Chapter 125: Duel dan Keputusasaan

63 9 0
                                    

"...Injury time." Gumaman itu lepas dari Belial yang sedang menjaga kekasihnya, matanya terbuka lebar begitu melihat Luciel dan Michael mematahkan sayap terakhir Seraphim bersamaan.

"INJURY TIME!" seru Camael lantang, membuat Ramiel yang berada di sisinya menjadi siaga. Ini dia, hidup atau mati.

Seraphim tampak berpikir, tatapannya terlihat sangat datar terlepas ia yang baru saja terkejut beberapa detik lalu. Luciel menangkap omongan kecil Seraphim yang bicara sendiri, tidak terlalu jelas seperti sedang berkumur-kumur.

"Krisis... Mereka berdua akan merepotkan," ujar Seraphim pelan, Michael menyadari sesuatu.

"LUCI, MINGGIR!" teriak Michael keras, ia menarik lengan Luciel untuk menjauh selagi Seraphim menanamkan tongkatnya ke dalam tanah dengan cepat.

BOOM!

Ledakan keras itu terdengar, Belial mendapati sebuah segel yang mengunci Michael dan Luciel di tengah arena. Segel seperti dinding transparan dengan simbol archangel of love di sana berdiri dengan kokoh.

"Tch," decak Luciel geram, memastikan segel tersebut memerangkap mereka dengan sangat baik.

"Mas," panggil Jophiel pelan, mendapatkan tatapan dari Belial. Pangeran itu mengangguk.

"Kamu tunggu di sini, jaga dirimu baik-baik," balas Belial, ia mengacak-acak rambut pacarnya sebelum tersenyum dan berlari ke arena.

"SERAPHIM!"

Malaikat yang dipanggil menoleh begitu mendengar seruan itu, ia terkekeh dan berbalik.

"WRATH! Selamat datang kembali," sapa Seraphim, menarik sebuah pedang dari langit kosong sambil memfisaksi matanya pada Sang Pangeran.

Belial mempercepat lajunya. Jika sesuai dengan strategi mereka di awal, maka fase ini akan menjadi titik di mana ia harus menebas kepala Seraphim dengan cepat dan mengakhiri semuanya. Akan tetapi, apa akan semudah itu?

Belial memosisikan pedangnya begitu mereka hanya terpisah beberapa meter, mengayunkan senjata tersebut ke arah leher lawannya.

"CRUCIFI—!"

Ucapan Belial berhenti di tengah saat musuhnya menghilang secara mendadak dari lapang pandangnya.

"HAHAHAH! BODOH!"

Seraphim berada di belakangnya. Cepat sekali? Aku memang bertarung melawannya di fase kedua saat dia masih 'bermain-main', tapi aku tidak menyangka aslinya secepat ini? Oh astaga, aku harus mempersiapkan diriku untuk kena tikaman.

Belial menunggu sebuah bilah menembus punggungnya, namun ia justru mendengar suara lain.

KLANG!!!

"Urgh..."

"Yofi?" panggil Belial kaget, sedikit kesal karena ia meminta Jophiel untuk beristirahat saja di balik perisai aegis. Kini wanita itu sedang menahan beban Seraphim, pedang mereka berdua beradu dan bergetar.

"Idiot," caci Seraphim heran, ia menghempaskan Jophiel bersama Belial ke atas tanah.

BRUK!

"Ouch," rintih perempuan itu pelan, rasa sakitnya berhasil diminimalisir karena ia jatuh ke atas Belial.

"Kamu gak apa-apa? Kubilang tetap di sana!" tanya Belial panik, memeriksa tubuh pasangannya untuk melihat apakah ada luka baru atau tidak.

"Dengan kamu yang nyaris ditikam? Aku lebih kuat dari mas, jangan gegabah," gerutu Yofiel, ia mengetuk pelan dahi Belial seolah-olah menyindirnya untuk berpikir.

INFERNO: The Lost PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang