Kisah mereka belum sampai di penghujung cerita, ada sebuah janji yang telah terikrar untuk dipertanggung jawabkan di hadapan tuhan atas nyawa seseorang sebagai jaminan
Pernikahan tulus menghadirkan beberapa nyawa sebagai pelengkap hubungan, bukan ha...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Seorang remaja laki laki tak berdaya tergeletak di hamparan matras pelatihan, tubuhnya dipenuhi luka, wajahnya lebam akibat pukulan benda tumpul yang tidak berhasil dia hindari. Aizen mencoba menggerakkan kedua kakinya- dengan hanya bermodal bantuan tangan, perlahan dia bangun meski langkahnya akan kembali jatuh.
Pria di depannya menelisik kondisi dirinya sebentar, tanpa mengotori tangan ataupun harus menggunakan seluruh tenaga hanya untuk melawannya- Jaehyun memalingkan wajah menerima laporan dari salah satu pekerja akan panggilan yang dia terima dari sang pemimpin rumah.
"Tangani dia." ucap Jaehyun lalu melenggang pergi memasuki rumah.
Meninggalkan kesadaran Aizen yang hanya tersisa sedikit lagi, dan pada saat pria itu pergi barulah dia terjatuh menghantam hamparan tanah di sana.
"Aizen!"
Pekerja pria yang sebelumnya menghadap Jaehyun segera berlari mendekat, merangkul tubuh lemas remaja tersebut yang mungkin akan segera tak sadarkan diri. Dia dengan cepat membawa tubuh Aizen untuk diobati - membawanya masuk ke dalam basement, dalam pelariannya itu dia sempat menarik simpati mereka yang masih terus berlatih.
Aizen disandarkan pada sofa, bergegas membawa segelas air dan kotak obat untuk mengobati lukanya. Situasi seperti sekarang bukan pertama lagi menjadi tontonan mereka, bahkan pada pelatihannya dengan Jaehyun saat ini sudah yang kesekian kali Aizen dibawa masuk untuk diobati oleh pekerja yang berbeda.
"Kaki mu sekarang baik baik saja, kau sudah mulai bisa membiasakannya benar?" ujar pekerja yang dibalas rintihan Aizen pada saat obat merah diteteskan pada luka sobeknya.
"Kau harus berhati hati menggunakan senjata, jika terus seperti ini kau tidak akan bisa mendampingi tuan kecil, Aizen."
Aizen tahu itu "Aku tahu, ketua Jung berulang kali mengatakan padaku, sebelum aku bisa mengalahkannya maka selama itupun aku akan terus berlatih. Sebelum pertarunganku dengan tuan Zack, setidaknya aku harus bisa melawan keduanya terlebih dulu."
Pekerja terdiam "Kau ingin mengalahkan ketua?" yang dibalas anggukan dari Aizen "Ya.. dengan itu aku bisa mendapat kepercayaan dari sir Jeon benar?"
Kemudian pekerja membuang muka, melilitkan perban di lutut Aizen sedikit kasar, mengundang rintihan lain keluar dari bibir Aizen. Pekerja tersebut menatapnya "Kau ingin mengalahkan ketua? itu adalah hal mustahil."
"Sekarang aku mungkin tidak bisa tapi nanti- "
"Bahkan pekerja seperti kami yang telah banyak menyelesaikan misi tidak sanggup melawan ketua Jaehyun, Aizen." tegas pekerja
Mulut Aizen berhenti berucap, rasa cemas tampak hadir di wajahnya yang penuh luka. Pekerja di depannya juga sangat bersungguh sungguh pada setiap kata yang diucapnya, membuat Aizen mematung- pekerja menghela napas panjang kemudian mengambil posisi duduk di dekatnya.