Arc 5: Glimpse of Oasis amidst the Blinding Mirage
(Arc 5: Kilas Oasis di tengah Tipu Daya Fatamorgana)
"Hmm." Gumaman itu terdengar menggema di ruangan yang luas. Rambut laki-laki yang tergerai di bawah bahu itu tampak bersinar emas di bawah lampu megah ruang dansa. Gusion dengan satu tangan memegang dagu sendiri, dan tangan lainnya memegang selembar kertas perkamen menaikkan satu alisnya terheran-heran.
Siapa yang mengirimkan surat tidak jelas malam-malam begini? Ke kerajaan, pula!
"Ose," panggil Gusion, menoleh pada pelayannya yang sedang menutup pintu ruangan. Tempat itu begitu luas dan mewah, penuh ornamen dari berlian, emas berharga, dan logam mulia lainnya. Acara baru saja selesai dilaksanakan, mengundang bangsawan-bangsawan greed, dari duke, marquis, count, earl, viscount, hingga baron.
Sebenarnya acara itu diperuntukkan sebagi tanda sah pertunangan Gusion dengan calonnya. Namun, berkat kelihaian bicara anak itu (dan keogahannya untuk menikah), Gusion berhasil menghindar. Ia berhasil mengalihkan pesta menjadi 'family gathering klasik' dan menghindari pertunangan.
"Ya, Tuan Muda?" balas Ose, menghampiri pangeran yang sekarang tampak jengkel itu. Keduanya sama-sama kelelahan setelah dibantai jadwal yang padat, tapi dari ekspresi Gusion tampaknya masih ada yang harus mereka kerjakan semalaman. Gusion menghela napasnya.
"Sudah kubilang jangan panggil aku itu kalau cuma ada kita berdua... Rasanya aneh. Kita tumbuh besar bersama," tegur Gusion, ingin melakukan head-flick pada temannya yang lebih pendek itu. Ose hanya tertawa.
"Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan. Apa yang ingin kau sampaikan, Gusion?" tanya Ose kasual. Dibanding pangeran dan pelayan pribadi, hubungan mereka justru seperti teman karib atau bahkan saudara.
"Surat ini, baca sendiri," jawab Gusion, memberikan gulungan kertas yang telah ia baca pada Ose. Sang Hellbeast memiringkan kepala, membaca. Telinga dan ekor Ose tampak tegang.
"Apa maksudnya...? Kasus pembunuhan di kota? Hah, kenapa diserahkan ke kerajaan, bukannya polisi? Peduli apa memang kita?" tanya Ose bingung, nadanya terdengar kesal sekaligus heran. Gusion terkekeh. Ose yang tumbuh besar dengan para bangsawan memiliki sifat-sifat yang serupa dengan mereka, meski pun ia hanya seekor hellbeast. Menurut Gusion pun, dari Ose kecil, sifatnya selalu seperti ini. Cukup angkuh, egois, namun setia. Rada manis juga, tapi nyebelin.
"Aku benar-benar tidak punya waktu untuk pergi ke kota belakangan ini... Jadi aku sepertinya kelewatan berita begini. Tapi iya, kenapa mereka kasih ke kita?" ujar Gusion, bertanya-tanya. Agate berwarna emas menggantung bebas sebagai aksesoris pada seragam kerajaannya. Motif pakaian yang dikenakan cukup detail dan dilengkapi berlian-berlian kecil, entah berapa harganya jika diuangkan.
"Hanya berarti satu hal. Seseorang sengaja meminta, atau memancing anda lebih tepatnya, ke dalam jebakan. Itu tebakan jelek, sih. Tebakan bagusnya bisa saja anda terlibat dalam kerja sama untuk meraih sesuatu," jawab Ose, pupil vertikalnya tampak sangat memikat ditemani iris kuning keemasannya. Kulit dan rambutnya yang berwarna gelap juga tampak sangat matching dengan matanya itu.
Gusion mengangguk, "benar, tepat sekali. Maaf mengganggu malammu, Ose. Tampaknya kita ada tambahan agenda lagi untuk hari ini." Gusion menegakkan tubuhnya, berjalan.
"Pertama, kita membutuhkan informasi tambahan mengenai kasus ini. Yuk~," ajak Gusion, memberi Ose kode untuk mengambil jubah mereka untuk menyamar keluar dari istana. Sebenarnya, kegiatan ini cukup sering mereka lakukan. Menyelinap keluar di malam hari menuju perkotaan untuk menemui seseorang yang spesifik: informan mereka.
Sebagai salah satu iblis terkaya di Jinnestan, Gusion selalu bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan—termasuk informasi. Pangeran itu berbeda dengan kedua adiknya yang sering keluyuran bebas di Jinnestan maupun Terrestrial tanpa rasa dosa. Malah, kedua adik kembarnya itu dikenal sangat supel dan cerewet (meski yang satunya lebih pendiam, kakak kembar berisiknya minta ampun). Namun, untuk Gusion sendiri, ia lebih suka bekerja di balik bayangan.

KAMU SEDANG MEMBACA
INFERNO: The Lost Prince
Fantasy[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER] "...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!" Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka. Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...