Jam-jam berlalu, kini mereka telah tiba di destinasi kedua. Kali ini, mereka mendatangi kuil. Jalan yang mereka tempuh ke kuil cukup menanjak dan banyak lika-liku tangga.
"Belvie, kamu gak capek? Biasanya kan kamu kaya kakek-kakek," tanya Andreas, membuat Asta tertawa. Belle melirik temannya dengan tatapan mematikan.
"Nggak dong, ga capek. Masa begini doang, capek?" balas Belle tidak mau kalah. "Huuu," sorak Andreas, sambil menepuk tangannya.
"Hey, lihat," ucap Asta, ketika mereka akhirnya memijakkan kaki di tangga terakhir, menunjuk ke depan. Di sana ada kuil besar dan kecil, dikelilingi anak-anak lainnya yang sedang foto-foto atau pun mendengarkan penjelasan. Andreas menarik tangan Asta dan Belle untuk berlari masuk bersama.
"Jadi, yang kalian lihat di sebelah sini adalah tempat yang biasa didatangi oleh tetua..." Belle mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh guide di seberang, melihat-lihat sekeliling.
"Ini kuil, apa museum, sih?" gerutu Asta tidak sabar ingin bergerak.
"Asta, jangan bicara gitu, dong," sikut Andreas. Mereka bertiga lantas berkeliling, melihat-lihat dan mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi tugas karya wisata mereka nantinya.
"Belvie, Asta, kemari! Lihat lukisan ini," tunjuk Andreas pada sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding.
"Woahahaha, itu apa? Naga? Keren! Aku baru tau di kuil ada lukisan macam begini," balas Belle, memperhatikan lukisan itu dengan saksama. Hewan, atau monster? Berbentuk seperti naga, dengan latar lautan samudra yang luas. Di sekeliling monster tersebut, ada beberapa kapal yang mungkin berusaha menyerangnya.
"Hmm, aku tau ini. Banyak di game-game yang aku mainin. Ini sih, Leviathan, monster atau ular laut!" seru Asta.
"Begitu?? Akhirnya, jam-jam yang kamu habiskan untuk bermain game, berbuah hasil, Asta!" tawa Andreas, merasa bangga dengan 'pengetahuan' temannya.
"Yeh, mending aku main game, daripada baca mulu sampe stres," balas Asta merengut tidak mau kalah.
"Aku baca buku justru hindarin stres, kok?Kamu harus coba," seru Andreas, mengelak apa yang dikatakan Asta tadi.
"Diam, kalian berdua. Sudah di kuil orang, berisik, pula," tegur Belle risih.
"Ya, dia duluan yang mulai, sih!"
"Enak aja, mau kutonjok?!"
Belle hanya tertawa kecil melihat kedua sahabatnya berkelahi, hingga ada yang mencuri perhatiannya. "Eh?" Sebuah cahaya merah berkilau di ujung ekor matanya. Penasaran, Belle berjalan menghampiri sumber cahaya itu. Sebuah batu atau kristal? Kilau cahayanya terlalu terang bagi Belle untuk memastikannya. Warnanya mirip dengan cincin yang diberikan oleh orangtuanya. Berbeda dengan simpanan yang lain di kuil, hanya benda ini yang tidak memiliki print penjelasan di bawahnya.
"Halo, pak?" sapa Belle ramah pada guide yang tampak nganggur di dekatnya.
"Ah, ya, ada yang bisa saya bantu?" balasnya. Belle tersenyum. "Saya mau tanya pak, ini apa, ya? Keliatan bagus, tapi kenapa gak ada deskripsinya? Dan sepertinya ini barang berharga, apa tidak takut diambil oleh orang lain jika tidak diberi pelindung?" tanya Belle. Guide itu melihatnya dengan tatapan penuh rasa bingung.
"Eh, kalau bapak tidak tahu, tidak masalah, kok pak, terimakasih pak," ucap Belle, berjalan mundur sedikit.
BUG!
"Maaf ya pak, temanku memang suka jahil, biarkan saja dia!" Punggung Belle bertabrakan dengan Asta, yang berkata seperti itu pada guide dan tersenyum, membiarkan guide itu pergi. "Asta, apaan, sih?" tanya Belle agak ketus.

KAMU SEDANG MEMBACA
INFERNO: The Lost Prince
Fantasía[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER] "...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!" Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka. Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...