Pills

125 19 0
                                        

Dazai Osamu membuka matanya. Hangat. Lelaki itu bangkit dan tersenyum tipis saat manik hazelnya bertemu tatap dengan milik wanita berambut hitam yang menyambut dengan senyum tipis. 

"Kamu sudah bangun? Tidurlah lagi, ini masih pagi." Izumi hampiri Osamu yang beranjak bangun dari ranjang.

Senyum milik si wanita pudar, tetapi Osamu tetap mengawetkan sunggingan manisnya. Izumi meraba wajah lelakinya, meletakkan tangan hangatnya di pipi Osamu yang terasa dingin. Hatinya sakit tiap melihat lelaki itu tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum, sambil menatap Izumi amat lekat.

Izumi tahu senyuman itu sama sekali tak mengandung kebahagiaan.

"Kamu baru tidur satu jam, Osamu."

Dan lelaki itu belum terlelap sebelumnya sejak dua hari lalu. Mungkin lebih. Izumi tak pernah benar-benar menghitung kapan suaminya terjaga sepanjang malam karena isi kepala yang terlalu berisik.

"Aku baik-baik saja." Osamu terkekeh, lalu mengacak helai rambut Izumi yang ikal panjang. "Izumi-chan tidak mengizinkanku minum obat tidur lagi."

Izumi tercenung. Sebenarnya dia tahu hal seperti ini yang akan terjadi. Namun dia tidak bisa membiarkan Osamu bergantung pada pil-pil itu hanya untuk menutup mata. Hatinya terasa sesak---jauh lebih sesak dibandingkan beberapa bulan lalu saat dia melihat Osamu menggoda wanita lain.

"Maaf." Wanita itu tertunduk. Sesal memenuhi seluruh hatinya.

Namun sekali lagi, Dazai Osamu hanya terkekeh merdu seolah itu bukanlah masalah besar. Kepalanya memang sakit dan dadanya kadang berdebar tidak karuan. Meski begitu ... meskipun dia tahu kondisinya akan makin buruk ... dia tidak bisa melawan. Separuh hatinya yang beberapa bulan lalu mati, sama sekali tak mengizinkan Osamu menyentuh hal apa pun yang Izumi larang.

Karena wanita itulah yang sudah 'menghidupkannya lagi'.

"Hei, aku baik-baik saja. Lihat? Sehat dan tidak mati!"

Sungguh Osamu hanya ingin melawak sekarang ini. Yang diinginkannya hanya membuat Izumi tertawa meskipun itu hanya sesaat. Akan tetapi, lelaki itu sudah kehabisan lelucon. Izumi tidak tertawa pada lawakan palsu yang dia rancang selama berjam-jam.

Osamu merasa sudah menjadi badut yang gagal. Sesuatu dalam dadanya menumpuk hingga membuatnya menghela napas demi menghilangkan sesak.

"Aku akan berangkat kerja kalau begitu. Sampai di kantor dan mendengar ceramah Kunikida-kun selama lima menit saja pasti akan membuatku tertidur pulas!"

Izumi mendongak. Dia tahu itu hanya omong kosong, tapi tetap memeluk lelakinya begitu erat. Wanita itu mencoba tertawa meski pelan, dia harus menghargai usaha mati-matian yang Osamu perjuangkan

Setidaknya, Izumi juga harus tertawa agar badut di depannya tidak merasa gagal lagi kali ini.

"Kamu sering memaksakan diri. Aku khawatir."

"Mana mungkin~ aku adalah pegawai paling santai di agensi~!" Osamu membusungkan dadanya bangga. Namun, Izumi tahu itu hanya omong kosong.

Paling santai? Justru lelaki ini yang sering babak belur setiap kali misi besar terlaksana.

Izumi memeluk lelakinya erat-erat. Seolah jika dia lepaskan, Osamu akan pergi dan tak lagi kembali.

"Lepaskan pelukanmu, Izumi-chan. Kalau tidak ...." Osamu tertunduk. Mulutnya terkatup.

Kalau tidak ... aku tak akan sanggup kehilanganmu lagi, lanjutnya dalam hati.

"Izumi?"

Lelaki itu tertegun. Kepalanya makin sakit saja. Namun, apa yang barusan ia lihat? Osamu mencari keberadaan wanita yang beberapa saat lalu memeluknya. Atau setidaknya, Osamu merasa dipeluk beberapa saat lalu.

Langkahnya terhenti di ruang tengah. Di depan sebuah altar kecil dengan dupa yang masih menyala. Sebuah foto dengan senyum indah seolah mengatakan 'selamat pagi' padanya.

Osamu berlutut, kehilangan segala tenaganya. Lelaki itu terkekeh-kekeh sampai air matanya ikut mengalir. Lengkung senyum di bibirnya terlihat amat menyakitkan.

Dan di detik selanjutnya, lelaki itu bahkan tak sanggup untuk tersenyum lagi.

 Benar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Benar ... benar juga. Bagaimana dia bisa lupa?

Bagaimana dia bisa lupa kalau seharusnya, tidak ada lagi yang akan melarangnya menenggak berbotol-botol obat tidur sekarang?

BSD (Bungou Sengklek Dogs)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang