As Long As I Have You

1.1K 71 4
                                        

A/N: Hay! Aku bosan sama cerita yang berat-berat :' jadi aku mulai dengan yang sederhana aja, yang mudah dicerna banyak orang.

Anyway (chuckle in nervous) hope y'all like it!

~~~

Peter-Stark,  merupakan putra satu-satunya dari seorang Tony Stark. Anak yang ia adopsi dari salah satu misinya itu merupakan anak yang atraktif, baik hati, pintar, dan sangat suci. Sesuatu di dalam dirinya yang sangat tulus membuatnya menjadi anak yang luar biasa. Tidak ada karuniah paling luar biasa yang pernah Tony  dapatkan selain Peter. Tetapi sayangnya, anak satu-satunya ini, anak yang sama yang selalu berbicara tanpa henti, kini hanya bisa berbaring diatas tempat tidur di kamarnya. Kepalanya sakit, pandangannya buram, tubuhnya demam, serta sistem pencernaan nya yang bermasalah (muntah-muntah). Tentu saja hal itu disebabkan oleh Sensory Overload nya yang membuatnya tidak enak badan. Tidak seperti biasanya. Dia bahkan berpikir bahwa Spider-Man tidak bisa sakit. Tetapi begitulah keadaannya sekarang.

Tony datang dengan perlahan sambil membawakannya semangkuk bubur dan teh hangat. Tony berusaha membuat Peter berada dalam posisi duduk supaya Peter bisa memakan makanannya dengan baik. Sayangnya, kepalanya masih terasa sangat sakit. Dia meraung sedikit saat merasakan seakan-akan otaknya akan meledak sekarang.

"Makanlah Peter, lalu minum obat." Ucap Tony lembut sambil mengelus lembut rambut putranya.

"Aku tidak mau ayah. Itu tidak enak." Jawab Peter. Tidak salah sih. Tony hanya mendenguskan sedikit nafasnya lalu kembali memainkan rambut curly putranya itu.

"Aku tahu bud. Tetapi jika kau tidak makan, maka kau akan tambah sakit. Ayolah, sedikit saja bud. Ayah janji." Ucap Tony sambil menawarkan sesendok bubur pada Peter. Dengan berat hati, Peter memakannya dan mengeluarkan ekspresi bahwa makanan itu tidak enak. Apalagi dengan indra pengecap Peter yang membuat semua makanan atau minuman jadi terasa pahit. Tony kembali menawarkan sendok kedua pada Peter. Peter masih menerimanya. Peter memakannya dengan baik hingga akhirnya sendok ketiga, dia merasakan perasaan tidak enak pada perut dan tenggorokannya. Dengan cepat ia berlari ke arah kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya. Tony ikut berlari ke arah Peter dengan tatapan khawatir lalu menepuk punggung Peter perlahan.

"There you go bud." Ucap Tony perlahan sambil menenangkan anak itu yang sedikit gemetar lalu mengangkatnya kembali ke tempat tidur. Tony pun menawarkan segelas teh hangat pada Peter yang langsung diseruput olehnya. Jika teh, dia masih bisa menerimanya. Teh adalah minuman favoritnya yang selalu netral dalam keadaan atau makanan apapun.

"M' sorry dad." Ucap Peter dengan air mata yang tertumpuk dimatanya. Lihatlah anak ini. Tony merasa tidak tega lalu memeluk putranya erat-erat lalu mengelus lembut rambutnya.

"Hey, hey, it's okay. Jangan pernah minta maaf padaku. Apalagi untuk hal ini." Jawab Tony sebisa mungkin tidak membuat anak itu tidak khawatir. Tony memeluknya dan mengelus punggungnya, membuat bocah itu tertidur. Tony baru menyadarinya saat dia mendengat suara dengkuran pelan dari arah Peter. Tony langsung mengecupnya dan menidurkan dengan nyaman di atas tempat tidurnya.

"Tolong redupkan lampunya FRIDAY. Dan tolong pasangkan peredam suaranya." Pinta Tony kepada AI nya, FRIDAY.

"Baik boss..." FRIDAY langsung menjalankan perintah boss nya. Ia langsung meredupkan lampu kamar Peter yang setidaknya tidak akan mengganggu pengelihatannya. FRIDAY juga memasang peredam suara pada kamar Peter, sehingga Peter tidak akan terganggu dengan suara dari luar.

.
.
.

Keesokan hari pun datang. Peter merasa seperti ada seseorang yang duduk diatas kepalanya, dan bantalnya serasa seperti setumpuk batu bata. Rasanya sangat sakit. Peter berusaha memfokuskan pandangannya lalu berada di posisi duduk. Dia merasa bosan lalu berjalan ke arah ruang santai, dimana para Avengers harusnya berada. Saat dia mencoba untuk beranjak dari tempat tidurnya, tiba-tiba pandangannya gelap dan kepalanya terasa sangat berat. Sepertinya hari ini adalah hari yang cukup sial untuk Peter, karena dia masih sakit. Dengan sekuat tenaganya, ia terus berjalan untuk berharap menemukan para pahlawan itu di ruang santai. Tetapi anehnya, dia tidak menemukan siapa-siapa.

EccedentesiastTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang