Kisah mereka belum sampai di penghujung cerita, ada sebuah janji yang telah terikrar untuk dipertanggung jawabkan di hadapan tuhan atas nyawa seseorang sebagai jaminan
Pernikahan tulus menghadirkan beberapa nyawa sebagai pelengkap hubungan, bukan ha...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Hari itu, hari dimana segalanya akan berubah.
Dimulai dari saat mereka dipertemukan di altar, pada pandangan pertama, dan perasaan yang berbeda.
Dia pikir, pelengkap sebuah janji suci harus berdasarkan oleh cinta yang besar. Namun berdirinya dia di sana, kenyataannya tidak memerlukan cinta dan sebuah perasaan yang lapang.
Dia berjalan dengan percaya diri, bukan karena tak sabar ingin mengikat janji, namun sebaliknya dia tak ingin membuang waktu lama lagi. Kakinya melangkah, jantungnya berdetak, matanya melihat dan telinganya mendengar.
Dia menyaksikan seseorang yang akan menjadi cintanya kala itu, dia tidak menaruh harapan yang besar - bahkan berharap pun tak pernah terbesit di pikirannya.
Mulutnya berbicara, namun hatinya tidak.
Tetapi Tuhan ternyata mendengarkan panggilan darinya, saat saat dimana janji itu diucapkan, seolah terdengar hingga Tuhan menyaksikan mereka yang saling bertukar janji.
Cincin terpasang di jari mereka, namun tetap.. perasaan tak kunjung juga datang.
Dia berpikir semua ini hanya permainan semata, namun dia lupabahwaTuhantakpernahtiduruntukmendengarsegalapanggilandarihambanya.
Waktudimanadia tak bisamerasakancintaituada, waktu dimana dia tak bisa melihat bahwa cinta itu nyata kini menjadi karma bahwa cinta miliknya justru tercipta sebegitu hebatnya. Berkembang lebih cepat hingga membuatnya lupa akan cara untuk berpikir dengan matang, Tuhan merencanakan segalanya, Tuhan mengadilinya.
Tuhan membuat cinta itu tumbuh pada hatinya, Tuhan membuat perasaan itu nyata pada dirinya, namun Tuhan lupa untuk memberikannya pengingat.. Tuhan lupa untuk menyertakan rasa cukup pada cinta yang diperolehnya..
Dia tak bisa berhenti.
Tak akan pernah bisa.
Sebab di telah mencintainya.
Lantas Tuhan.. ketika kekecewaan itu hadir akankah Tuhan menarik kembali cintanya?
Kenapa tidak kau ambil saja semuanya dariku..
Kenapa Tuhan harus menghukumku dengan semua ini.
Kenapa tidak Tuhan ambil saja perasaan ini dariku.
Cinta hanyalah ilusi.
Lantas Tuhan membuka hatinya, menunjukkan kepadanya, ilusi seperti apa yang kau sebut cinta? ilusi mana yang kau sebut cinta?