Belial berjalan secara perlahan, matanya mengekor musuhnya yang berada di seberangnya. Mereka berjalan melingkar, memegang pedang masing-masing.
Fokus, Belial. Ledakan besar tadi nampaknya berasal dari lokasi Gusion, Halphas, dan Malphas. Dari ledakan itu juga Belial tahu bahwa mereka tidak berhadapan dengan Michael, melainkan Camael.
Belial menunjukkan wajah yang penuh kekesalan, sebuah "ck!" keluar dari mulutnya. Reaksi itu mengundang rasa puas dan tawa dari lawannya.
"Ah, hahaha!" tawa Jophiel manis, namun terdengar sangat menyebalkan jika dilihat dari sisi 'musuh'. Mirip sekali dengan tawa Lucifer.
Wanita di depannya—kekasihnya sendiri. Sejauh mana ia telah menerka taktik yang digunakan para pangeran?
Belial mengangkat pedangnya kembali, menumpukan berat tubuhnya pada kaki kanan dan bersiap untuk melayangkan serangan lainnya. Mata merahnya menatap mata biru-merah muda itu dengan bengis.
SET!
KLANG!!!
Jophiel menghindar serangan itu, berputar untuk menangkis serangan lainnya dengan pedangnya sendiri. Suara dua logam yang beradu itu terdengar nyaring, getaran dan tensi di sana menunjukkan tekanan yang cukup berat.
"Mana tenagamu?" tanya Jophiel dengan nada provokatif, berusaha membuat musuhnya marah.
Belial tidak mengatakan apa-apa, perasaan dalam dirinya berkecamuk. Ia sudah berjanji untuk mengikuti ujian, tapi Jophiel tetap merasa bahwa pacarnya tidak menggunakan seluruh kekuatannya.
Padahal, kenyataannya bukan seperti itu. Dari awal, Belial selalu berusaha untuk menyerang Jophiel. Masalahnya adalah, pertahanan pertama perempuan itu tidak bisa ditembus! Padahal selama ini, malaikat yang satu itu tidak pernah peduli dengan pertahanan. Laki-laki itu sengaja menyimpan tenaganya karena mengetahui begitu pertahanan Jophiel berhasil ditembus, perkelahian akan membutuhkan tenaga yang jauh lebih besar.
Sudah beberapa kali ia mencoba pola ini, menyebabkan kerjaan mereka sedari tadi hanya bersiaga dan sesekali menyerang seperti ini. Justru pedang milik Jophiel sudah dinodai darah Belial dari awal.
Belial mengambil napas dalam. Tunggu. Pola pikir yang seperti ini... justru diketahui oleh Jophiel. Benar, Jophiel biasanya justru mengabaikan pertahanan. Kali ini dia menggunakannya karena tahu Belial akan berpikir kalau pertahanannya mudah ditembus.
Kalau begitu, aku tinggal menyerangnya dengan tenaga yang kupunya. Begitu pedangku berhasil masuk ke dalam arena sasaran, aku bisa mengambil alih lapangan ini dengan melukainya.
Bukan. Itu pasti sudah ditebak juga olehnya.
Belial memundurkan dirinya beberapa langkah, kakinya memasang posisi yang kuat. Ia mengatur napasnya, membuat Jophiel menaikkan dua alis.
"Um? Mas capek?" tanya perempuan itu tiba-tiba, kembali ke sosok 'Yofi' yang Belial kenal.
"Tidak sama sekali, sayang," jawab Belial sambil tersenyum, pedangnya terangkat.
Ayunannya menimbulkan suara yang keras, cukup membuat Jophiel sadar bahwa intensitas kekuatan yang digunakan Belial kali ini jauh lebih besar. Dengan cepat, ia berusaha untuk menangkis.
KLANG!!!
Mata mereka saling menatap dengan tajam, hanya terpisah beberapa cm dari satu sama lain. Satu pasang merasakan hasrat besar untuk berjuang, sementara satu pasangnya lagi terlihat menantang.
Belial merasakan tangannya nyeri akibat menahan beban yang diberikan Jophiel. Ia membatin dalam hati, 'tebakanku tepat, dia tahu persis pada giliran ke berapa aku tersadar dan akan gunakan tenaga penuh. Sial... tanganku sakit.'

KAMU SEDANG MEMBACA
INFERNO: The Lost Prince
Fantasía[END; DILENGKAPI DENGAN ILUSTRASI DI BEBERAPA CHAPTER] "...Mustahil. Pangeran itu, sudah tewas ratusan tahun yang lalu!" Tidak ada yang menyangka bahwa karya wisata itu akan membawa malapetaka. Belle Vierheller, seorang murid SMA yang bisa dikataka...