pada rahang, salah satu dari mereka terjatuh hingga harus dia seret pergi dari sana.
—
Mimpi buruk Taehyung adalah..
Melihat hantu dalam lelap tidurnya
Taehyung terbangun, pada sela tidurnya yang nyenyak dia terusik oleh kedatangan satu nakes yang tampak baru saja melakukan pengecekan pada tubuhnya. Kantuk melanda dirinya begitu hebat, menguap tak kuasa hingga mencoba untuk menyamankan posisi agar bisa kembali beristirahat lagi.
Taehyung menaikkan selimutnya, malam tak pernah hangat bila sudah seperti ini. Dia memerlukan pelukan suaminya, maka Taehyung berbalik— berharap akan ada respon cepat dari sang tuan untuk segera menggapainya lalu memeluknya sepanjang malam. Namun sesaat tubuh itu berputar—
"Suamik— hmmp!"
•—•
"Jae apa kau akan kembali kesana?"
YOU ARE READING
J E O N ' S || KV 3
RomansKisah mereka belum sampai di penghujung cerita, ada sebuah janji yang telah terikrar untuk dipertanggung jawabkan di hadapan tuhan atas nyawa seseorang sebagai jaminan Pernikahan tulus menghadirkan beberapa nyawa sebagai pelengkap hubungan, bukan ha...
