[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER]
"...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!"
Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka.
Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...
Seorang pria muda tampak serius membaca bukunya, rambutnya yang berwarna biru tua dan kuning keemasan selalu mengayun mengikuti kemana kepalanya bergerak. Fokus pria itu terpecah begitu sebuah suara memanggilnya.
"Tuan Ziel?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Zadkiel menoleh ke anak laki-laki yang memanggilnya. Rambut hitam dan mata biru, wajahnya (menurut Ziel) seperti orang lugu. Zadkiel hanya menatap mata anak itu.
"Uh..." keluh anak itu bingung, ia menggaruk tengkuk. Om-om ini wajahnya datar banget! Selalu datar dan tidak ada ekspresi!
"Aku menunggu kau berbicara, Andreas," balas Zadkiel, akhirnya membuka mulutnya. Andreas tampak kaget—ini pertama kalinya ia mendengar suara pria tersebut. Dalam, namun halus. Zadkiel kerjaannya hanya mengangguk sejak mereka bertemu untuk pertama kali.
"...Sampai kapan aku harus berada di sini?" tanya Andreas, berusaha menghitung berapa lama waktu yang ia lewati di rumah (klinik) milik Barbatos. Zadkiel menurunkan bukunya, ia berdiri.
"Sampai waktunya tiba bagiku untuk melepasmu," jadwal Ziel singkat, ia berjalan ke arah rak lain di perpustakaan. Andreas mendecak, omongan malaikat itu selalu memiliki kiasan yang tidak dapat dimengerti.
"Kau tahu, Tuan Ziel. Setidaknya berikan penjelasan pada saya. Saya awalnya hanya seorang anak SMA yang pergi ke karya wisata bersama dua sahabat saya, yang ternyata keduanya adalah pangeran iblis? Saya tidak salah apa-apa, tapi mengapa saya ikut diserang? Lalu saya dibawa kesini oleh dr. Barbatos dan tidak diizinkan untuk kembali ke rumah saya. Kemudian dokter itu membawa anda ke sini dan sekarang hilang tidak ada kabar!"
Ocehan Andreas saat itu terdengar jengkel, namun Zadkiel tidak begitu peduli. Ia justru sibuk menata buku di sana.
"Tuan Barbatos hanya pergi untuk sementara. Itu saja," balas Zadkiel datar, jemarinya meraba debu yang tersisa di rak.
Andreas selalu kebingungan, mengapa ia 'dipenjara' di tempat ini? Rumah ini selalu sepi. Hanya ada 1 tukang kebun, 1 pelayan wanita tua, Barbatos, dan Andreas. Begitu Barbatos membawa Zadkiel ke sini sebagai 'pengasuh' Andreas, ia pergi begitu saja. Absennya pemilik rumah membuat pasien berhenti datang ke klinik ini, hingga sekarang klinik tampak sangat sepi.
Andreas pun sudah mencoba. Beberapa bulan terakhir ia ingin pergi kembali ke rumahnya, namun Barbatos selalu beralasan "Kamu terkena sihir hitam yang berpotensi untuk reaktivasi. Kau harus tinggal di sini untuk mencegah hal tersebut terjadi."
Andreas bukan tipe yang suka marah atau mudah kesal, namun ia membutuhkan penjelasan. Bagaimana kabar keluarganya di luar sana? Teman-temannya? Apa mereka tidak mengkhawatirkannya?
"Jika kamu bertanya soal keluarga dan teman-teman, tenang saja. Sudah diurus semuanya," jawab Zadkiel, menebak isi pikiran Andreas.
"Diurus? Oleh siapa? Memangnya kamu mengerti semua ini, Tuan Ziel? Apa urusanmu?"