Chapter 127: Love and Hope

66 7 6
                                    

Di sisi Celestial yang lain tidak jauh berbeda. Seluruh kebajikan agung dan para pangeran masih membeku setelah mereka membantu ketiga rekan mereka untuk melawan Seraphim melalui sebuah kebocoran dalam dimensi ruang dan waktu.

"...Apa kita berhasil? Apa mereka sudah membunuhnya? Hubungan kita ke mereka terputus begitu pedang Seraphim pecah," tanya Camael bertubi-tubi.

"Jika Seraphim sudah mati, maka sebentar lagi seharusnya sebuah deklarasi terdengar untuk menurunkan gelarnya ke salah satu dari malaikat di Celestial," jawab Luciel, meyakinkan adiknya.

Lalu sebuah suara misterius kembali terdengar, membuat mereka semua kembali dipenuhi dengan kelegaan. Semua makhluk yang berada di Celestial dapat mendengarnya secara langsung.

"Michael. Archangel of Love."

"Aku??" tanya Michael heran, menunjuk ke dirinya sendiri. Luciel menatapnya tidak percaya.

"Michi! Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya? Kau adalah malaikat lain yang bisa mencintai selain Seraphim... Oh tentu saja, kau yang akan mendapatkan gelar itu, Love," gerutu Luciel setengah bercanda, sedikit mendorong Michael.

"Pft. Makasih, loh, Emotion," ejek Michael sambil menjulurkan lidahnya, mendapatkan cemoohan dari kekasihnya. Luciel menarik napas.

"Kita... menang? Kita benar-benar menang?" tanya para pangeran, setengah tidak percaya. Uriel mengangguk.

"Kita benar-benar menang."

"KITA MENANG!!!"

Dua malaikat tertua di sana hanya tersenyum menyaksikan adik mereka dan pangeran-pangeran yang sedang selebrasi atas kemenangan mereka.

"Kita tidak boleh lengah dulu. Mereka bertiga belum kembali, cari celah untuk menghubungi mereka dan bawa mereka pulang. Panggil semua raja, ratu, dan penyihir ke sini untuk berkumpul."

BUK!

Suara jatuhnya Belial menangkap perhatian Jophiel dan Ramiel, teringat dengan racun yang masih bergerak dengan progresif.

"Belle!" panggil Jophiel panik, ia meminta Ramiel untuk membantunya mengangkat Belial agar bisa berdiri.

"Belial, bisa berdiri?" tanya Ramiel, memeriksa apakah kaki temannya masih kuat. Begitu Ramiel mengangkat ujung celana Belial, kulit kaki pangeran itu sudah berwarna biru tua.

"Menurutmu?" tanya Belial balik dengan sarkasme, Ramiel kembali merangkulnya bersama dengan Jophiel.

"Seraphim benar-benar kuat... meski sudah tiada, racunnya tetap aktif. Satu-satunya cara untuk menyembuhkan Belle hanya dengan bertemu Kak Raphael atau Kak Michael karena kekuatan ini milik archangel of love. Yang manapun jawabannya, kita harus tetap keluar dari sini. Kita harus cari jalan keluar." Kalimat Yofiel terdengar tergesa-gesa, ia berjalan sambil membopong kekasihnya yang melemah setiap detik.

Mereka berjalan dan berjalan, tidak menemukan adanya celah untuk keluar. Dimensi buatan Seraphim ini terus berlanjut tanpa ujung—mereka terperangkap di dalam sana. Rasa lega mereka hancur berkeping-keping begitu Jophiel merasakan beban berat yang mendadak tertumpu pada bahunya.

"Yofi, Ramiel..." panggil Belial sambil terengah, berkonsentrasi untuk memusatkan kesadarannya.

"Aku mau istirahat," lanjut Belial, mendapatkan gelengan kepala Yofiel.

"Tidak. Kita akan terus cari. Kalau istirahat sekarang, mas nanti kenapa-kenapa," tolak Jophiel keras, melanjutkan jalannya dengan paksa.

"..." Belial hanya bisa menatap tanah dengan lesu selagi dua malaikat membantunya bergerak, tidak tahu harus bicara apa. Jujur saja, ia merasa harapan hidupnya kali ini sangat kecil. Demi tidak menghancurkan hati pasangannya lagi, Belial memutuskan untuk diam dan menurut.

INFERNO: The Lost PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang