BLAR!!!
Raut wajah Zadkiel tampak sangat serius, matanya menatap kejadian di luar jendela rumah dengan waspada.
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan Ziel?" tanya Andreas bingung. Memang, cuaca dari pagi sudah mendung, namun ia tidak menyangka akan seburuk ini.
Angin kencang membuat pohon-pohon di luar berterbangan. Terkadang jendela terbuka karena kencangnya angin, petir menyambar dimana-mana. Langit sangat gelap.
"Kau bisa kembali ke kamarmu sampai badai berhenti," jawab Zadkiel, ia berusaha untuk tampak tenang di depan anak kecil itu.
"Sepertinya aku merasa lebih aman bersamamu dibanding sendirian di kamar," balas Andreas ketus (dia takut sama petir). Zadkiel hanya melirik sedikit padanya.
"...Untuk apa bertanya jika jawabannya sama saja. Lakukan sesuka hatimu. Aku akan memantau cuaca di sini. Jika matahari sudah muncul kembali, aku akan kembali menjemur pakaian."
"Huh, ya sudah."
Suara kaki yang disandarkan di atas meja terdengar, menunjukkan kekesalan dari anak yang ada di sana.
KLANG!!!
Zadkiel kembali memandang cuaca di depannya begitu ia mendengar suara ember besi di luar yang biasa ia gunakan untuk menyiram tanaman terbanting mengikuti arah angin.
Aneh. Apa akan ada badai sepekat ini di Terrestrial? Bertepatan ketika aku dan Andreas memiliki rencana untuk kabur pula. Belum hujan, sih. Masih angin yang sangat kencang dan petir.
Zadkiel hanyut dalam pikirannya, sampai matanya menangkap sesuatu yang berkilau di luar.
Bola... cahaya? Berwarna biru.
Rumah ini terletak terpencil dikelilingi hutan-hutan. Jarak dari halaman ke pohon-pohon tempat cahaya tersebut berada tidak lah jauh, rasanya aman saja bagi Zadkiel untuk kesana sekarang?
"Andreas. Kau tunggu sini," perintah Zadkiel, ia berjalan dengan tegap ke arah pintu.
"Tuan Ziel? Hendak kemana?" tanya Andreas bingung, ia ikut berdiri. Ziel memberikan sebuah tatapan, berpikir.
...Tidak. Aku harus bawa anak itu.
"Ada sesuatu yang menarik di luar. Aku akan memeriksanya, ikut aku."
Andreas menatapnya tidak percaya, tadi disuruh tetap diam, sekarang disuruh ikut?!
Zadkiel membuka pintu, mengakibatkan angin yang sangat kencang menembus masuk ke dalam rumah. Rambut mereka tertiup, tidak menyangka angin akan berputar sekencang ini.
Andreas ikut berjalan ke depan tepat setelah Zadkiel, sebenarnya bingung dengan apa yang dimaksud 'menarik' oleh malaikat itu.
"Hey, Tuan Ziel. Apa maksud anda—,"
Kemudian Andreas melihatnya. Sebuah cahaya yang familiar.
Deg
"Ugh!" erang Andreas mendadak, menarik perhatian Ziel. Malaikat tersebut terkejut begitu melihat si anak sedang membungkuk, tangannya seperti memegang dadanya di bagian jantung.
"Andreas. Ada apa?" panggil Zadkiel sedikit cemas, ia menghampiri anak itu. Jelas sekali dari wajahnya, Andreas sedang kesakitan.
Malaikat agung tersebut menganalisanya dengan baik. Tanpa aba-aba, Zadkiel bergerak sangat cepat untuk mengambil bola cahaya dan menunjukkannya tepat di depan wajah Andreas.
Deg deg
"Agh!"
Benar dugaan Zadkiel. Keringat dingin kini bercucuran dari wajah anak berambut hitam itu, tampak sangat tersiksa dengan kehadiran bola cahaya berwarna biru,

KAMU SEDANG MEMBACA
INFERNO: The Lost Prince
Fantasi[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER] "...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!" Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka. Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...