"Yang Mulia Belial, putra dari Raja Satan."
Ucapan milik petugas koronasi yang sangat lantang itu terdengar hingga penjuru ruang istana dibarengi suara terbukanya pintu, kini semua mata menoleh pada sosok yang ada di depan sana. Segera setelah itu, choir di sana segera bernyanyi dengan merdu.
Ruangan takhta tersebut dipenuhi oleh bangsawan iblis dari wrath, duduk berjejer di kursi yang telah di sediakan. Belial menatap ke depannya, jalur dengan karpet berwarna merah telah disediakan sebagai jalan pribadi Sang Pangeran.
'Sebentar lagi selesai...' gumam Belial dalam hati, otaknya berusaha mengingat susunan apa saja yang harus ia katakan di depan publik setelah penobatannya.
Menurut yang diberitahu orangtuanya, koronasi di setiap kerajaan Jinnestan dilaksanakan dua kali bagi bangsawan kerajaan. Pertama saat pengakuan seorang keturunan menjadi pangeran atau putri, kedua adalah saat salah satu keturunan naik takhta menjadi raja atau ratu. Koronasi pangeran hanya akan mengundang bangsawan atau rakyat di daerah kekuasaan, sementara koronasi raja/ ratu akan dihadiri oleh seluruh Jinnestan.
Seharusnya koronasi pangeran untuk Belial diselenggarakan ketika ia berusia 17 tahun, makanya Satan langsung terburu-buru melaksanakan acara ini.
Selama latihan kemarin, Satan terus menekankan bahwa ia harus tampil sempurna, mengingat seorang pangeran yang hilang tentu saja akan menarik perhatian banyak orang. Alhasil, bocah itu kurang tidur semalam hanya untuk menghafalkan script pidato dan... wajah-wajah keluarga besarnya.
Sampai titik poin Belial pasrah, ia berusaha mengingat wajah bangsawan dengan "ah paman duke-ku yang ini mukanya mirip bebek. Duke Bebek."
Sialan, Belial menggigit bibirnya untuk tidak tersenyum.
"Yang Mulia dipersilahkan untuk naik ke atas takhta."
Belial, rambut merah panjang digerai, menampakkan telinganya (para pelayan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menata rambutnya, worth it). Jika biasanya ia mengenakan pakaian nuansa gelap, tidak dengan hari ini.
Ia tampak sangat... fresh.
Postur tubuhnya dibalut kemeja putih dengan vest merah, motif dengan manik emas dapat terlihat di sana. Luarannya berwarna putih dengan selempang berwarna merah menjuntai. Di bahunya juga terpasang jubah merah yang sangat panjang, menyapu lantai di sana. Ujung atas dan bawah jubainya dihias oleh wol putih.
Belial menapakkan kakinya begitu mendengar ucapan dari petugas di sana, tidak terdengar apa-apa selain langkah kaki dan bunyi kamera di sana.
Ujung mata Belial menangkap satu, dua, tiga... mungkin lima? kamera dan wartawan yang bersiap di sana. Karena koronasi ini diadakan sangat mendadak, tidak memungkinkan bagi rakyat di bagian lain untuk berpartisipasi. Setidaknya, mereka bisa melihat dokumentasi secara live.
Ah, sedikit lagi. Ruangan itu sebenarnya tidak terlalu luas, tapi karena Belial grogi, rasanya ia seperti berjalan di eskalator yang terbalik.
"Yang Mulia," panggil seorang tetua di sana. Entah berapa usianya—penampilan iblis selalu menipu. Namun dari cara bicaranya, Belial tahu, iblis yang berjalan di depannya ini sudah lebih tua dari Satan.
Belial kini tiba di hadapan kursi tahta, dengan ayah dan ibunya duduk di sana, menyisakan 1 kursi untuk buah hati mereka.
Ah, Belial yakin rakyat yang menyaksikan dari tayangan layar tancap di luar istana sedang membicarakan penampilannya yang sekarang MIRIP BANGET sama Satan.
Soalnya Satan juga menggunakan pakaian bermodel sama, rambutnya juga... aduh.
Lamunan Belial terhenti ketika sudut matanya menangkap tiga iblis lainnya membawakan beberapa benda di atas bantalan beralas kain velvet merah.

KAMU SEDANG MEMBACA
INFERNO: The Lost Prince
Fantasía[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER] "...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!" Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka. Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...