Chapter 102: Lima Ksatria

77 9 0
                                    

"..."

Belial membuka matanya, rasanya seperti terbangun dari mimpi yang sangat panjang. Semuanya masih dalam posisi semula mereka sebelum 'tertidur', ruangan itu benar-benar hening.

Seolah-olah semuanya mengatakan dalam hati: Ah... Jadi begitu.

"Kak Sera, gak mungkin..." gumam Jophiel pelan, matanya penuh rasa terkejut. Seseorang yang selama ini selalu bermain dan menemaninya ternyata adalah dalang di balik semuanya?

Wajah Lucifer dipenuhi rasa bersalah, nampaknya melihat memorinya kembali cukup menjadi trigger yang buruk bagi dirinya.

"Kakak." Suara Camael yang terdengar shock itu memecah keheningan ruangan, Luciel mengangkat kepalanya untuk melihat Camael berjalan mendekat.

"Iya," balas Lucifer pelan, melepaskan dirinya dari Michael untuk berhadapan dengan adiknya.

Pria berbadan tegap dan berotot itu tiba-tiba memanyunkan bibirnya, mendadak cengeng. Lucifer tersenyum pahit, ini bayi kenapa lagi?!

Belial bisa merasakan Jophiel melepas genggamannya dan berjalan ke arah Lucifer dengan cepat, disusul oleh saudaranya yang lain.

"Kakak!" "Kakak." "Kakak." "...Kakak."

Lucifer terkejut begitu enam adik kecilnya mendatangi ia semua, memeluknya secara bersamaan.

"Hwaaaaaa!"

"Siapa yang nangis, Gabe?!"

"Sepertinya Cammy."

"Uriel nangis, sih."

"Semuanya sepertinya merengek."

"A-aduh..." keluh Lucifer pelan, merasakan beban enam tubuh malaikat dewasa bertumpu semua pada dirinya. Lucifer menolehkan kepala ke Michael yang tersenyum dan tertawa kecil.

Michael melambaikan tangan pada Ramiel, memintanya untuk datang kemari. Anak yang dipanggil menurut dan tiba di perkumpulan malaikat itu.

Secara tiba-tiba Michael memeluk anaknya dengan sangat erat, membuat Ramiel terkejut.

"Ayah sedang tidak bisa dipeluk, jadi papa peluk Ami," canda Michael, ia merapihkan poni Ramiel yang berantakan. Anaknya sebenarnya masih sama dengan pangeran maupun raja yang lain, tidak berkutik apa-apa setelah melihat kebenaran yang terjadi.

"Ami kecil, masih sangat kecil. Akhirnya papa bisa ketemu Ami. Malam ini kita family time, ya? Anak kecil suka kartun, kan?"

Sebenarnya Ramiel gak menganggap dirinya anak kecil... Tapi matanya menyala antusias dan mengangguk semangat. Lucifer yang melihat hanya terkekeh dan mengangguk, tangannya sibuk mengelus punggung anak-anak ayam di sana.

Semuanya dapat dimengerti sekarang. Pengorbanan Luciel untuk menyelamatkan nyawa adik-adiknya dan mempertahankan anaknya. Luciel memiliki banyak sekali tanggungjawab untuk ia pikul, dan rasa percayanya pada Michael terbukti benar. Sampai saat ini, Michael berhasil melindungi adik-adiknya dari kebusukan seorang Seraphim.

Di tengah suasana haru itu, Lucifer menatap Michael dan Ramiel dengan sangat hangat. Hati lembut kecil Lucifer dan keluarga kecilnya. Tiba-tiba...

SROOOOT

"CAMAEL! JANGAN LAP INGUS PAKAI BAJU KAKAK!"

SROOOOT

"Cammy ih, jorok!" jerit Yofiel kaget, ia mundur beberapa langkah agar tidak menjadi korban ingus Camael. Wajah Lucifer kembali datar dan dingin seperti semula begitu Camael mengelap ingusnya.

"Astaga. Bocah ingusan, menggelikan," komentar Uriel, ikut menjauh.

"Hwa?" balas Camael menoleh, wajahnya kacau. Mata dan hidungnya merah, padahal nangisnya cuma berapa menit!

INFERNO: The Lost PrinceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang